Ditargetkan Rp2.180 per Unit, SGRO Direkomendasikan BELI

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 04 Juli 2017 - 10:48 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Muhamad Nafan Aji, analis Binaartha Parama Sekuritas, merekomendasikan BELI saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) setelah pergerakan harganya secara teknikal membentuk fase akumulasi dengan pola uptrend (tren kenaikan). Harga saham produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ini ditargetkan mencapai Rp2.180 per unit. Jika dibandingkan dengan penutupan harga pada perdagangan 3 Juli 2017 sebesar Rp1.995 per unit, maka kenaikan harga SGRO diperkirakan mencapai sekitar 9,27%.

Secara fundamental, demikian Aji, memang kinerja SGRO mulai membaik pada tahun ini. Itu terlihat dari kenaikan penjualan sepanjang Januari-Maret 2017 sebesar 43% menjadi Rp1,03 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2016 sekitar Rp720,28 miliar.

Menurut Aji, ada dua faktor yang mendorong kenaikan kinerja SGRO pada triwulan pertama tahun ini. Kedua faktor tersebut adalah kenaikan harga komoditas, khususnya CPO, bersamaan dengan penurunan tingkat persediaan CPO dunia. Disamping itu, faktor lainnya adalah kenaikan volume hasil panen tandan buah segar (tbs) perseroan seiring dengan berakhirnya dampak El Nino terhadap perkebunan sawit.

Sementara itu, Michael Kusuma, Investor Relations SGRO, mengungkapkan, produksi CPO perseroan pada tahun ini diperkirakan meningkat antara 20-30% dibandingkan dengan realisasi produksi pada 2016. Jika dibandingkan dengan realisasi pada 2016 sebanyak 297.687 ton CPO, maka volume produksi CPO perseroan tahun ini diprediksi bakal mencapai antara 357.224-386.993 ton.

“Tanaman sawit yang kami miliki saat ini rata-rata berusia 12-13 tahun. Mereka ini sudah memasuki masa produktif dimana puncak usai produktifnya yaitu sekitar 15 tahun. Sementara itu, puncak produksi tahun ini diperkirakan pada Oktober-November mendatang,” papar Michael di Jakarta, Selasa (04/07/2017).

Michael menjelaskan, sebagian besar tanaman sawit SGRO yang berusia 11 tahun atau baru memasuki masa-masa produktif akan dimasukkan ke dalam pengelolaan perkebunan inti perseroan. Itu dilakukan agar volume produksi SGRO akan meningkat setiap tahun hingga menjelang puncak usia produktif. Bila telah melewati usia 15 tahun, maka volume produksi tanaman sawit tersebut akan menurun.

“Jika mengamati usia rata-rata tanaman sawit perseroan, kami optimistis produksinya pada tahun ini akan meningkat dibandingkan tahun lalu. Apalagi efek El Nino juga akan berakhir sehingga akan mendorong peningkatan volume produksi pada tahun ini,” pungkas Michael. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →