Wow Dahsyat! Kinerja Manufaktur RI Melaju Lebih Cepat

Oleh : Ridwan | Kamis, 05 Mei 2022 - 10:40 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami ekspansi pada laju yang lebih cepat. 

Tercatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia berada di 51,9 pada April 2022, atau mengalami kenaikan dibandingkan 51,3 pada Maret tahun ini.

Dilansir dari Markit Economics, Kamis, 5 Mei 2022, ini adalah peningkatan aktivitas pabrik selama delapan bulan berturut-turut dan laju tertajam sejak Januari, terangkat oleh perbaikan kondisi ekonomi menyusul penurunan kasus covid-19.

"Ekspansi sektor manufaktur Indonesia berlanjut pada April dengan kecepatan yang lebih kuat. Perbaikan kondisi ekonomi tercermin dari peningkatan permintaan dan produksi yang lebih kuat, yang merupakan pertanda positif," kata Economic Associate Director di S&P Global Jingyi Pan.

Pada April, produksi manufaktur naik lebih cepat, didorong oleh meningkatnya permintaan. Sementara peningkatan output yang merupakan tercepat dalam tiga bulan, didorong kenaikan permintaan baru sejak Maret. 

Secara global, permintaan luar negeri terus meningkat, meskipun ada tekanan akibat situasi di Ukraina.

Namun demikian, Pan menyebut masalah pasokan tetap ada dengan waktu tunggu yang lebih lama, bahkan ketika gangguan covid-19 telah mereda pada April. 

Ia juga mengingatkan tekanan harga yang memburuk bulan lalu dan dapat menekan produksi untuk bergerak maju.

"Pada saat yang sama, kepercayaan bisnis turun tajam selama April, dan perlu dipantau dampak tekanan inflasi yang lebih tinggi. Dengan demikian, peningkatan aktivitas pembelian dan, yang terpenting, ekspansi jumlah tenaga kerja yang solid terus mencerminkan beberapa kepercayaan dari perusahaan untuk jangka pendek," ujarnya.

Output tumbuh paling tinggi dalam tiga bulan selama bulan puasa Ramadan dan menjelang perayaan Idulfitri, dan pesanan baru meningkat. Penjualan ekspor juga naik dengan kuat, meskipun beberapa perusahaan melaporkan dampak perang di Ukraina.

Selain itu, pertumbuhan lapangan kerja mencapai rekor tertinggi, serta tingkat pembelian naik dengan beberapa perusahaan meningkatkan persediaan pra-produksi mereka untuk membangun persediaan. 

Sedangkan waktu pengiriman diperpanjang di tengah kekurangan pemasok dan penundaan transportasi.

Pada harga, inflasi harga input dan output meningkat karena tingkat inflasi juga termasuk yang tercepat dalam sejarah survei, pada biaya bahan baku dan bahan bakar yang lebih tinggi. Akhirnya, sentimen melemah ke level yang berada di bawah rata-rata seri.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →