Peranan Data center dan Pengaruhnya Pada Ekonomi yang Inklusif di Indonesia

Oleh : Hariyanto | Minggu, 21 Oktober 2018 - 10:03 WIB

Ilustrasi Jaringan Internet (KTSDESIGN/Getty Images)
Ilustrasi Jaringan Internet (KTSDESIGN/Getty Images)

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Akhir September 2018 lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan pada akhir bulan ini akan ada finalisasi revisi terbaru untuk Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, salah satunya Pasal 17 yang menyebutkan tentang penempatan data center harus di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut Asosiasi Penyedia Data center di Indonesia (IDPRO) memaparkan beberapa poin penting dari keunggulan data center di Indonesia, terutama dari segi industri bisnis dan perekonomian.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh IDPRO tentang pengguna data center di Indonesia yang didapat dari Sharing VisionTM, perusahaan pengguna data center di Indonesia baik yang beroperasi secara in-house maupun outsource pada tahun 2014 tercatat ada 45,725 perusahaan dan diprediksi akan meningkat menjadi 101,493 perusahaan pada tahun 2019. 

Dari jumlah tersebut, saat ini hanya terdapat sekitar 34% perusahaan yang menggunakan outsource sebagai pilihan dalam mengoperasikan pusat datanya, sedangkan 66% sisanya masih mengoperasikannya secara in-house. Hal ini dapat dijadikan sebagai peluang bisnis yang cukup besar bagi penyedia data center outsource.

“Sebagai wadah berkumpulnya para pelaku data center di Indonesia, IDPRO menegaskan bahwa keberadaan data center sangat dibutuhkan oleh banyak pihak khususnya para pelaku bisnis di Indonesia untuk menunjang operasional dan keberhasilan bisnis dan produk mereka. Para anggota IDPRO sendiri memiliki konsumen dari beragam industri seperti fintech, startup dan lain-lain. Pelaku industri ini memaksimalkan penggunaan data center di Indonesia demi ikut berkontribusi para pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia.” Ungkap Kalamullah Ramli, Ketua IDPRO. 

Dijelaskan bahwa adanya data center tidak semata hanya menjadi pendukung bagi industri untuk berkembang, namun menjadi landasan kuat bagi mereka untuk bertahan ditengah persaingan perekonomian global yang kuat. Berdasarkan riset Google bersama A.T. Kearney yang dirilis pada September 2017, pertumbuhan perekonomian inklusif di Indonesia sangat didukung dengan hadirnya pemeran baru dari industri startup dan fintech. 

Dari data yang dihadirkan, nilai transaksi perekonomian Indonesia diperkirakan mengambil 3,1 persen pasar retail. Transaksi melalui teknologi finansial atau fintech menyentuh angka Rp 252 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembayaran digital. Tidak ketinggalan untuk startup, perusahaan-perusahaan rintisan berbasis digital, yang menyentuh angka transaksi Rp 40 triliun sampai semester pertama tahun ini.

Dengan memiliki data center di Indonesia, Ketua IDPRO mengakui hal ini akan menjadi sebagai salah satu langkah tepat untuk menunjukkan kapabilitas bangsa Indonesia dalam memajukan perekonomian melalui hal kecil seperti melindungi data pribadi masyarakatnya secara efektif. 

“Tidak bisa dipungkiri bahwa peranan industri seperti fintech dan startup, yang membutuhkan data center dalam negeri, menjadi faktor utama bagi kami untuk terus menyediakan layanan berbasis penyimpanan data demi keamanan dan kenyaman operasional mereka serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dibalik layar.” Jelas Kalamullah.

Mewakili asosiasi, Kalamullah menyarankan agar pemerintah bersama-sama dengan para pelaku bisnis industri untuk mempertahankan prinsip-prinsip sebagaimana tercantum pada regulasi yang ada yaitu tentang penempatan pusat data layanan publik di Indonesia. 

Hal ini didasarkan pada keunggulan seperti: perlindungan data pribadi masyarakat; kepastian hukum dan kepastian usaha data center; terjaganya kedaulatan data serta kemandirian dalam digitalisasi layanan publik dan ekonomi digital; mempertahankan momentum pertumbuhan usaha data center; serta upaya peningkatan kompetensi dam ketersediaan lapangan kerja bagi profesional data center.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Teddy Prasetya, Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 18 Januari 2019 - 09:00 WIB

Akhir 2018, RFB Bukukan Volume Transaksi Melampaui Target 1 Juta Lot

Menutup tahun 2018, PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) berhasil membukukan total volume transaksi 1,178,427 lot atau melonjak 93,08% dibandingkan tahun 2017. Ini merupakan rekor baru dalam…

Marsha Aruan Pemeran Utama Film Dread Out yang Mengejar Capaian 1 Juta Penonton

Jumat, 18 Januari 2019 - 08:54 WIB

Film "DreadOut" Kejar Capaian Satu Juta Penonton

Film horor "DreadOut" berhasil menembus angka 800 ribu penonton sejak dirilis pada tanggal 3 Januari 2019 lalu. Kini film tersebut mengejar capaian angka 1 juta penonton yang dianggap sebagai…

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) (Foto Ist)

Jumat, 18 Januari 2019 - 08:30 WIB

Waskita Karya Targetkan Total Kontrak Baru Rp55 Triliun

PT Waskita Karya (Persero) Tbk atau Waskita Karya akan menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun selama tahun 2019.

Band Saint Loco Formasi Baru bersama Produser Nagaswara, Rahayu Kertawiguna

Jumat, 18 Januari 2019 - 08:28 WIB

Band Saint Loco Muncul Lagi Dengan Format Musik Lebih Segar

Lama menghilang Grup band Saint Loco eksis lagi. Grup band aliran hiprock itu baru saja merilis single berjudul Nakal diawal tahun 2019 ini. Grup band yang kini beranggotakan, Berry Manoch (Rapper),…

Joe Taslim Jadi Pemain Sekaligus Produser Film "Hit N Run"

Jumat, 18 Januari 2019 - 08:06 WIB

Joe Taslim Produseri Sekaligus Bintangi Film Hit N Run Bergenre Aksi Komedi

Di tengah maraknya film bergenre horor dan drama, munculnya sebuah film bergenre Aksi Komedi tentu bakal menarik perhatian. Itulah yang ditawarkan oleh Screenplay Films yang bekerjasama dengan…