Ke Kancah Dunia dengan Sarung Tangan

Oleh : Robert | Kamis, 06 April 2017 - 10:47 WIB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Menandatangi Prasasti Tanda Peresmian Pabrik GP6 PT. Medisafe Technologies di Deli Serdang, Sumatera Utara
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Menandatangi Prasasti Tanda Peresmian Pabrik GP6 PT. Medisafe Technologies di Deli Serdang, Sumatera Utara

INDUSTRY.co.id - Industri sarung tangan karet merupakan salah satu manufaktur hilir yang tengah diprioritaskan pengembangannya sebagai sektor padat karya berorientasi ekspor. Industri ini juga dipacu daya saingnya melalui kegiatan riset teknologi secara mandiri agar meningkatkan produksi dan inovasi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Glove Plant 6 PT. Medisafe Technologies di Deli Serdang, Sumatera Utara, bulan lalu, mengatakan, industri sarung tangan karet mampu bertahan dan berkembang dengan baik dari segi kemampuan produksi maupun ekspor, meskipun saat ini masih menghadapi kendala ketidakpastian pasokan gas baik dari sisi volume maupun harga yang relatif masih kurang kompetitif jika dibandingkan dengan negara pesaing lainnnya.

Menperin megungkapkan, produsen sarung tangan karet nasional saat ini mampu menunjukkan eksistensinya di kancah persaingan global baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini dilihat dari kemampuan produk sarung tangan karet Indonesia yang menembus pasar ekspor, dimana lebih dari 90 persen dipasarkan ke berbagai negara di benua Amerika dan Eropa.

Nilai ekspor sarung tangan karet Indonesia tahun 2016 sebesar USD 232,50 juta atau menempatkan posisi sarung tangan karet sebagai produk ekspor kedua terbesar setelah ban dalam produk barang-barang karet hilir, paparnya.

Menperin Airlangga optimistis, kemampuan ekspor tersebut masih dapat ditingkatkan mengingat terbukanya peluang yang besar seiring globalisasi perdagangan yang terjadi saat ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya strategis baik dari pemerintah maupun para pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing industri sarung tangan karet nasional sehingga produknya mampu meraih kepercayaan pasar.

Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Teddy Caster Sianturi mengatakan industri hilir berbasis karet merupakan salah satu sektor prioritas yang akan dikembangkan dalam jangka menengah dan panjang. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

Berbekal hal tersebut, Pemerintah telah memiliki landasan yang kuat untuk mengambil kebijakan-kebijakan untuk semakin mendorong pertumbuhan industri berbasis karet, antara lain memberikan proteksi, mengoptimalkan iklim usaha serta pemberian berbagai macam fasilitas insentif bagi industri existing dan calon investor baru, papar Teddy.

Dalam upaya peningkatan kinerja industri sarung tangan karet nasiaonal, menurutnya, keberadaan fasilitas penelitian dan pengembangan sangat diperlukan mengingat Indonesia merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Namun, selama ini 80 persen produk karet alam primer Indonesia diekspor dan hanya 20 persen yang dikonsumsi dalam negeri.

Untuk itu, kami berharap agar pembangunan fasilitas penelitian dan pengembangan menjadi salah satu prioritas bagi produsen sarung tangan karet dalam rangka meningkatkan daya saing industri nasional, ujar Teddy. Selanjutnya, produsen sarung tangan karet dalam negeri diminta agar lebih lanjut melakukan inovasi teknologi, proses produksi dan pengembangan produk-produk sarung tangan karet bernilai tambah tinggi.

Selain itu, semakin banyak menggunakan bahan baku dan bahan penolong yang berasal dari dalam negeri, meningkatkan penyerapan tenaga kerja Indonesia, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan menerapkan produksi bersih.

Investasi USD 25 juta

Pada kesempatan tersebut, Menperin memberikan apresiasi kepada PT Medisafe Technologies atas penambahan lapangan kerja baru bagi masyarakat khususnya di Sumatera Utara melalui investasi perluasan Glove Plant 6 senilai USD 25 juta untuk memproduksi sarung tangan sintetis. Sejak berdirinya tahun 1989, Medisafe menjadi produsen sarung tangan yang memenuhi kebutuhan dan standar internasional untuk sarung tangan jenis lateks, nitrile dan polikloropren.

Menurutnya, Pemerintah sangat mendukung upaya-upaya pengembangan yang dilakukan PT. Medisafe Technologies, sebagai pertanda bahwa peluang usaha di Indonesia sangat terbuka. Kami berharap pula perkembangan industri sarung tangan karet akan berjalan dengan sukses tanpa adanya hambatan atau rintangan, sehingga perolehan devisa melalui ekspor akan terus meningkat, ungkap Airlangga.

Group Chairman - Indorama Corporation, Sri Prakash Lohia mengatakan, PT Medisafe Technologies sebagai anak perusahaan Indorama Corporation - Singapura, kini telah memiliki pabrik canggih terbaru yang memproduksi sarung tangan sintetis sekali pakai untuk kegiatan medis dengan kapasitas lebih dari 600 juta buah. Sehingga dengan tambahan investasi tersebut, kapasitas produksi perusahaan meningkat menjadi 2,7 miliar sarung tangan per tahun dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.700 karyawan.

Indonesia merupakan pilar utama dari strategi pertumbuhan kami di Asia Pasifik. Kehadiran produk lokal yang berkualitas tinggi di pasar internasional ini menandakan dasar untuk pertumbuhan industri lebih lanjut, paparnya.

Investasi ini juga, menurutnya, menjadi bukti dari komitmen perusahaan untuk terus berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia, salah satunya dengan membangun proyek padat teknologi yang canggih. Indonesia beruntung karena punya banyak tenaga kerja muda dan adanya perhatian khusus dari pemerintah, sehingga ini bisa membuat Indonesia lebih berdaya saing di dunia melalui kontribusi industri sarung tangan, tambahnya.

Sementara itu, Chairman Medisafe dan YTY Group, Vikram Hora mengungkapkan, Medisafe adalah produsen sarung tangan sintetis sekali pakai terbesar di Indonesia. Produk yang dihasilkannya, 99 persen diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Bersama dengan perusahaan induk terdekatnya, YTY Group - Malaysia, kami menjadi produsen terbesar sarung tangan sintetis sekali pakai di dunia dengan kapasitas tahunan sekitar 17 miliar buah, tuturnya.

Sebagai pelopor sarung tangan generasi lanjut, Vikram menyampaikan, Medisafe dan YTY Group saat ini adalah mitra manufaktur dari sejumlah besar distributor sarung tangan terbesar dan terefisien di dunia. Dari total produksi kami di Indonesia,hanya satu persen untuk memenuhi permintaan dalam negeri karena selebihnya diekspor, ungkapnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

 Oesman Sapta Odang (OSO) Ketum Umum Hanura Oesman

Sabtu, 20 Januari 2018 - 08:07 WIB

Konflik Partai Hanura, OSO-Daryatmo Harus Temukan Kompromi Politik

Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyarankan para elit politik Hanura harus secepatnya bertemu untuk menemukan kompromi politik yang terbaik bagi partai…

Menhan Ryamizard Ryacudu-foto RiauOnline.com

Sabtu, 20 Januari 2018 - 07:57 WIB

Menhan Ungkap Empat Isu Krusial Ganggu Keamanan Kawasan

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, menyebutkan, saat ini dunia tengah menghadapi empat isu krusial yang dapat mengganggu keamanan kawasan regional dan wilayah.

Ilustrasi Petani Garam (Ist)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 07:55 WIB

Kemenperin Blak-Blakan Soal Impor Garam

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui jika saat ini pemerintah maupun para petani belum mampu menyediakan kebutuhan garam bagi industri. Sehingga, opsi impor garam menjadi langkah…

Partai Solidaritas Indoensia (PSI) (Foto Dok Industry.co.id)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 07:52 WIB

PSI Galang Dana Publik untuk Perbaiki Iklim Politik Tanah Air

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan menggalang dana donasi publik untuk pembiayaan partai dan mendorong perbaikan iklim politik di Tanah Air.

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Foto Ist)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 07:39 WIB

MPR: Indonesia Butuh Haluan Negara

Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan kembali pola pembangunan sejenis garis besar haluan negara(GBHN), ditengah munculnya fenomena Demokrasi Pancasila menghasilkan…