Menengok Bosowa, Industri Semen Besar dari Timur Indonesia

Oleh : Dhiyan H Wibowo | Sabtu, 27 Mei 2017 - 08:53 WIB

Ilustrasi pabrik Semen Bosowa. (Foto: IST)
Ilustrasi pabrik Semen Bosowa. (Foto: IST)

INDUSTRY.co.id - Berbicara soal industri semen di dalam negeri, nama grup usaha yang satu ini boleh jadi termasuk yang memiliki 'brand awareness' yang cukup kuat di pasar, khususnya di pasar Indonesia Timur.

Semen Bosowa, yang merupakan bisnis utama dari Bosowa Group pada tahun lalu telah mengumumkan adanya tambahan kapasitas produksi sebesar 3,5 juta ton semen. Peningkatan kapasitas produksi ini dimungkinkan setelah beroperasinya pabrik semen baru di Banyuwangi yang menelan investasi hingga US$ 110 juta.

Dengan kapasitas produksi semen yang mencapai 7.2 juta ton per tahun, Grup Bosowa Semen merupakan grup semen terbesar keempat di Indonesia dan merupakan perusahaan semen swasta nasional yang cukup prominen di Indonesia.

Sebelumnya, Bosowa Corporation melalui anak usahanya PT Semen Bosowa Maros telah berhasil menyelesaikan pembangunan pabrik penggilingan semen (cement mill) atau line II berkapasitas 1,8 juta ton per tahun di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Proyek ini menelan investasi Rp 1,1 triliun. Dengan demikian, kapasitas produksi Semen Bosowa Maros bertambah menjadi 4, 2 juta ton per tahun.

Pabrik yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ini merupakan pabrik utama Bosowa Semen. Pabrik ini merupakan pabrik semen terintegrasi dan berada di lokasi tempat penambangan batu kapur yang merupakan bahan baku utama pembuatan semen sehingga memudahkan pengambilan bahan baku. Pabrik Maros juga memproduksi clinker sendiri dengan kapasitas 4 juta ton per tahun.

Selain di Maros, basis produksi semen Bosowa juga telah eksis di di Batam, Kepulauan Riau. Pabrik ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Indonesia bagian Barat dengan kapasitas produksi semen 1.2 juta ton per tahun.

Sementara Pabrik Semen Bosowa yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur ditujukan bagi konsumen di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan kapasitas produksi semen 1.8 juta ton per tahun.
Untuk mendukung produksi semennya, Bosowa juga memperkuat jaringan distribusinya melalui sejumlah pabrik pengepakan di luar Jawa.

Perusahaan telah mengoperasikan packing plant berkapasitas 500.000 ton per tahun di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Pabrik pengepakan semen ini merupakan yang keenam setelah di Banyuwangi (Jawa Timur), Ciwandan (Banten), Samarinda (Kaltim), Kendari (Sultra), dan Balikpapan (Kaltim). Investasi untuk setiap pabrik pengepakan diperkirakan US$10 juta.

Dan bicara soal pengelolaan lingkungan perusahaan, untuk kelima kalinya Semen Bosowa berhasil meraih predikat Proper Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup RI periode 2015-2016. Penghargaan tersebut adalah penilaian kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan yang menggunakan indikator terukur.

Hal itu diterapkan Kementerian Lingkungan Hidup guna meningkatkan peran perusahaan dalam melakukan pengelolaan lingkungan sekaligus menimbulkan efek stimulan dalam pemenuhan peraturan lingkungan. Dengan penilaian pemeliharaan sumber daya alam, konservasi energi dan pengembangan masyarakat.
Grup perusahaan semen Bosowa kini terbagi dalam dua perusahaan yang mengelola bisnis semen secara full integrated dan semi integrated. Pertama adalah PT Semen Bosowa Maros dan yang kedua ialah PT Semen Bosowa Indonesia.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Presiden Jokowi (Dok Industry.co.id)

Selasa, 19 Maret 2019 - 08:00 WIB

Presiden Jokowi akan Hadri Seminar Revolusi Industri 4.0 di Surabaya

Presiden Jokowi jadi pembicara kunci seminar berjudul "Revolusi Industri 4.0 Meningkatkan Daya Saing, Menjadi Bangsa Pemenang" bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beserta Gubernur Jawa…

Petani sedang membajak lahan persawahan

Selasa, 19 Maret 2019 - 08:00 WIB

Pendekatan E Commerce, Penjualan Pertanian Lebih Cepat

Sentul - Riyanto, Ekonom Universitas Indonesia, menuturkan implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian sangat bermanfaat bagi konsumen dan petani untuk mendekatkan distribusi.

Beras (Foto/Rizki Meirino)

Selasa, 19 Maret 2019 - 07:54 WIB

Stop Impor Pangan Harga Beli Petani Tidak Jatuh

Sentul - Impor pangan memang seharusnya terus dikurangi terutama masa panen. Jika tanpa impor saat itu, petani bisa menikmati untung hasil jerih payahnya.

Petani desa di tengah sawah (Foto: Dok Industry.co.id)

Selasa, 19 Maret 2019 - 07:44 WIB

Kementerian Pertanian Dorong Generasi Milenial Masuk Industri Pertanian 4.0

Sentul - Kementerian Pertanian (Kementan) RI siap memasuki revolusi industri 4.0 dalam rangka mendorong modernisasi pertanian dan generasi milenial di sektor pertanian. Berbagai kebijakan yang…

Jalan Tol (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 19 Maret 2019 - 07:00 WIB

Di Tengah Masa Ekspansi, Jasa Marga Berhasil Pertahankan Laba Bersih

Pada tahun 2018 Jasa Marga berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp. 2,20 Triliun, tetap stabil di tengah ekspansi bisnis jalan tol. Hal ini juga didukung oleh keberhasilan Perseroan dalam…