Diperkuat Dua Pabrik Baru, CLEO Siap Terjun ke Bisnis Makanan Ringan

Oleh : Dhiyan H Wibowo | Rabu, 31 Mei 2017 - 20:30 WIB

Cleo Air Minum (Ist)
Cleo Air Minum (Ist)

INDUSTRY.co.id - Produsen air minum kemasan PT Sariguna Primatirta Tbk dengan produk bermerek CLEO akan mengerek volume produksinya di tahun depan dengan mengoperasikan dua pabrik barunya tahun ini. Perusahaan menangguk dana investasinya dari pasar modal untuk membiayai ekspansi pengadaan mesin produksi, plus dana internal perseroan.

Pada awal Mei 2017 lalu, tepatnya pada 5 Mei 2017 perseroan memang telah secara resmi tercatat sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia, setelah melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan sendiri merupakan perusahaan kelima yang melantai di bursa pada tahun ini.

Direktur Keuangan PT Sariguna Primatirta T bk Lukas Setio Wongso di Gedung BEI, awal Mei lalu kepada INDUSTRY.co.id mengemukakan, jumlah saham yang dilepas perusahaan berkode CLEO di lantai bursa tersebut kepada publik mencapai 450 juta saham. Dengan harga penawaran Rp 115 per saham, maka perusahaan yang berbasis di Surabaya ini bakal meraih dana segar dari lantai bursa sebesar Rp 51,7 miliar.

Dari dana IPO yang sebesar Rp 51,7 miliar tersebut, sekitar 95% akan dialokasikan untuk pengembangan usaha berupa pembangunan pabrik dan pengadaan sejumlah mesin baru. Sementara sisanya sebesar 5% akan dialokasikan untuk memperkuat modal kerja.

Sementara itu belanja modal (capital expenditure/capex) pada tahun 2017 dialokasikan sebesar Rp 140 miliar, yang sumber pembiayaannya akan berasal dari dana IPO dan kas internal. Selain menjual air minum dalam kemasan (AMDK), perseroan juga berencana memproduksi makanan ringan (snack) dan biskuit. "Produksi snack dilakukan melalui anak usaha di Cirebon, mesin sudah trial dan akan beroperasi Juni," kata Lukas. Produk makanan ringan dan biskuit ditargetkan akan menyumbang 10 hingga 20% terhadap penjualan perseroan.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PT Sariguna Primatirta Tbk, Belinda Natalisa mengemukakan optimismenya bahwa langkah IPO akan mampu memperbesar pangsa pasar yang dimiliki CLEO. "Dengan IPO (initial public offering/IPO), perseroan optimistis dapat meraih pangsa pasar yang lebih besar pada segmen air minum dalam kemasan (ADMK)," ujar Belinda.

Saat ini total kapasitas produksi pabrik perseroan sebesar 1,6 miliar liter. Dengan adanya dua pabrik baru yang akan beroperasi tahun ini, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas antara 5% sampai 10%. Dengan kapasitas produksi yang ada saat ini, pangsa pasar CLEO masih relatif kecil, yakni sebesar 3%-4%.

Terkait dua pabrik baru yang akan dioperasikan oleh CLEO, menurut Lukas satu pabrik berlokasi di Ungaran, Jawa Tengah akan mulai beroperasi pada Mei 2017, sementara satu lini produksi lagi akan beroperasi di Kendari, Sulawesi Tenggara pada Juni 2017.

Dua pabrik baru tersebut akan melengkapi 19 pabrik yang diperkuat oleh 48 jaringan distribusi yang tersebar di seluruh Indonesia. Adapun pabrik yang saat ini dioperasikan oleh perseroan di antaranya berlokasi di Pandaan Jawa Timur, Citeureup, Kudus, Jember, Makassar, Banjarmasin, Lombok, Bangkalan, Bekasi, Sumenep, Bojonegoro, Medan, Garut, Cirebon, Gunung Sindur, Megati, Malang, dan Purworejo.

Tahun ini, kata Lukas, Sariguna Primatirta menargetkan penjualan sebesar Rp 751 miliar, atau naik dari 2016 yang sebesar Rp 523 miliar. Sementara laba bersih ditargetkan sebesar Rp 47 miliar atau naik dari akhir 2016 yang sekitar Rp 39 miliar.

Terkait penawaran saham perseroan, Direktur PT Lautandhana Securindo selaku penjamin emisi Effendi A Irawan mengatakan, pada masa penawaran, saham Sariguna Primatirta mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebesar 2,95 kali dari seluruh saham yang ditawarkan.

Sengketa Merek

Pada tahun lalu, perseroan sempat punya sedikit cerita terkait perselisihan hak penggunaan nama merek CLEO. Seperti diberitakan, PT Sariguna Primatirta mengajukan gugatan penghapusan produk serupa dengan merek Cleopatent. Pihak perseroan menilai merek Cleopatent milik Indra Setiadi telah menimbulkan kerugian bagi perusahaan, pasalnya Indra tidak memakai merek Cleopatent dengan benar dalam memasarkan produk botol air minum namun menggunakan kata Cleo sebagai merek dagang. Perkara tersebut didaftarkan pada 20 Januari 2016, dan sidang perdana dilakukan pada 9 Februari 2016 lalu. Namun karena sidang perdana itu tidak dihadiri tergugat, majelis hakim menunda persidangan.

Dalam berkas gugatan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, disebutkan gugatan dilakukan karena Indra telah menggunakan merek tidak sesuai dengan yang didaftarkan di Ditjen Kekayaan Intelektual. Kuasa hukum PT Sariguna Primatirta Tbk, E L Sajogo dari kantor hukum Markus Sajogo & Associates menilai Indra tidak memakai merek Cleopatent dengan benar dalam memasarkan produk botol air minum. "Tetapi menggunakan kata Cleo sebagai merek dagang." Demikian ditulis dalam berkas tersebut.

Merek dagang Cleo juga dicetak timbul pada setiap badan botol produk milik Indra, dan botol minum tersebut di pasaran juga menggunakan sebutan botol Cleo. Hal itulah yang dinilai menimbulkan kerugian bagi PT Sariguna Primatirta.

Sejauh ini Sariguna memang telah mengklaim sebagai pemilik sah merek Cleo sejak 2002 untuk kelas 32, yakni untuk botol minuman maupun kemasan bentuk galon.Tak hanya di kelas 32, Cleo juga terdaftar di kelas 30 untuk jenis berbagai macam makanan dan bahan makanan atau minuman. Serta kelas 43 untuk jenis jasa perhotelan dan restoran. Merek Cleo milik Sariguna juga telah terdaftar di Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Untuk itu Sariguna meminta pembatalan merek Cleopatent dan melarang Indra menggunakan kata Cleo dalam produk botol minuman agar tidak menyesatkan konsumen. Tanpa larangan itu, konsumen akan mengira produk itu memiliki keterkaitan dengan milik Sariguna.

Kasus gugatan ini memang berakhir dengan kemenangan di pihak PT Sariguna Primatirta. Pada April tahun lalu Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah mengabulkan sebagian permohonan PT Sariguna Primatirta terkait gugatan penghapusan merek Cleopatent milik Indra Setiadi.

Ketua majelis hakim Sinung Hermawan mengatakan tergugat telah terbukti menggunakan merek yang tidak sesuai dengan merek yang didaftarkannya di Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (Ditjen KI). Dalam perkara No. 5/HKI/Merek/2016/PN.Jkt.Pst tesebut tergugat merupakan pemegang merek Cleopaten dengan No. IDM000238668. Merek yang didaftarkan pada 2 Maret 2010 tersebut mendapatkan perlindungan untuk klasifikasi kelas 21 dengan jenis barang botol minum. "Menyatakan hapus pendaftaran merek Cleopatent atas nama tergugat dengan segala akibat hukumnya," kata Sinung dalam amar putusan yang dibacakan, Selasa (5/4/2016).

Tergugat dalam memasarkan produknya, botol air minum dengan berbagai ukuran, tidak menggunakan merek Cleopatent, tetapi Cleo. Merek dagang tersebut juga telah dicetak timbul (emboss) pada setiap botol milik tergugat. Bahkan botol minum tersebut menggunakan sebutan botol Cleo dan penyebutan lainnya dengan menggunakan kata cleo di pasar. Atas fakta tersebut tergugat tidak menggunakan merek Cleopaten yang telah didaftarkan di Ditjen KI.

Berdasarkan Pasal 61 ayat 2b Undang-undang 15/2001 tentang Merek, penghapusan pendaftaran merek dapat dilakukan jika merek yang digunakan untuk barang dan/atau jasa tidak sesuai dengan jenis yang dimohonkan pendaftaran, termasuk pemakaian merek yang tidak sesuai dengan yang didaftar.

Sinung berpendapat tindakan tersebut telah menimbulkan kerugian bagi penggugat dan berisiko menyesatkan konsumen. Menurutnya, konsumen akan mengira produk tergugat memiliki keterkaitan dengan milik penggugat.

Dia juga memerintahkan Direktorat Merek selaku turut tergugat untuk menaati putusan tersebut dan melaksanakan penghapusan merek Cleopatent dari daftar umum merek. Selain itu, sertifikat merek milik tergugat dinyatakan sudah tidak berlaku lagi.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST (Foto Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 18:42 WIB

Penjualan Tanah Bekasi Fajar Industrial Estate Telah Lampaui Target 2017

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), perusahaan pengelola kawasan industri MM2100, hingga akhir November 2017 telah menjual lahan seluas 42 hektar. Padahal target penjualan tanah 2017…

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Sekjen Kemenperin Haris Munandar

Jumat, 24 November 2017 - 18:09 WIB

2018, Pertumbuhan Manufaktur Masih Ditopang Sektor Konsumsi

Industri makanan dan minuman diproyeksi masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional pada tahun depan. Peran penting sektor strategis ini terlihat…

Menuju Holding BUMN Industri Pertambangan

Jumat, 24 November 2017 - 18:00 WIB

Holding Tambang akan Resmi Efektif Akhir November

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan Holding BUMN Tambang akan resmi efektif mulai akhir November 2017.

PT Vivo Energy Indonesia (Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 17:30 WIB

Vivo Energy Indonesia Akan Bangun 3 Kilang Minyak di Indonesia

PT Vivo Energy Indonesia semakin serius menggarap bisnis hilir migas dengan membangun sebanyak 3 kilang minyak di Indonesia mulai tahun depan.

Kikan Terlibat Drama Musikal Kolosal Tekad Indonesia Jaya,

Jumat, 24 November 2017 - 17:16 WIB

Demi Perannya di Drama Kolosal Kikan Ingin Dibenci Setengah Mati

Demi Penghayatan perannya dalam Drama Kolosal yang bertajuk Tekad Indonesia Jaya yang akan dipentaskan di The Kasablanka Hall Kuningan Jakarta Selatan, Sabtu 25 November 2017 pukul 20.00 WIB,…