Jokowi Minta KPPU Perhatikan Bisnis Pangan

Oleh : Irvan AF | Kamis, 30 Maret 2017 - 16:25 WIB

Ilustrasi cabai. (Romeo Gacad/AFP/Getty Images)
Ilustrasi cabai. (Romeo Gacad/AFP/Getty Images)

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memberi perhatian pada persaingan dalam bisnis komoditas pangan untuk mendorong stabilitas harga komoditas itu.

"Tadi Bapak Presiden ingin mendapat informasi terkait dengan berbagai komoditas di Indonesia, salah satu fokusnya adalah komoditas pangan," kata Ketua KPPU Syarkawi Rauf di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (30/3/2017).

Ia mengatakan Presiden Jokowi memberi perhatian serius dalam upaya mendorong stabilitas harga pangan, mulai dari daging, ayam, gula dan lainnya.

"Kami sampaikan ke Presiden, kami akan terus fokus pada penangananan perkara-perkara yang terkait dugaan kartel di komoditas pangan," kata Syarkawi.

Ia menyebutkan KPPU dalam dua tahun terakhir menangani banyak perkara dugaan kartel. Salah satu perkara yang banyak perhatian adalah kartel komoditas pangan.

Pertama, dugaan kartel dalam perdagangan daging sapi. KPPU menduga harga yang mencapai Rp140.000 sampai Rp150.000 per kg kemarin karena adanya kartel.

"Kami sampaikan ke Presiden, KPPU akan terus memonitor dan melakukan pengawasan dalam bisnis daging," katanya.

Kedua, terkait ayam dan unggas. Menurut dia, Presiden Jokowi memberi perhatian pada komoditas itu.

"Kami akan fokus di situ, salah satunya melalui kerja sama dengan Kementan, Kemendag, ini adalah satu solusi mengatasi masalah unggas kita yang sekarang harganya rendah di tingkat peternak tapi di pasar justru tinggi," katanya.

Ia menyebutkan rekomendasi lain kepada pemerintah dalam pemberantasan praktik kartel adalah melalui peningkatan koordinasi dengan kementerian.

"Kami di KPPU akan sama-sama dengan Kementan, kemudian dengan Kemendag melakukan monitoring dan di situ buat aturan yang sesuai dengan persaingan usaha yang sehat," katanya.

Ia menyebutkan salah satu solusi menyelamatkan peternak unggas yang mandiri dan kecil adalah dengan membangun kemitraan antara perusahaan unggas besar dengan perusahaan budi daya yang kecil .

"Dengan bermitra, mereka bisa hidup sama-sama, tapi bukan kemitraan yang eksploitatif," kata Syarkawi.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST (Foto Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 18:42 WIB

Penjualan Tanah Bekasi Fajar Industrial Estate Telah Lampaui Target 2017

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), perusahaan pengelola kawasan industri MM2100, hingga akhir November 2017 telah menjual lahan seluas 42 hektar. Padahal target penjualan tanah 2017…

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Sekjen Kemenperin Haris Munandar

Jumat, 24 November 2017 - 18:09 WIB

2018, Pertumbuhan Manufaktur Masih Ditopang Sektor Konsumsi

Industri makanan dan minuman diproyeksi masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional pada tahun depan. Peran penting sektor strategis ini terlihat…

Menuju Holding BUMN Industri Pertambangan

Jumat, 24 November 2017 - 18:00 WIB

Holding Tambang akan Resmi Efektif Akhir November

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan Holding BUMN Tambang akan resmi efektif mulai akhir November 2017.

PT Vivo Energy Indonesia (Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 17:30 WIB

Vivo Energy Indonesia Akan Bangun 3 Kilang Minyak di Indonesia

PT Vivo Energy Indonesia semakin serius menggarap bisnis hilir migas dengan membangun sebanyak 3 kilang minyak di Indonesia mulai tahun depan.

Kikan Terlibat Drama Musikal Kolosal Tekad Indonesia Jaya,

Jumat, 24 November 2017 - 17:16 WIB

Demi Perannya di Drama Kolosal Kikan Ingin Dibenci Setengah Mati

Demi Penghayatan perannya dalam Drama Kolosal yang bertajuk Tekad Indonesia Jaya yang akan dipentaskan di The Kasablanka Hall Kuningan Jakarta Selatan, Sabtu 25 November 2017 pukul 20.00 WIB,…