Masih Relevankah Berkunjung ke Museum Lubang Buaya?

Oleh : Bintang Handayani | Selasa, 18 April 2017 - 13:54 WIB

Bintang Handayani. (Foto: IST)
Bintang Handayani. (Foto: IST)

INDUSTRY.co.id - Tulisan ini bertujuan untuk memberikan citarasa pada identitas Museum Lubang Buaya untuk kemudian menjadi lebih menarik dan lebih relevan untuk dikunjungi. Dengan tidak bermaksud mengkaji aspek keseluruhan sejarah dan politik yang membaur menjadi bagian dari latar belakang Museum Lubang Buaya khususnya, dan Museum Lubang Buaya sebagai bagian dari sejarah tanah air Indonesia secara umum, saya menelaah profil Museum Lubang Buaya, yang berfokus pada kajian pencitraan dan Manajemen Museum.

Dalam hal ini, saya berpijak dari atribut identitas “kekelaman” Museum bersejarah Lubang Buaya sebagai citra merek, yang kemudian dapat menjadi elemen inti untuk bagunan posisioning kombinasi situs bersejarah (historical sites) dan konsepsi pelancongan gelap (Dark Tourism). Lebih lanjut, rekomendasi dan implikasi kajian saya tawarkan dengan berpijak pada paduan teknologi terkini (new technology), sejarah dan seni (art).

Museum bersejarah Lubang Buaya adalah Museum mengerikan berlatarbelakang lokasi penyiksaan dan pembunuhan para jenderal. Secara umum, Museum adalah tempat untuk menyimpan bukti peradaban manusia, dengan semua nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalamnya, Museum menjadi tempat untuk merefleksikan diri kita sendiri atau tempat studi.

Kita bisa belajar dari kebijaksanaan masa lalu yang nenek moyang kita turunkan untuk kita, atau dari kesalahan yang dibuat oleh para pendahulu kita. Museum sepatutnya tidak hanya hadir memprestasikan karya-karya manusia yang mulia nan indah, namun juga harus berani mengekspos kesalahan manusia yang mengakibatkan kerusakan dan bencana bagi orang lain, dan sejarah peradaban manusia.

Contohnya yang terkait dengan tragedi mengerikan tentang kemanusiaan yaitu Tunami di Aceh, G30S / PKI di Lubang Buaya, Hitler Nazisme dan Genosida orang-orang Yahudi, Khmer Merah pembantaian rakyat mereka sendiri di bawah pimpinan Pol Pot. Hal ini sejalan dengan konsepsi pelancongan gelap yang menitikberatkan pada aspek  konsumsi berbasis pengalaman atas cita rasa“kelam” dari tragedi sosial-politik dan budaya dimasa lampau atau budaya (yang dianggap) “suram”, menawarkan rasa berbeda untuk pelancong, untuk kemudian mereka menjadi merasa lebih baik dan/atau merasa lebih istimewa (privilege).     

Tiada yang lebih kelam dari balutan persitegangan politik dan pembunuhan masal yang dicitrakan di Museum (dan/atau gambaran dilayar kaca TVRI dahulu kala tentang peristiwa sejarah G30S/PKI).

Yang tragis dari wujud Museum adalah kelajuan literasi publik, yang dengan perkembangan teknologi dan informasi (TIK) masyarakat sangat terinformasi dan cerdas untuk kemudian menyaring penawaran-penawaran produk pelancongan termasuk penawaran konsumsi berbasis pengalaman berkunjung ke Museum Lubang Buaya.

Ini menjelaskan mengapa (mugkin) Museum Lubang Buaya memiliki tingkat kunjungan volume yang kecil dan semakin berkurang. Namun, sejarah mencatat, terlepas dari itu konstruksi media dan rezim penguasa dalam pembangunan identitas dan citra merek Museum Lubang Buaya , sejarah sebagai aspek masa lalu (telah) merujuk sebagai reflektif bijak masyarakat sebuah bangsa menuju kearah peradaban, dan mengukuhkan posisioning sebagai bangsa bermartabat dan berbudi luhur.

Yang menarik sekaligus menjadi kelemahan dari Museum Lubang Buaya adalah Museum ini termasuk kedalam kategori yang merekam sejarah pahit nan pedih dari konstruksi peredaman atas ideologi tertentu. Sebagian suara kajian menunjukkan bahwa peristiwa sejarah G30S/PKI bukan semata peredaman atas ideologi tertentu tetapi dikarenakan banyaknya atribut yang berkepentingan yang mendorong solusi terbaik dari peredaman suhu panas politik saat itu diperlukan.

Terlepas dari itu, peristiwa sejarah G30S/PKI telah terjadi dan Museum Lubang Buaya telah wujud (existed) dan sepatutnya diperlakukan sebagai bagian dari pelestarian kontektual pase sejarah dari kondisi sosial dan politik Indonesia. Hal ini menjelaskan mengapa Museum Lubang Buaya tidak dihancurkan bersama dengan suhu panas pada masa tragedi 1998.  

Yang tidak mengherankan namun menarik untuk dipahami dalam mengunjungi Museum secara umum atau mengunjungi Museum Lubang Buaya secara khusus, bahwa profil Museum dikonstruksi oleh perspektif tertentu, dan selayaknya hal ini dikaji untuk kemudian dapat memperkaya sisi “kekelaman” dari atribut yang ingin dibangun menjadi identitas dan citra merek (brand image).

Sejalan dengan rekaman Museum Lubang Buaya, balutan refleksi kekelaman pembunuhan dan penyiksaan terhadap para Jendral mencerminkan kondisi sosial, budaya, dan keagamaan.  Kondisi tersebut dijadikan komoditi yang mengemudi gambaran kekelaman ideologi politik tertentu, cerminan kesedihan dan kegeraman atas terbunuhnya para Jendral yang berani, yang mana juga menebar ketakutan kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan teori komunikasi yang mengindikasikan media (contohnya TV) dapat membentuk ketakuan dengan pendayagunaan gambaran-gambaran “ngeri” dari media dapat membentuk persepsi dan membetuk ketakutan komunitas.

Kesuraman penggambaran apa yang terekam inilah yang (tetap) akan menjadi esensi inti untuk pembentukan identitas Museum Lubang Buaya sebagai salah satu bentuk Museum untuk pariwisata gelap (Dark Tourism).

Namun, bagaimana dengan spektisme publik yang merasa catatan sejarah Museum Lubang Buaya tidak relevan, yang kemudian jika dibawa pada titik ekstrim akan ada suara-suara miring yang menyarankan untuk tidak perlu lagi berkunjung ke Museum Lubang Buaya?

Untuk spekrum ini, yang perlu digarisbawahi adalah esensi inti dari elemen-elemen “kesuraman” dan gap antara persepsi publik yang dikonstruksi dan/atau “kenyataan” terkini yang dianggap sebagai kelemahan untuk tidak mendorong visitasi ke Museum Lubang Buaya.

Untuk itu, pendayagunaan pada paduan teknologi terkini (new technology), sejarah dan seni (art) dalam hal ini dapat menjadi relevan. Bukan hanya untuk membangkitkan kembali identitas dan citra merek Museum Lubang Buaya, namun juga dapat membentuk kesejajaran posisioning dari Museum berserajah semacam Museum Lubang Buaya dengan bentuk Museum lainnya yaitu Heritage Museum.

Selain itu, paduan teknologi terkini (new technology), sejarah dan seni (art) dipandang dapat menciptakan pengalaman interaktif yang kuat untuk keterlibatan pengunjung menggunakan teknologi dalam memunculkan atribut-atribut yang memperkaya identitas dan citra merek pada Museum Lubang Buaya.

Teknologi terkini yang dapat diterapkan sejalan dengan konsepsi pelancongan jenis Museum yaitu Virtual Tourism Reality. Narasi dan gambaran-gambaran dari sejarah penyiksaan dan pembunuhan para jenderal pada peristiwa sejarah G30S/PKI dapat diperkaya dengan komputer grafis, Augmented Reality (AR). Dengan pemikiran ini, narasi cerita sejarah  peristiwa sejarah G30S/PKI dapat di re-discover dan menjadi lebih menarik.

Selain itu, penerapan Virtual Tourism Reality pada Museum akan menjadi perbincangan yang dapat dikonstruksi (setidaknya) pada setiap tanggal 30 September. Desain dari Virtual Tourism Reality dapat dikonstruksi dengan mendayagunakan komunitas online (online community) yang diperkirakan akan banyak berdiskusi pada spekrum esensi inti dari elemen-elemen “kesuraman” dan gap antara persepsi publik yang dikonstruksi dan/atau “kenyataan” terkini tentang visitasi ke Museum Lubang Buaya. Nama saya Bintang, saya dengan sukacita menganjurkan untuk kita (kembali) berkunjung ke Museum.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kota Sabang

Selasa, 26 Maret 2019 - 10:00 WIB

Tingkatkan Industri Pariwisata, Sabang Aceh Segera Miliki Bandara Internasional

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya mengaku siap memfasilitasi dan akan mendukung pembangunan Bandar Udara Internasional di Kota Sabang, Provinsi Aceh.

Siti Badriah, Video Klip Lagu Lagi Syantiknya telah ditonton 482 jtua kali

Selasa, 26 Maret 2019 - 09:03 WIB

Tepat Setahun Lagu ‘Lagi Syantik’ Siti Badriah Ditonton 482 Juta kali

epat satu tahun lalu, tepatnya 22 Maret 2018, penyanyi dangdut Siti Badriah lewat kanal youtube milik Nagaswara Music mengeluarkan single lagu Lagi Syantik lewat. Lagu itu langsung menjadi viral.…

Pramugari Garuda Indonesia (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 26 Maret 2019 - 09:00 WIB

Garuda Indonesia Gunakan A330 Rute Jakarta-Nagoya Jepang

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia resmi melayani rute penerbangan langsung Jakarta-Nagoya pp dengan menggunakan pesawat jenis Airbus 330 berkapasitas 222 tempat duduk yang terdiri…

Legenda Musik, Erros Djarot luncurkan single terbaru menyambut Pemilu

Selasa, 26 Maret 2019 - 08:34 WIB

Erros Djarot Gelisah Maka Lahirlah ‘1 & 2 Bukan Segalanya’

Seniman sekaliber Erros Djarot ternyata menyimpan kegelisahan yang sangat mendalam atas kondisi bangsa kita dalam menghadapi pemilu presiden yang semakin dekat. Kegelisahannya itu akhirnya ia…

Dirut Telkom Alex J Sinaga dan Menteri BUMN Rini Soemarmo saat moment the nex IndiHome

Selasa, 26 Maret 2019 - 08:29 WIB

Pelanggan IndiHome Capai 5,5 Juta Rumah

Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia TBK (Telkom) menyebutkan jumlah pelanggan IndiHome mencapai 5,5 juta pelanggan. Jaringan Telkom untuk memperkuat ekspansi IndiHome, sudah tersebar dari…