Peluang dan Tantangan Industri Keramik Nasional

Oleh : Robert Barus | Rabu, 03 Mei 2017 - 14:27 WIB

Ilustrasi Keramik (ist)
Ilustrasi Keramik (ist)

INDUSTRY.co.idBerdasarkan catatan Asaki, sudah ada enam pabrik keramik berhenti berproduksi. Penyebabnya adalah kalah bersaing dengan harga keramik dan granit impor dari Tiongkok. Faktor lainnya adalah harga gas industri yang tak kunjung turun.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan, kapasitas produksi terpasang ubin keramik nasional tahun 2016 sebesar 580 juta meterpersegi dengan realisasi mencapai 350 juta meterpersegi.

“Utilisasinya sekarang 65 persen, jadi harus ditingkatkan lagi. Kalau sudah mampu produksi 100 persen, kita bisa menjadi produsen keramik nomor empat di dunia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Pameran Keramika 2017 di Jakarta, pertengahan April lalu.

Menurutnya, dengan jumlah kapasitas produksi saat ini, sekitar 87 persen untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, dan sisanya diekspor kenegara-negara di kawasan Asia, Eropa dan Amerika. Sementara itu, produksi untuk jenis tableware mencapai 290 juta keping, sanitari sekitar 5,4 juta keping, dan genteng (rooftile) sebanyak 120 juta keping.

Prospek industri keramik nasional juga, kata Menperin Airlangga,  dapat dilihat dari pemakaian konsumsi keramik di Indonesia yang masih lebih rendah dibandingkan di negara ASEAN lainnya. Airlangga meminta  produsen keramik melakukan diversifikasi produk dengan berbagai desain serta menggunakan motif khas Indonesia untuk meningkatkan permintaan dari konsumen.

Dia melihat, industri keramik nasional masih cukup prospektif dalam jangka panjang seiring dengan pertumbuhan pasar domestik yang terus meningkat.

Peluang pengembangan sektor ini didukung pula adanya program pemerintah dalam meningkatkan infrastruktur serta pembangunan properti dan perumahan, yang diharapkan akan menggenjot konsumsi keramik nasional.

Apalagi kata Airlangga, industri keramik menjadi salah satu sektor unggulan karena ditopang oleh ketersediaan bahan baku berupa sumber daya alam yang tersebar di wilayah Indonesia.

Menurut Airlangga, hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah industri keramik perlu melakukan pembaruan sarana dan prasarana penunjang produksi. "Misalnya, memodernisasi pabrik dengan teknologi digital printing serta menggunakan peralatan yang mampu memproduksi keramik dengan ukuran besar sesuai tren pasar luar negeri dan domestik," imbuhnya.

Menperin meyakini, industri keramik Indonesia mampu berkompetisi di era perdagangan bebas dan berekspansi ke mancanegara. “Langkah strategis yang harus dijalankan, antara lain penguatan struktur industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), inovasi teknologi melalui research and development, serta pembangunan infrastruktur," paparnya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus memacu kinerja industri keramik dalam negeri melalui pemberian berbagai insentif serta mengusulkan sebagai sektor yang harus mendapatkan harga gas kompetitif.

“Industri ini membutuhan gas sebagai sumber energi yang tidak tergantikan dan tidak boleh terhenti selama 15 tahun dengan proporsi mencapai 20-26 persen dari struktur biaya produksi,” ungkap Airlangga.

Apalagi, menurutnya, industri keramik merupakan salah satu kelompok manufaktur yang menjadi penggerak pertumbuhan industri nasional selama 25 tahun terakhir.

Sektor yang diandalkan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan industri tahun ini yang ditargetkan bisa melampaui lima persen sehingga menambah sumbangan pada perekonomian nasional.

Potensi industri keramik nasional juga ditopang dengan SDM yang kompeten, di mana jumlah serapan tenaga kerja di sektor padat karya ini sebanyak 100 ribu orang. Untuk memenuhi kebutuhan SDM yang sesuai permintaan dunia kerja, Kemenperin telah mengembangkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

“Kami harapkan industri bekerja sama dengan SMK untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan terdidik, sehingga dapat langsung bekerja di industri,” tegas Airlangga.

Langkah ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK untuk Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia.

“Kami akan memfasilitasi kerja sama dengan Italia untuk vocational training di bidang pelatihan dan pengembangan desain keramik,” tambahnya.

Tantangan Keramik Nasional

Berdasarkan catatan Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), sudah ada enam pabrik keramik berhenti berproduksi. Penyebabnya adalah kalah bersaing dengan harga keramik dan granit impor dari Tiongkok. Faktor lainnya adalah harga gas industri yang tak kunjung turun.

Industri keramik nasional saat ini semakin tertekan dengan maraknya produk keramik impor. Impor keramik di Indonesia saat ini di atas 27 persen per tahun, dan impor keramik di Indonesia didominasi dari Tiongkok.

Ketua Dewan Penasihat ASAKI, Hendrata Atmoko di Jakarta Maret lalu mengatakan, berhentinya enam pabrik keramik tersebut tentu berdampak buruk bagi ekonomi dalam negeri. Saat ini banyak terjadi PHK (pemutusan hubungan kerja) sehingga penyerapan tenaga kerja berkurang. Selain ada enam pabrik yang berhenti beroperasi, setengah dari industri keramik lokal mengurangi produksi mereka.

Asaki tengah meminta pemerintah membatasi pelabuhan untuk impor keramik dengan hanya dua pelabuhan, yakni di Dumai (Kepulauan Riau) dan Bitung (Sulawesi Utara). Dua pelabuhan tersebut sengaja dipilih lantaran berada di luar Jawa, sedangkan mayoritas pabrik dan pasar keramik berada di Jawa.

Asaki meminta kepada pemerintah menurunkan harga gas untuk industri keramik yang sudah dijanjikan sejak Oktober 2015.

"Saat ini, industri keramik masih harus membayar harga gas senilai US$ 9,1 per mmbtu. Padahal, pemerintah telah menjanjikan per 1 Januari 2017 harga gas turun menjadi USD 6 per mmbtu," terang Hendra.

Tahun 2018 menjadi peringatan bagi industri keramik Indonesia, pasalnya biaya masuk impor keramik China yang dikenakan 20 persen saat ini, di tahun 2018 biaya masuk impor dari China akan menjadi 0 persen.  Mirisnya, lanjut Hendra, pada kondisi biaya masuk 20 persen saja industri keramik nasional sudah sangat terganggu, apalagi kalau menjadi 0 persen.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

JNE. (Foto: IST)

Rabu, 20 Maret 2019 - 11:54 WIB

Mulai Besok Tarif Kiriman Paket JNE Naik 19 Persen

Perusahaan jasa kiriman ekspres JNE kembali melakukan penyesuaian tarif jasa kiriman paket ke konsumen. Penyesuaian itu berupa kenaikan tarif maupun penurunan tarif dan berlaku mulai 21 Maret…

Nokia 3.1 Plus Resmi meluncur di Indonesia (Hariyanto/INDUSTRY.co.id)

Rabu, 20 Maret 2019 - 11:32 WIB

Nokia 3.1 Plus Resmi Hadir Untuk Pasar Indonesia, Apa Saja Kelebihanya?

HMD Global, the home of Nokia phones, mengumumkan kehadiran Nokia 3.1 Plus di Indonesia, smartphone dengan layar 6-inchi HD+ dan daya tahan baterai selama 2 hari.

Panen jagung

Rabu, 20 Maret 2019 - 11:31 WIB

Kementan Perkuat Koordinasi Untuk Mendukung Usaha Perunggasan Nasional Yang Sehat

Jakarta, Kementan terus memperkuat koordinasi untuk mendukung usaha perunggasan nasional yang sehat. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di…

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono

Rabu, 20 Maret 2019 - 11:10 WIB

Peringati Hari Air Dunia, Menteri Basuki Ajak Generasi Milenial Jaga Lingkungan dan Air

Hari Air Dunia (HAD) diperingati setiap tanggal 22 Maret, pada tahun 2019 mengangkat tema internasional “Leaving No One Behind” yang diadaptasi dalam tema Indonesia “Semua Harus Mendapatkan…

Direktur Utama BGR Logistics, M. Kuncoro Wibowo, memberikan plakat kepada Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam acara Customer Gathering BGR Logistics

Rabu, 20 Maret 2019 - 11:02 WIB

Jelang Hari Jadi ke-42, BGR Logistics Berikan Apresiasi Bagi Pelanggan Setia

Apresiasi tersebut sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas kepercayaan pelanggan dalam menggunakan jasa logistik milik BGR Logistics.