Per September 2012, Laba Bersih WOM Finance Naik 62%

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 01 November 2022 - 11:40 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) atau WOM Finance menggelar Public Expose atau Paparan Publik tahun 2022 pada Senin (31/10/2022) sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada publik, termasuk para pemegang saham.

 

Dalam Public Expose yang digelar secara hybrid ini, yaitu melalui mekanisme daring dan fisik dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan, dimana seluruh peserta yang hadir diwajibkan untuk patuh pada penerapan 3M (mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak). Dalam kegiatan tersebut, WOM Finance memaparkan performa perusahaan sampai dengan Kuartal III-2022 dan rencana perusahaan ke depan.

 

Djaja Suryanto Sutandar, Presiden Direktur WOM Finance, mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat mengalami perlambatan selama pandemi yang telah berjalan kurang lebih dua tahun. Namun, Indonesia berhasil keluar dari keadaan tersebut dan mulai mengalami pertumbuhan. Pada masa pemulihan pasca pandemi, WOM Finance terus menunjukkan performa yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

 

“Segmen pembiayaan kendaraan bermotor, logam mulia (emas) dan pembiayaan multiguna WOM Finance berhasil tumbuh positif. Hal ini ditopang oleh model bisnis yang tepat dan kolaborasi dengan ekosistem digital. Penyaluran pembiayaan secara tepat merupakan cerminan dari keinginan kami untuk kembali pulih seperti sebelum masa pandemi,” ujar Djaja.

 

Direktur keuangan, Cincin Lisa Hadi menambahkan, sejalan dengan tahun pemulihan ekonomi, WOM Finance kembali melanjutkan pertumbuhan positif dan efisien yang terjaga dengan baik pada kuartal ketiga 2022. WOM Finance berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp3,3 triliun hingga kuartal ketiga 2022, meningkat 10% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3 triliun.

 

“Sementara itu, laba bersih WOM Finance pada triwulan ketiga 2022 meningkat 62% menjadi Rp123 miliar dibandingkan periode yang sama pada 2021 sebesar Rp76 Miliar,” papar Cincin.

 

Total Aset WOM Finance tercatat sebesar Rp 5,5 triliun, tumbuh 15% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp 4,8 triliun. Total Ekuitas mencapai Rp 1,4 triliun, meningkat 11% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,3 triliun.

 

Dari sisi Rasio, WOM Finance tetap menjaga risiko kredit yang rendah. Rasio kredit bermasalah (non-performing financing/NPF) gross membaik berada di level 1,7% dan NPF nett berada di level 0,7%. Sementara itu, Return on Assets (ROA) sebesar 4.3% dengan Return on Equity (ROE) 11.9%, masing-masing tumbuh positif 1,7% dan 3,9% dibandingkan September 2021.

 

Menurut Djaja, WOM Finance pada 2023 mendatang akan terus mengembangkan potensi bisnis, baik wilayah pembiayaan maupun kanal distribusi untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis melalui digitalisasi proses bisnis sehingga dapat meningkatkan produktivitas Perusahaan. Selain itu, perseroan juga akan mengoptimalisasi database atas existing customer Perusahaan dengan kategori excellent - good dan optimalisasi strategi penagihan yang mengutamakan penanganan early overdue.

 

“Kami juga akan terus melakukan perbaikan secara berkesinambungan terhadap proses inisiasi kredit dengan terus melakukan evaluasi kebijakan dan prosedur kredit,” tukas Djaja.

 

Djaja pun yakin bahwa bisnis pembiayaan pada 2023 akan semakin membaik, mengingat kondisi pemulihan perekonomian sudah menunjukkan tren positif. “Kami optimistis bahwa pertumbuhan industri pembiayaan pada tahun depan akan semakin membaik, terlebih bagi WOM Finance masih memiliki ruang untuk pertumbuhan usaha yang cukup besar,” imbuh Djaja.***

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →