Validitas Women in Leadership

Oleh : Bintang Handayani | Minggu, 23 April 2017 - 14:51 WIB

Bintang Handayani. (Foto: IST)
Bintang Handayani. (Foto: IST)

INDUSTRY.co.id - Beberapa hari yang lalu saya menghadiri seminar “Women in Leadership”. Isu klasik nan seksi”, sering melekat dengan paradigma kritis dan perspektif post-modernisme. Baiklah, mari memulai. Sebagai panduan orkestra agumen yang ingin saya bagi dengan anda, Women in Leadership saya terjemahkan sebagai penyertaan Perempuan dalam lingkungan kerja (at work), ataupun penyertaan Perempuan dalam bidang domestifikasi (at home).         

Tidak mengejutkan namun menarik, dalam diskusi diikakatakan evolusi kajian Women dan Leadership banyak dieksplorasi (dikonstruksi) dari perspektif laki-laki, perspektif pengakuan berlebih atas nilai “benda” (things are matter), dan perspektif “great man theory”. 

Dalam hal ini, walaupun kebanyakan jumlah manusia yang bersekolah  saat ini adalah kaum perempuan, yang mana mengindikasikan bahwa sekolah adalah institusi yang femisnist;dan jika (boleh) ditengok dari perspektif kritis,

Sekolah sebagai “industri” menunjukkan bahwa perempuan adalah kaum mayoritas baik itu sebagai tenaga pengajar dan elemen pendukung kegiatan proses belajar maupun sebagai objek dari proses pemanusiaan manusia, yaitu platform halus dari sekolah dan pendidikan.

Selain itu, dikatakan bahwa current state of Women in Leadership adalah untuk membentuk penyertaan perempuan dalam kepemimpinan. Untuk itu, penyertaan perempuan dalam kepemimpinan yang paling baik adalah dengan menerapkan relational approach.

Relational approach dalam perspektif leadership berprinsip bahwa proses sosial terjadi pada/dan melalui interaksi manusia. Relational approach ini diasumsikan akan dapat mengurangi pendekatan populer yang mem-framing perempuan dalam paradigma terkini.

Paradigma ini menyarankan untuk membentuk penyertaan perempuan dalam Kepemimpinan, organisasi dapat mengirimkan perempuan ke dalam program training. Dengan training, konsepsi “ketidaksetaraan” perempuan dalam organisasi kerja dan di bidang domistifikasi dapat diperbaiki.

Dalam konteks Indonesia, paradigma perempuan dalam kepemimpinan sebenarnya sangat terkait dengan konteks budaya dalam sistem tata nilai yang berbaur juga dengan perspektif keyakinan (religiusitas) serta adopsi Teknologi dalam kehidupan bermasyarakat.

Representasi yang cantik dari framing peranan perempuan dalam konteks Indonesia dapat digambarkan dari beberapa budaya; contoh nya budaya Aceh dan budaya Batak yang menempatkan patrinikal, budaya Minang (Padang) yang matrinikal, dan kebanyakan anggota masyarakat dari beberapa budaya di Indonesia yang membaurkan aspek religiusitas dengan budaya menempatkan equalitas.  

Dikatakan, perempuan Indonesia dengan cerdasnya (bijaksana & bijak-sini) memahami kondisi dilematis sehingga respon laten subversive mereka tidak terasa. Dikatakan bahwa perempuan di dalam konteks kepemimpinan dibudaya Indonesia sangat subversive, yang mana mereka lakukan dengan merespon dominasi pasangan interaksi komunikasi dengan menunjukkan bahwa mereka senang hati dengan dominasi, contohnya di dalam konteks domestifikasi.

Tiada yang lebih kuat dari kaum yang tahu bagaimana kaum lainnya  berkecenderungan dan menggunakan informasi tersebut untuk kelanggengan hubungan baik dan pertahanan “hubungan” interaksi dan komunikasi.

Dengan konteks bauran budaya, sistem nilai-nilai, dan apa yang lebih dengan tambahan pemahaman kepesatan perkembangan Teknologi, Perempuan Indonesia ternyata lebih dahulu mengetahui paradigma relational interaction yang dapat mengakselerasi bukan hanya hubungan interaksi dan komunikasi, namun juga perempuan Indonesia ternyata dapat menarik garis tipis yang mana secara sederhana dan halus menerapkannya; sejalan dengan itu, mereka menajamkan informasi dengan strategi subversive.

Namun demikian, pertanyaan mendasar dari diskursus ini adalah bagaimana Relational Approach yang melahirkan teori relational interaction ini dapat mengubah framing “Women in Leadership”?

Diargumentasikan bahwa Relational Approach dalam konteks “Women in Leadership” melekat dengan aspek-aspek lokalitas, historikal, dan aspek cultural. Untuk menelaah ini, maka, kepemimpinan (leadership) dipandang sebagai kondisi sekarang (now) dan disini (here).

Sementara itu, lokalitas, historikal, dan aspek cultural diterjemahkan sebagai pengikutsertaan cerita-cerita (stories) kepemimpinan (yang melekat dengan aspek kekuasaan (power) dan gender, dan otoritas (authority).

Aspek-aspek tersebut pada dasarnya bertujuan sebagai pemberian validasi, serta berfokus dan melekat dengan aspek faming atas nilai-nilai yang pada akhirnya menjadi akar dari perspektif siapa dan bagaimana deskripsi kepemimpinan. Untuk menjawab “bagaimana Relational Approach yang melahirkan teori relational interaction ini dapat mengubah framing “Women in Leadership”?”, kajian literatur menyarankan bahwa isi penceritaan (stories) aspek-aspek lokalitas, historikal, dan kultural untuk perempuan Indonesia sepatutnya didasarkan pada aspek “praktek hubungan” yang menata sistem nilai-nilai menjadi tervalidasi. Dalam hal ini penerapan dapat dimulai dari institusi terkecil seperti peng-konstruksi-an “praktek hubungan”  dalam interaksi dan komunikasi di rumah dan di sekolah.

Konstruksi “praktek hubungan” dalam interaksi dan komunikasi dapat terbagi menjadi hal-hal yang (patut) dibagi dalam ranah komunikasi terbuka dan interaksi dua arah (two ways communication).

Dengan kata lain,  konstruksi ini memerlukan “praktek hubungan”  yang konstruktif, yang dapat diterjemahkan sebagai: (1) relational leadership, melekat dengan konsepsi “relational work”, yang dalam hal ini bertujuan untuk menempatkan penyertaan Perempuan dalam organisasi kerja secara khusus, ataupun penyertaan perempuan dalam bidang domestifikasi;

(2) karena konsepsi “relational work” biasanya melekat dengan feminitas, maka “praktek hubungan” dalam perspektif relational interaction mesti berfokus pada penyetaraan nilai atas kerja;

(3) karena konsepsi penyetaraan nilai atas kerja, yang mana dalam kajian ranah ilmu lain mengindikasikan linieritas atas konsepsi penyetaraan nilai dan prinsip “adil”, maka adil disini dikaitkan dengan hakekat gender.

Contohnya atribut dan level bawaan lahiriah, sepatu laki-laki mesti berbeda dengan sepatu perempuan; (3) karena perspektif “praktek hubungan” (relational practice) dikonsepsikan sebagai hal yang kurang dikenali sebagai bagian dari “Leadership”, maka “praktek hubungan” sepatutnya dikonstruksi kedalam relational interaction (interaksi relasional).  

Interaksi relasional sebenarnya bukan hal baru dari kehidupan manusia secara umum, dan dalam kehidupan Indonesia secara khusus, terlebih dalam kajian ilmu komunikasi.

Aspek-aspek lokalitas, historikal, dan aspek kultural juga telah menjadi bauran klasik dalam konteks kepemimpinan dan penyertaan perempuan dalam organisasi kerja maupun dalam bidang bidang domestifikasi.

Tidak kalah benar, sejalan dengan konstruksi marjinalisasi perempuan dan penyertaan didalam bidang organisasi kerja, perempuan Indonesia juga telah secara “halus” menaklukkan marjinalisasi dan konsepsi klasik gender gap dengan strategi subversif. Untuk itu, dengan tidak mengklaim kebenaran hakiki, “Women in Leadership” sepatutnya dipandang sebagai penyertaan bukan hanya untuk pihak perempuan di dalam konteks lingkungan kerja dan didalam bidang domestifikasi tetapi juga pemboleh-ubah penyertaan peranan-peranan yang setara sebagai basis semua aspek interaksi sosial secara umum dan “praktek hubungan” secara khusus.

Selanjutnya, padangan konstruksi marjinalisasi dan konsepsi klasik gender gap sepatutnya tidak dipersepsikan sebagai hal-hal yang dikaitkan pada negativitas, karena sifat inheren negativitas bukan hanya akan membentuk gap yang semakin melebar, namun juga akan menyumbat relational approach yang melahirkan relational interaction dan relational practice. 

Pemboleh-ubah penyertaan peranan-peranan yang setara berbasis “praktek hubungan” ini contohnya adalah konstruksi bentuk komunikasi antar pribadi dan interaksi yang dua arah.

Secara teori, komunikasi antar pribadi dan interaksi yang dua arah bukan hanya bertujuan untuk berbagi informasi tetapi yang terpenting adalah untuk pembentukan hubungan antar pribadi.

Hubungan antar pribadi dalam hal ini merupakan hubungan yang berlandaskan kesetaraan, akselerasi sifat simpati menjadi empati, dan rasa hormat sebagai basis. Oleh sebab itu, soalan reflekfit yang patut dicermati kemudian adalah: adakah diskursus “Women in Leadership”, yang mungkin kebetulan dalam konteks abad ini berfokus pada Perempuan, sebenarnya berakar dari keperluan validitas individu secara alamiah, bukan soalan gender semata?

Bintang Handayani, Ph.D adalah Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang, Indonesia. Kajian penelitiannya berkisar pada Pencitraan Pariwisata Gelap, Penggunaan Teknologi pada situs kematian, Citra Merek Pelancongan dan Personifikasi Bangsa, serta studi Media & Komunikasi.  

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Milasari Kusumo Anggraini (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 20 Maret 2019 - 21:25 WIB

Milasari Kusumo:Mulailah Membangun Ekosistem Ekonomi Kerakyatan

Tidak banyak calon legislatif (caleg) yang hadir di tengah masyarakat dengan membawa konsep perbaikan ekonomi. Dari yang sedikit itu terdapat Milasari Kusumo Anggraini SE, caleg DPR RI dari…

PT Jasa Tirta Energi selaku BUMN yang bergerak di sektor bisnis energi dan konstruksi akan mengoptimalkan pembangkit listrik tenaga minihidro untuk mengaliri aliran listrik di seluruh pelosok Indonesia.

Rabu, 20 Maret 2019 - 21:13 WIB

Ambisi Jasa Tirta Energi Aliri Listrik di Pelosok

Pemerintah menargetkan hingga 2025 rasio elektrifikasi mencapai 100 persen dimana permintaan akan listrik bertambah 7.000 MW setiap tahunnya. Peluang inilah yang mendasari PT Jasa Tirta Energi…

Pramugari Garuda Indonesia (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 20 Maret 2019 - 21:00 WIB

GI Maskapai Global dengan Capaian OTP Terbaik di Dunia Periode Desember 2018-Februari 2019

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia berhasil mencatatkan capaian tertinggi On Time Performance (OTP) terbaik untuk kategori maskapai penerbangan global dengan jumlah penerbangan di…

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih

Rabu, 20 Maret 2019 - 19:05 WIB

Kemenperin Dorong Industri Tenun dan Batik Gunakan Benang Bemberg

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) terus mendorong penyediaan bahan baku untuk industri tenun dan batik nasional.

Titiek Soeharto (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 20 Maret 2019 - 19:00 WIB

Titiek Soeharto: Capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Pasti Menang

Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Titiek Soeharto, optimistis pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 itu akan menang dalam…