Volkswagen Tersandung di Negeri Paman Sam

Oleh : Dhyan W Wibowo | Jumat, 07 April 2017 - 10:22 WIB

Show Room Volkswagen (Getty Images)
Show Room Volkswagen (Getty Images)

INDUSTRY.co.id - Dalam sidang yang digelar di kota Detroit, ibukota negara bagian Michigan, Amerika Serikat, awal Maret 2017, Volkswagen menyatakan mengaku bersalahhas atas tuduhan melakukan konspirasi, melakukan kecurangan, pelanggaran keadilan dan memasukkan sejumlah barang dengan dokumen palsu.

Penasihat hukum untuk pihak Volkswagen, Doess told dalam sidang menyatakan bahwa manufaktur otomotif yang berbasis di Wolsfburg, Jerman tersebut mengaku bersalah atas tiga tuduhan. Menurutnya aksi pelanggaran hukum tersebut terjadi baik di Amerika Serikat maupun di negara asalnya, Jerman.

Dalam materi pengakuannya di pengadilan tersebut. VW menyebut bahwa sejumlah seri kendaraan hasil produksinya telah dipasangi perangkat lunak ilegal yang memungkinkan kendaraan bisa mensiasati uji emisi untuk periode selama enam tahun.

John Neal, seorang asisten kejaksaan Amerika Serikat, menyampaikan kepada pengadilan setempat bahwa langkah kecurangan tadi dilakukan oleh manufaktur Volkswagen 'secara matang' dan terencana serta diketahui oleh jajaran teratas organisasi, demikian dilansir BBCNews (10/3) lalu.

Lewat perjanjian yang dijalin dengan Kementerian Kehakiman AS, VW memang telah sepakat untuk melakukan reformasi besar-besaran serta pengujian masif yang akan diawasi oleh pengawas independen selama tiga tahun, setelah pengakuan pemasangan perangkat lunak rahasia di 580.000 unit kendaraan di pasar negeri Paman Sam. Perangkat lunak tersebut mampu menekan data emisi 40 kali lebih rendah dari tingkat polusi yang diizinkan oleh regulator Amerika Serikat.

Theo Leggett, koresponden bisnis BBC menyebut tak ada kejutan bahwa VW akan mengaku bersalah atas skandal ini di Amerika Serikat, karena hal ini merupakan bagian dari kesepakatan dengan Kementerian Kehakiman yang dilakukan pada Januari 2017 silam. Salah satu jaksa mengungkapkan dalam persidangan bahwa distorsi sistemik dari uji emisi oleh VW merupakan langkah yang dipikirkan secara matang dan ofensif, dan bisa mengarah pada pimpinan teratas perusahaan.

Kendati pernyataan tersebut sangat dinilai sangat menohok, namun belumlah jelas sepenuhnya, siapa di jajaran pejabat senior VW yang mengetahui kejadian skandal di Amerika Serikat tersebut. Otoritas Amerika Serikat memang telah menjatuhi sanksi pada tujuh pejabat dan mantan pejabat di VW Amerika terkait skandal tersebut, tapi tampaknya beberapa pihak lagi masih belum akan bisa nyenyak tidur malam hari, kata Leggett.

Saat menerima pernyataan bersalah dari VW, hakim distrik Sean Cox mengatakan, Ini merupakan kejahatan yang amat sangat serius. Berikutnya Volkswagen telah sepakat untuk mengubah cara operasinya di Amerika Serikat dan di sejumlah negara lainnya sebagai bagian dari upaya penyelesaian skandal. Pada Januari lalu perusahaan setuju untuk membayar denda kejahatan sipil sebesar US$4,3 miliar.

Sementara itu juru bicara VW seperti dilansir BBC telah menyatakan penyesalan bahwa perusahaan sebesar Volkswagen Group telah melakukan kejahatan kriminal. (Kami) sangat menyesali perilaku (kami) yang telah mengakibatkan krisis diesel.

Tak sekedar denda, pemerintah Amerika Serikat juga mengeluarkan keputusan cekal (cegah dan tangkal) terhadap sejumlah petinggi Volkswagen, agar mereka tidak bisa masuk ke dalam wilayah yurisdiksi Amerika Serikat.

Kantor jaringan pemberitaan Reuters pada pertengahan Januari lalu (13/1) memberitakan bahwa para petinggi VW yang masuk dalam daftar gugatan diharapkan tak singgah di Amerika untuk menghindari penangkapan dan dijebloskan ke dalam penjara.

Salah seorang petinggi VW, Oliver Schmidt memang dilaporkan telah ditangkap di Amerika Serikat. Ia ditahan saat singgah di Miami International Airport pada Sabtu 7 Januari 2017, dalam penerbangan sepulang liburan dari Kuba.

Schmidt langsung menjalani proses investigasi oleh otoritas Amerika. Namun proses itu dibatalkan menyusul masuknya jaminan. Beberapa manager Volkswagen memang telah disarankan untuk tak berkunjung ke Amerika, ujar sumber Reuters.

Sebelumnya diberitakan bahwa pada awal tahun 2016 lalu, Volkswagen siap membeli kembali (buy back) sekitar 115.000 unit mobil diesel di Amerika Serikat yang terkena dampak skandal uji emisi. Dilaporkan harian Sueddeutsche Zeitung yang dikutip AFP, VW harus membeli kembali sekitar seperlima mobil yang terkena dampak skandal di AS dari total 580.000 unit. Disebutkan buy-back dilakukan baik dengan membayar tunai maupun menawari pemilik kendaraan dengan mobil baru yang sudah didiskon besar.

Tak hanya di Negeri Paman Sam, pada tahun lalu Lembaga Penjamin Konsumen Australia juga telah menggugat cabang Volkswagen Australia atas kesengajaan menjual lebih dari 57.000 unit mobil yang disemati perangkat lunak untuk mengelabui uji emisi.

"Tuduhan ini berkaitan dengan tindakan serius dan disengaja oleh perusahaan global," kata Ketua Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) Rod Sims dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters (3/8/2016) lalu.

Di negeri Kangguru, lembaga hukum Maurice Blackburn mengajukan gugatan ganti rugi lebih dari US Aus 100 juta, termasuk biaya penggantian penuh terhadap sekitar 90.000 unit mobil. Sedangkan ACCC juga meminta VW menyampaikan pengumuman publik atas kecurangan mereka, membayar denda yang jumlahnya belum diketahui dan menerbitkan iklan ralat atas tindakan mereka lebih dari lima tahun berlangsung.

"Volkswagen melanggar beberapa pasal perlindungan konsumen Australia dengan menggunakan peranti lunak terlarang di kendaraan mereka untuk mencurangi uji emisi dan menyampaikan informasi sesat kepada pelanggan tentang data kendaraan mereka," ujar Sims seperti dikutip Reuters. "Pelanggan sepenuhnya berharap emisi mobil mereka sesuai dengan yang diiklankan dan kami kira itu tidak terjadi," imbuhnya.

Sementara itu di Meksiko, otoritas setempat telah mengenakan denda US$ 8,9 juta kepada produsen otomotif ini karena telah menjual lebih dari 45.000 mobil tanpa sertifikat emisi. Adapun kendaraan yang masuk dalam gugatan adalah berasal produksi dan model 2016, termasuk merek VW, Audi, SEAT, Porsche dan Bentley, demikian penuntut kantor kejaksaan urusan perlindungan lingkungan setempat seperti dilansir AFP.

Denda ini menyusul pemeriksaan Desember 2015 lalu terhadap kantor dan pabrik Volkswagen di negara bagian Puebla, Meksiko di. Di pabrik Puebla ini, Volkswagen Group memproduksi mobil-mobil VW untuk pasar Meksiko dan pasar ekspor. Selain denda, jaksa juga menyatakan bahwa kementerian lingkungan masih menyelidiki apakah mobil-mobil VW yang dijual di Meksiko itu telah dipasangi perangkat yang digugnakan untuk menyiasati uji emisi.

Belum lama ini, di awal tahun 2017, otoritas Polandia juga telah memutuskan untuk menggelar penyelidikan atas skandal uji emisi yang dilakukan VW di negara tersebut. Pengawas perlindungan konsumen di Polandia memulai proses penyelidikan terhadap Volkswagen atas tuduhan penipuan terkait emisi kendaraan.

Jika terbukti, maka VW harus kembali dihadapkan pada sanksi denda hingga 10% dari omzet penjualan domestik. "Proses juga dapat berakhir dengan komitmen untuk mengambil langkah-langkah perbaikan efek dari pelanggaran yang merugikan konsumen," ujar lembaga tersebut dalam sebuah pernyataan resmi, seperti dilansir Reuters (20/1) lalu.

Saat ini otoritas Polandia tengah memeriksa kemungkinan sensor emisi 'abal-abal' dipasang di produk mobil VW, Audi, Seat dan Skoda yang diproduksi setelah 2008. Otoritas setempat menyebut angka emisi yang dihasilkan dalam kondisi mobil melaju di jalan raya menyimpang dari angka yang diberikan oleh VW.

Kendati skandal uji emisi oleh Volkswagen meruyak sejak tahun 2015 lalu, dan mengharuskan perusahaan membayar sejumlah denda dengan besaran yang cukup signifikan, tak lantas angka penjualan VW jadi mandeg. Sejak skandal ini mengemuka VW memang telah menyetujui pembayaran denda sekitar US$ 25 miliar. Pada tahun 2016, angka penjualan Volkswagen berhasil menumbangkan hegemoni Toyota dalam angka penjualan global.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Kunjungan Wisatawan manca negara (Wisman)

Sabtu, 23 September 2017 - 16:00 WIB

Kunjungan Wisatawan Inggris dan Jepang ke Bali Naik

Wisatawan Inggris dan Jepang yang berliburan sambil menikmati panorama alam serta keunikan seni budaya Bali meningkat masing-masing sebesar 14,01 persen dan 7,02 persen

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian

Sabtu, 23 September 2017 - 15:57 WIB

Kapolri: Usut Tuntas Kasus Peredaran Pil PCC

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian memerintahkan agar kasus peredaran pil "paracetamol caffeine carisoprodol" yang telah menimbulkan korban jiwa diusut hingga…

Hombo Batu atau Lompat Batu di Nias, Sumatera Utara (Foto: travelingyuk)

Sabtu, 23 September 2017 - 15:30 WIB

Kenalkan Kebudayaan dan Kesenian, Nias Bakal Gelar Pesta Ya'ahowu 2017

Terletak di Sumatera Utara, Nias memiliki berbagai ragam budaya dan kekayaan alam yang harus diekspos oleh para wisatawan. Oleh karena itu, untuk menarik jumlah kunjungan ke Nias, maka pada…

Gubernur Banten Wahidin Halim Saat Pembukaan FPTL 2017 di Tanjung Lesung. (INDUSTRY.co.id/Irvan AF)

Sabtu, 23 September 2017 - 15:16 WIB

Gubernur Banten Dukung KPK OTT Wali Kota Cilegon

Gubernur Banten Wahidin Halim mengapresiasi Komisi Pemberantasn Korupsi (KPK) yang melakukan OTT terhadap Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi. KPK mengamankan 10 orang termasuk Wali Kota…

Ilustrasi Bandara

Sabtu, 23 September 2017 - 15:01 WIB

Lima Bandara Disiapkan Bila Gunung Agung Bali Meningkat Aktivitasnya

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah menyiapkan lima bandar udara untuk mengantisipasi adanya gangguan penerbangan di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali akibat aktivitas…