Ini alasan Hero Supermarket Tutup 26 Gerai dan PHK 532 Karyawan

Oleh : Ahmad Fadli | Rabu, 16 Januari 2019 - 09:52 WIB

PT Hero Supermarket Tbk
PT Hero Supermarket Tbk

INDUSTRY.co.id, Jakarta- PT Hero Supermarket Tbk (Hero Group) memutuskan untuk melakukan efisiensi operasional dengan menutup total 26 gerai.

"Gerai yang ditutup ada Hero Supermarket dan juga Giant, ini sebagai strategi untuk mendukung keberlanjutan bisnis dengan memaksimalkan produktivitas kerja," ujar Corporate Affairs GM PT Hero Supermarket Tbk Tony Mampuk, kepada awak media Senin.

Tony menuturkan, alasan penutupan itu utamanya disebabkan oleh segmen bisnis makanan (food) yang lesu dan terus mengalami penurunan penjualan. Hingga kuartal IiI 2018, penjualan bisnis makanan turun sebesar 6 persen secara tahunan. Hal itu mengakibatkan kerugian operasional sebesar Rp 163 miliar atau naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 79 miliar. "Ini menjadi alasan utama dilakukannya efisiensi," katanya.

Adapun hingga 30 September 2018, perusahaan tercatat mengoperasikan 189 toko di bidang makanan dan grocerries yang terdiri dari 59 Giant Ekstra, 96 Giant Express, 31 Hero Supermarket, dan 3 Giant Mart. Sebagai dampak dari penutupan gerai itu, perusahaan pun melakukan pemberhentian hubungan kerja 532 karyawan yang tokonya ditutup karena merugi. "Sebanyak 92 persen karyawan telah memahami kondisi perusahaan dan setuju untuk mengakhiri hubungan kerja," ujar Tony.

Dia menambahkan perseroan ke depan juga berupaya untuk mengoptimalisasi kinerja gerai-gerai yang tersisa dengan melakukan program perubahan manajemen sejak tahun lalu. "Konkretnya beberapa Giant misalnya di Jakarta Barat dan Bekasi telah kami relaunch agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik," ucapnya.

Untuk Hero Supermarket, perusahaan pun memberikan branding konsep premium supermarket yang telah diluncurkan di beberapa outlet, seperti di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Bekasi, dan Bandung.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani mengakui ketatnya persaingan di sektor ritel. Khususnya, dengan kehadiran platform e-commerce yang memudahkan masyarakat berbelanja online. Tak hanya memukul ritel di bidang makanan dan kebutuhan sehari-hari, hal itu juga berdampak pada ritel department store yang menjual barang fashion.

"Perilaku pembeli sudah berubah, semakin lama trennya semakin banyak, teman-teman di sektor ritel lumayan berat, karena persaingan antar sesama ketat ditambah lagi online," ujarnya.

Chairman CT Corp Chairul Tanjung mengatakan dibutuhkan inovasi dan kreativitas agar tetap dapat bertahan di tengah persaingan ketat bisnis ritel. "Persaingan yang luar biasa ini menyebabkan model bisnisnya harus diubah, kalau tidak pasti kalah, dan kalau kalah mau nggak mau pasti tutup," katanya. Di antaranya adalah menyesuaikan perkembangan bisnis dengan zaman dan memahami kebutuhan konsumen. "Online hanya salah satu perubahan, banyak perubahan bisnis model lain yang bisa digunakan."

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung tak sepenuhnya sepakat jika rontoknya bisnis ritel di bidang makanan dan groceries disebabkan oleh penjualan online di marketplace. "Karena untuk segmen itu yang masuk ke marketplace masih kecil sekali di bawah 1 persen, tapi untuk ritel department store mungkin lebih besar dampaknya karena top sales di online itu memang produk-produk fashion," ucapnya.

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya menuturkan tantangan lain yang dihadapi oleh toko ritel besar adalah kehadiran minimarket yang semakin meluas di berbagai daerah. "Dari sisi jarak dari rumah ke supermarket seperti Hero dan Giant itu terlalu jauh, sekarang orang lebih suka ke Alfamart atau Indomart yang lebih dekat, lalu size tokonya juga terlalu besar," ujarnya.

Terbukti nasib kinerja keuangan minimarket ini jauh lebih baik. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart misalnya hingga kuartal III 2018 lalu berhasil membukukan kenaikan pendapatan neto sebesar 8,77 persen menjadi Rp 49,61 triliun dari sebelumnya Rp 45,61 triliun. Laba bersih juga melonjak hingga 621,15 persen menjadi Rp 344,53 miliar dari periode sebelumnya Rp 47,78 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan indikasi lain dari tumbangnya kinerja ritel ini adalah perlambatan konsumsi rumah tangga yang masih stagnan di kisaran 5 persen.

"Karena kondisi ekonomi yang tidak pasti tahun lalu seperti gejolak kurs rupiah dan tren kenaikan suku bunga, masyarakat khususnya menengah atas memilih menahan belanja, alokasi untuk membeli kebutuhan pokok di supermarket berkurang," ujarnya.

Menurut Bhima, kondisi ini perlu diwaspadai sebab bisa saja berlanjut di tahun ini. "Mungkin akan berlanjut gelombang penutupan ritel selama konsumsi dan daya beli melemah, karena walau pulih tapi prosesnya sangat lambat

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Alhamdulillah, BNI Syariah menerima penghargaan sebagai _Innovative Company in Providing Waqf category Islamic Banking_.

Sabtu, 23 Februari 2019 - 20:35 WIB

BNI Syariah Raih Digital Innovation Award 2019

Jakarta - BNI Syariah kembali dapat mempertahankan posisi sebagai Bank Syariah yang unggul dalam inovasi digital melalui platform digital Wakaf Hasanah dalam acara Digital Innovation Award 2019…

Lenovo 'The Rise of Region' (Foto: Dok. Lenovo)

Sabtu, 23 Februari 2019 - 18:15 WIB

Lenovo Kembali Gelar Turnamen "Rise of Legion" di Berbagai Kota

Lenovo, salah satu merk teknologi terdepan di dunia, kembali mengadakan turnamen eSports tingkat nasional yang bertajuk "Rise of Legion".

Puluhan wartawan dan pelaku usaha mikro dapat pelatihan Vokasional SDM Kewirausahaan

Sabtu, 23 Februari 2019 - 18:00 WIB

Pacu Wirausaha Baru, Kemenkop dan UKM Gelar Pelatihan Kewirausahaan

Kementerian Koperasi dan UKM menggelar pelatihan pembuatan bakery dan roti bagi calon-calon wirausaha pemula termasuk wartawan.

Ilustrasi Kapas

Sabtu, 23 Februari 2019 - 17:25 WIB

Wow! 99 Persen Kapas Bahan Baku Tekstil Masih Impor

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat bahan baku industri tekstil tidak semuanya bisa terpenuhi dari dalam negeri, terutama kapas.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Kemenperin)

Sabtu, 23 Februari 2019 - 17:05 WIB

Industri 4.0 Mampu Lahirkan Unicorn Baru di Indonesia

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, perkembangan industri digital yang sangat pesat diTanahAir telah melahirkan empatunicornatau perusahaanstartupdengan valuasi lebih dari…