Coca Cola Gelontorkan Dana $42 juta untuk Pandaan

Oleh : Robert | Kamis, 06 April 2017 - 10:55 WIB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Bersama Presiden Direktur Coca Cola Amatil Indonesia Kadir Gunduz
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Bersama Presiden Direktur Coca Cola Amatil Indonesia Kadir Gunduz

INDUSTRY.co.id - Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI), perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan produk-produk dengan merek dagang dari lisensi The Coca-Cola Company, CCAI menggelontorkan dana sekitar US$42 juta untuk pembangunan Mega Distribution Center Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, sebagai gudang penyimpanan dengan kapasitas 40 juta botol dan fasilitas produksi pengolahan preform (pembutan botol kemasan plastik) berkapasitas 1 milyar unit per tahun.

Presiden Direktur CCAI Kadir Gunduz mengatakan, perusahaan terus mewujudkan optimisme dalam rencana yang konsisten berorientasi pada pertumbuhan, termasuk mendukung agenda pemerintah dalam mendorong kinerja industri nasional khususnya sektor makanan dan minuman.

Fasilitas baru ini menciptakan keterampilan proses produksi dari para karyawan CCAI setara dengan proses produksi kelas dunia, ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, CCAI memiliki komitmen kuat dalam berinvestasi melalui pembangunan fasilitas dan penerapan teknologi. Misalnya, akademi pelatihan pertama CCAI didirikan di Jawa Timur, yang keberhasilannya mampu memperluas bisnis di Indonesia.

Saat ini, CCAI menjalankan tujuh akademi pelatihan di enam functions dan menyediakan hingga 35 ribu training days setiap tahun, tuturnya.

Kementerian Perindustrian sendiri terus mendorong kinerja industri makanan dan minuman di dalam negeri, karena sektor ini terus menunjukkan pertumbuhan positif dan memberikan konstribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Langkah strategis yang dilakukan antara lain memacu peningkatan produktivitas dan daya saingnya agar mampu berkompetisi di pasar domestik dan ekspor.

Upaya tersebut sejalan dengan instruksi Bapak Presiden Jokowi untuk memperhatikan perkembangan industri kita saat ini, sekaligus saya diminta menagih dan memonitor masterplan investasi Coca-Cola di Indonesia sebesar US$500 juta dari 2015 hingga tiga tahun ke depan, kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulis, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan hal itu, pada Peresmian Fasilitas Produksi dan Pusat Distribusi Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur. Menperin menyampaikan apresiasi kepada CCAI atas komitmen investasinya tersebut, di mana hingga saat ini sudah terealisasi US$300 juta dan masih tersisa US$200 juta.

"Kami juga menyambut baik ekspansi CCAI saat ini karena mendukung target investasi industri di Indonesia pada tahun 2017 sebesar Rp500 trilyun dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, ujarnya. Menperin juga meminta kepada CCAI ikut terlibat mendukung program pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan vokasi.

CCAI telah memiliki 8 pabrik pembotolan di Cibitung, Cikedokan, Medan, Lampung, Bandung, Semarang, Surabaya dan Denpasar dengan 37 lini produksi dan 5 lini perform serta menyerap tenaga kerja sebanyak 11 ribu orang. Sebelumnya, CCAI terdapat tiga Mega Distribution Center di Medan, Cibitung, dan Semarang serta melayani sekitar 765 ribu direct costumer.

Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto mengatakan,pelaku industri makanan dan minuman nasional perlu melakukan upaya-upaya strategis guna meningkatkan mutu, produktivitas dan efisiensi diseluruh rangkaian proses produksi.

"Langkah ini juga harus sejalan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta kegiatan penelitian dan pengembangan, tegasnya.

Menurut Panggah, Kemenperin telah berkomitmen dalam menyiapkan tenaga kerja yang andal melalui penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan, serta program pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri, sehingga diharapkan tenaga kerja yang bekerja di industri merupakan tenaga kerja profesional.

Potensi Industri Mamin

Pada kesempatan yang sama, Menperin mengungkapkan,industri makanan dan minuman merupakansektoryang sangat strategis dan mempunyai prospek yangcukup cerah untuk dikembangkan.Hal ini ditunjukkan dengan laju pertumbuhan industri makanan dan minuman pada triwulan IV tahun 2016 sebesar 8,46persen ataudiatas pertumbuhan industri pengolahan non-migas sebesar 4,42persenpada periode yang sama.

Sumbangan nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada tahun 2016 mencapai USD26,39miliarataumengalami neraca perdagangan yang positif bila dibandingkan dengan impor produk makanan dan minuman pada tahun 2016 sebesar USD9,65miliar. Di samping itu,dapat dilihat dari perkembangan realisasi investasi sektor industri makanan dan minuman sampai dengan triwulan IIItahun 2016 sebesar Rp24triliun untuk PMDN dan PMA sebesar USD1,6Miliar.

Menperin juga meyakinkan, industri minuman ringan memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan di Indonesia. Misalnya,coconut drinkyang saat ini banyakdinikmatimasyarakat.Potensi kita kuat karena sumber bahan bakunya,karena selama inihanya ekspor buahnya, ujar Airlangga.Selain itu, adanyaperubahanlifestylesaat ini yangmembuat masyarakatsemakin suka minum kopi instan. Seharusnya Indonesia bisa buat kopi instan dalam cupkarenabahan bakukopinyaada, imbuhnya.

Berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI),kelompok industri minuman ringan meliputi air minum dalam kemasan (AMDK), minuman berkarbonasi, teh siap saji, minuman sari buah, kopi dan susu siap saji, serta minuman isotonic atau suplemen.Volume minuman ringan di Indonesia didominasi oleh minuman AMDK danmarket share-nya mencapai 84 persen dari total pasar minuman ringan siap saji dalam kemasan. Diharapkan industri memberikanedukasi kepada konsumen tentangsustainabilityagar dapat didaur ulang lagi sampahnya, ungkap Airlangga.

Sedangkan, minuman berkarbonasimarket share-nya 3,6 persen dan minuman ringan lainnya 12,4 persen seperti minuman isotonik, minuman sari buah, dan minuman lainnya beraroma buah-buahan yang pertumbuhannya cukup tinggi.Pertumbuhan rata-rata minuman ringan mencapai 6-7 persen tahun 2016 dan akan terus meningkat di tahun-tahun yang akan datang. Investasi baru di pasar yang masih berkembang, bukan saja dari segi pilihan jenis produk tapi juga pilihan segmen pasarnya, kata Airlangga.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pandu Sastro Wardoyo Pakar Blockchain

Rabu, 18 Juli 2018 - 23:37 WIB

Membaca Peluang Baru di Era Blockchain

Blockchain berasal dari cryptocurrency, sehingga perkembangannya mendapatkan banyak sekali suntikan dana semenjak awal, tanpa harus meminta dari perusahaan atau bank

Vice President of Corporate Communications BMW Group Indonesia Jodie O'tania bersama Presiden Direktur PT Gaya Motor Ary Mariano (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Rabu, 18 Juli 2018 - 20:34 WIB

Perkuat Pasar Kendaraan Premium di Indonesia, BMW Tambah Investasi Hingga Rp20 Miliar

BMW Indonesia secara konsisten terus menerus tingkatkan aktivitas produksinya di Indonesia melalui investasi senilai lebih dari Rp270 miliar sejak tahun 2011 hingga saat ini. Tambahan investasi…

Dirut BTN Maryono (Fot Rizki Meirino)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:50 WIB

BTN Tak Ikut Biaya Divestasi Saham PT Freeport

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk tidak akan ikut menyalurkan kredit ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) untuk membeli 51 persen saham PT Freeport Indonesia.

Rupiah (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:31 WIB

Rupiah Rabu Sore Melemah ke Rp14.414

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu sore, (18/7/2018) ditutup melemah besar 36 poin menjadi Rp14.414 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.378 per dolar AS.

Dirut Bank BNI Achmad Baiquni (Foto Rizki Meirino)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:26 WIB

Januari-Juni 2018, Laba Bersih Bank BNI Tumbuh 16 Persen

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat kenaikan laba bersih 16% menjadi Rp7,44 triliun sepanjang Januari-Juni 2018 dibandingkan dengan realisasi laba bersih di periode yang sama pada 2017…