PT Apac Inti Corpora Optimis Industri Tekstil Indonesia Kuasai Pasar Asia Tenggara

Oleh : Dhiyan H Wibowo | Kamis, 25 Mei 2017 - 14:03 WIB

Benny Sutrisno APAC - Images APAC Inti Corpora
Benny Sutrisno APAC - Images APAC Inti Corpora

INDUSTRY.co.id - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih lesu pada 2017, karena belum ada sentimen positif yang bisa mengangkat pertumbuhan Industri padat karya ini. Meski demikian, diyakini peluang tetap akan ada. Hanya saja, keyakinan tersebut tak boleh disertai dengan sikap optimistis yang berlebihan.

Saya kira 2017 tetap punya prospek yang baik secara umum asal kita tidak over optimistic untuk menyiapkan target, rencana kerja, kata Presiden Direktur PT Apac Inti Corpora Benny Soetrisno dalam bincang-bincang dengan redaksi INDUSTRY.co.id.

Ia menjelaskan, para pelaku industri tekstil sangat mengandalkan proyek Pemerintah. Tahun ini diharapkan banyak proyek Pemerintah yang berjalan sehingga membawa optimisme. Proyek itu diharapkan mampu menyentuh kalangan bawah sehingga perekonomian berputar. Tapi, kapan ini akan terwujud kami belum tahu, ungkap dia.

Adanya kebijakan paket ekonomi yang dikeluarkan juga belum terasa imbasnya. Namun, langkah Pemerintah untuk menutup keran impor cukup membantu karena mampu mengurangi impor ilegal. Tak hanya itu, menurutnya diskon tarif listrik dan penurunan biaya energi bagi Industri TPT masih belum jelas penghitungannya.

Ini membuat dunia usaha juga tidak berani memasang target tinggi. Misalnya diskon listrik sampai malam hari ternyata hanya berlaku untuk kelebihan pemakaian, bukan konsumsi kami. Kita tunggu dukungan Pemerintah untuk menyokong daya beli lokal, jelas dia.

Terkait daya saing, dikatakanBenny , saat ini yang menjadi pesaing berat Indonesia untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa adalah Vietnam.Biaya produksi Industri tekstil di Vietnam tidak terlalu tinggi karena upah tenaga kerja yang lebih murah. Alhasil, berbeda dengan Indonesia, kinerja ekspor Vietnam naik 11 persen pada tahun lalu. Sementara itu, industri TPT diIndonesia masih menghadapi masalah peningkatan upah buruh dan bahan baku yang semakin mahal lantaran dampak pelemahan mata uang rupiah.

Persaingan Indonesia dengan Vietnampun dianggap makin berat karena Vietnam sudah menyelesaikan negosiasi untuk perdagangan bebas dalam free trade agreement (FTA) dengan Uni Eropa. Sedangkan Indonesia diharapkan mampu bergabung dengan TPP dalam dua tahun mendatang.

Benny menjelaskan, dengan total populasi Asia Tenggara sekitar 600 juta jiwa, dan di Indonesia ada 250 juta jiwa ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk kuasai pasar tekstil di Asia Tenggara. Kalau tidak mampu bersaing, kita hanya jadi pasar bagi komunitas ASEAN tersebut, paparnya.

Membaca Tren Pasar

Kalangan Industri diharapkan tetap berupaya meningkatkan kualitas, juga dituntut untuk melakukan pengembangan desain serta mampu membaca trend pasar baik ekspor maupun domestik, menyusul perlambatan ekonomi yang hingga kini masih terus berlanjut.

Menurutnya, produsen tekstil kini semakin sulit berkembang dan tidak akan mampu bertahan jika tidak menerapkan terobosan baru, mengingat persaingan makin terbuka dengan dibukanya pasar bebas.

Sebab itu, PT Apac Inti Corpora, terus melakukan pengembangan salah satunya ialah produk dengan sebutan sarung denim sebagai terobosan perusahaan untuk meningkatkan penjualan dan menjaring konsumen baru di tengah kelesuan ekonomi domestik dan dampak menurunnya permintaan pasar ekspor di tingkat global.

Menurutnya, produksi sarung denim hanya dibatasi dengan volume kapasitas 1.000 yard hingga 2.000 yard, mengingat produk tersebut masih dalam tahap penjajakan pasar. Kami sebenarnya mampu memproduksi sarung denim dengan volume tak terhingga, tapi lihat pasar seperti apa dulu, ujarnya

Apac Inti selama ini fokus menggarap industri utama tekstil bahan baku garmen dan denim, gray dan serta jenis benang. Menurutnya, jenis benang (cotton) dan denim hingga saat ini masih memberikan kontribusi terbesar dibanding jenis lain yang di produksi Apac Inti baik untuk perolehan penjualan ekspor maupun pasar dalam negeri.

Sekilas Profil Perusahaan

PT Apac Inti Corpora merupakan produsen yarn dan tekstil yang bergerak dalam permintalan benang dan pertenunan kain. Apac memiliki pabrik tekstil terbesar di dunia yang berada dalam satu lokasi seluar 247 ha di Semarang, Jawa Tengah. Apac mengoperasikan 14 unit parbiknya dengan jumlah karyawan mencapai 9.000 orang.

Fasilitas yang tersedia merupakan infrastruktur terbesar, terintegrasi serta dilengkapi dengan mesin pertenunan dan pemintalan dengan teknologi modern.

Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi Yarn 480,000 bales (1Bale = 181,44 kg) per tahun. Selain itu, Apac juga memproduksi Kain Grey 80,000,000 meter, kain Finished 6,000,000 meter, kain Denim 60,000,000 yard per tahun.

Apac memasarkan produknya dengan merk APACINTI, hasil produksinya berupa Yarn, kain Greige, kain Finished dan Denim. Apac telah mengekspor produknya ke 70 negara yaitu skitar 70% ke pasar Amerika Utara & Selatan, Eropa, Asia, Afrika dan Australia dan sisanya 30% untuk pasar domestik. Nilai ekspor rata-rata USD 238 juta per tahun.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Bank BTN Dukung Penguatan Usaha Kecil Menengah (Foto Rizki Meirino)

Minggu, 19 November 2017 - 16:00 WIB

Masuk Daftar MSCI, Saham BBTN Bakal Banyak Peminat

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menilai masuknya saham perseroan ke dalam Morgan Stanley Capital International (MSCI) Global Standard Index merupakan kepercayaan yang harus dijaga dengan meningkatkan…

PT Pertamina Lubricants (Foto Ist)

Minggu, 19 November 2017 - 15:59 WIB

Pertamina Lubricants Meraih Platinum SNI Award 2017

Perseroan Terbatas Pertamina Lubricants berhasil meraih Platinum SNI Award 2017 untuk kategori Perusahaan Besar Barang Sektor Kimia dan Serba Aneka dari Badan Standardisasi Nasional.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

Minggu, 19 November 2017 - 15:51 WIB

Produksi Migas MEDCO Naik

Produksi minyak dan gas bumi PT Medco E&P Indonesia dan Medco E&P Natuna Ltd naik pada semester pertama 2017 dibanding periode sama tahun sebelumnya yang antara lain disebabkan adanya pengambilalihan…

Listrik Ilustrasi

Minggu, 19 November 2017 - 15:47 WIB

YLKI: Konsumsi Listrik Indonesia Masih Rendah

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan konsumsi listrik Indonesia masih rendah sehingga penghapusan tarif listrik kelas daya terendah tidak tepat…

Teguh Santosa Ketua Umum SMSI (Foto Ist)

Minggu, 19 November 2017 - 15:33 WIB

PWI Fasilitasi UKW untuk Wartawan Perusahaan Media Siber Anggota SMSI

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memberi kesempatan kepada wartawan yang bekerja di perusahaan media siber anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan…