Gaikindo Curhat ke Menperin Agus Soal Harga BBM Mahal Hingga Langkanya Chip Semikonduktor

Oleh : Ridwan | Minggu, 24 Juli 2022 - 15:00 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut industri otomotif Indonesia dihadapkan dua masalah yang bisa menghambat laju produksi, yakni krisis chip semikonduktor dan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terkerek naik bisa berimbas pada bahan baku.

Dua tangtangan tersebut disampaikan Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi saat bertemu dengan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, beberapa waktu lalu.

"Saya terus terang industri otomotif di Indonesia terpukul oleh dua hal utama. Pertama adalah kenaikan BBM luar biasa, karena adanya krisis bahan bakar, krisis pangan juga, semua naik, kemudian bahan baku juga naik cukup tinggi, besi dan segala macam. Yang kedua semikonduktor yang tidak dapat memenuhi kebutuhan supply-nya," kata Nagoi di Jakarta (23/7).

Menurutnya, kelangkaan semikonduktor menjadi biang keladi terhambatnya pertumbuhan industri kendaraan roda empat. Padahal, tahun ini Yohannes melihat anggotanya memiliki roda bisnis yang cukup cerah.

Oleh karena itu, Gaikindo akan fokus pada penyelesaian masalah tersebut. Yohannes menargetkan ketersediaan mikrocip bisa mengalir sebelum 2022 berakhir.

"Akhir Juni kita tutup penjualan kita [di semester I/2022] dengan angka 475.000 unit, tumbuh 20 persen dibandingkan tahun lalu. Ekspor kita juga cukup melejit,” jelasnya.

Gaikindo sudah menargetkan pabrikan otomotif Tanah Air bisa tembus 900 ribu unit hingga akhir tahun 2022. Adapun target tersebut sebenarnya sudah meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 750 ribu unit.

Nangoi optimistis target 900 ribu bisa tercapai, bahkan bisa lebih dari angka tersebut.

"Masih tetap patok 900 ribu, sampai bulan Juni penjualan sudah 475 ribu. Jadi masih 425 ribu to go. Kalau 425 ribu dibagi 6 bulan, kira-kira sebulan 70-an ribu. Kalau nanti naik ya bagus," tutupnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →