Maret 2022, Neraca Perdagangan RI Suplus USD 4,53 Miliar, Tertinggi dalam 23 Bulan Terakhir

Oleh : Ridwan | Senin, 18 April 2022 - 13:37 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia kembali membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 4,53 miliar pada Maret 2022.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan capaian ini terjadi akibat nilai ekspor yang lebih besar dengan 26,50 miliar dolar AS dibandingkan dengan impor yang sebesar 21,97 miliar dolar AS.

“Ini merupakan surplus neraca perdagangan secara beruntun dalam 23 bulan terakhir,” ujarnya ketika memberikan keterangan kepada awak media melalui saluran virtual pada Senin (18/4).

Adapun secara year to date (ytd) atau Januari hingga Maret 2022, RI mencatatkan surplus 9,33 miliar dolar AS. Torehan ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,52 miliar dolar AS.

Lebih lanjut, Margo menjelaskan ekspor ditopang oleh beberapa sektor penting, diantaranya komoditas migas dengan 1,4 miliar dolar AS. 

Disusul komoditas pertanian sebesar 425,6 juta dolar AS, industri pengolahan 19,2 miliar dolar AS, serta tembaga dan barang lainnya 5,4 miliar dolar AS.

“Berdasarkan negara, kita paling banyak surplus dari Amerika, India, dan Filipina,” tuturnya.

Sementara itu, impor melonjak paling banyak berasal dari komoditas mesin dan perlengkapan elektronik serta bagiannya (HS 85) senilai 520 juta dolar AS. Diikuti oleh komoditas mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar 429,9 juta dolar AS dan komoditas besi dan baja (HS 72) dengan 393,9 juta dolar.

“Menurut asal negara, impor paling banyak dari Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang,” terang Kepala BPS.

Lalu, untuk penurunan impor paling besar terjadi di komoditas perkakas dari logam (HS 82) dengan minus 4,7 juta dolar AS, kayu dan barang dari kayu (HS 44) sebesar minus 1,8 juta dolar AS, serta komoditas serat tekstil nabati (HS 53) minus 1,6 juta dolar AS.

“Berdasarkan negaranya, impor yang turun paling besar berasal dari Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam,” tutup Margo.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →