Sempat Tak Dapat Restu Orang Tua, Yudha Fajrin si Pedagang Satay Kini Sukses di Dunia Bisnis Indonesia

Oleh : Ridwan | Selasa, 16 Oktober 2018 - 18:05 WIB

Yudha Fajrin pendiri sekaligus pemilik PT Kato Kuliner Indonesia (Foto: Ridwan/Industry.co.id)
Yudha Fajrin pendiri sekaligus pemilik PT Kato Kuliner Indonesia (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Mulai berbisnis sejak usia 15 tahun, Yudha Fajrin, pria kelahiran Palembang 5 Maret 1988 yang merupakan pemilik dari Satay Kato dan beberapa produk dengan brand Kato mengaku tak pernah kapok untuk berbisnis. 

Pria yang memulai bisnisnya dari jual beli handphone second, kemudian merambah ke bisnis kaos sablon, batik, instagram management dan beberapa jenis lainnya yakin bahwa bisnis adalah passion-nya. 

Meski tak mendapat dukungan dari orang tua, Yudha yakin menjadi seorang pengusaha jauh lebih memiliki kepuasan tersendiri daripada menjadi karyawan. 

Sempat menjadi seorang karyawan di beberapa perusahaan besar, Yudha merasa bahwa apa yang dikerjakannya di kantor hanyalah untuk membesarkan perusahaan orang lain. Sementara tenaga dan pikirannya ia habiskan untuk bekerja di perusahaan tersebut. 

"Saya yang bekerja, tetapi yang besar perusahaan orang. Kenapa saya tidak coba membuat perusahaan sendiri. Memang tidak ada gengsinya, dan orang tua sulit untuk mengungkapkan ke orang lain ketika dapat pertanyaan tentang pekerjaan anak. Tetapi, saya akan buktikan," kata Yudha saat ditemui Industry.co.id di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Hingga saat ini, Yudha mengaku bahwa orang tuanya masih sering mengatakan bekerja di kantor itu 'enak'. Risiko kerugian masih menjadi kekhawatiran orang tuanya. Namun, tak pernah terpengaruh, Yudha yang berpendirian kuat tetap yakin untuk menjadi seorang pengusaha sukses di hari esok.

Menurutnya, seluruh bisnis di dunia ini pasti ada pasarnya, tinggal bagaimana kita bisa menggapainya. Permasalahannya, lanjut Yudha, tinggal bagaimana kita yakin untuk dapat menggapai market tersebut. 

"Untuk menggapai pasar yang kita tuju, harus punya brand, Dan brand itu harus punya karakter, dan tidak bisa dinegosiasi. Itu kunci awal saya dalam memulai bisnis," tetangnya. 

Selain itu, menurut Yudha, risiko dan keuntungan yang didapatkan dari berbisnis masih lebih besar keuntungannya. Sementara teori ekonomi yang mengatakan, semakin tinggi risiko, keuntungan semakin besar (high risk, high return) mampu ia patahkan.

Baginya, Satay Kato merupakan salah satu bisnisnya yang kecil risiko dan besar keuntungan. Bahkan, ia juga sempat mengalami aksi premanisme ketika berjualan satay. Namun, Yudha dengan tekad yang kuat tidak pernah gentar, apalagi putus asa dalam berbisnis. 

"Sekarang semua bergantung bagaimana membuat produk dan membuat marketing message. Bukan bagaiaman kita menjalankan bisnis. Tetapi, bagaimana kita melihat bisnisnya. Semua kembali ke bagaimana sudut pandang kita. Tidak perlu mendengarkan saran orang yang tidak berbisnis," tegas Yudha. 

Kecanduannya dalam berbisnis, membuat Yudha selalu semangat untuk berekspansi dengan menambah produk dan memjangkau pasar yang lebih luas. Produk yang juga sedang dan akan digarapnya, antara lain Kato Kopi, Kato Katsu, Properti Kato House, Kato Clothing, dan Kato Steak. Namun saat ini, Yudha fokus untuk membesarkan Satay Kato dengan sistem franchise-nya yang sudah sangat banyak permintaan, baik dari kota-kota besar di Jawa maupun di luar pulau Jawa. 

Saat memulai usaha bisnis kuliner bernama Satay Kato pada 20 Agustus 2016, Yudha Fajrin merogoh kocek sebanyak Rp30 juta. Uang tersebut jadi modal awal berdagang sate dengan gerobak kaki lima yang digelar di  Kemang, Jakarta Selatan.

Modal Rp30 juta dialokasikan untuk gaji karyawan dan sewa tempat selama 3 bulan di  Kemang. Satay Kato digelar dengan tenda gerobakan dan 4 buah kursi, Yudha memasak sendiri dan dibantu 2 karyawan. Setiap hari sate selalu habis. Harga Satay Kato murah meriah hanya Rp20.000 per porsi. 

"Saya awalnya berbisnis bertiga tapi karena ada perbedaan sudut pandang, akhirnya saya jalankan sendiri. Hingga saat ini Satay Kato sudah mempunyai 27 cabang di seluruh Indonesia, dari 27 cabang tersebut, 6 punya saya (Yudha) dan sisanya franchise. Untuk omzet sekitar Rp2-2,5 juta per hari per outlet," tegas pria yang hobi masak ini. 

Menurut Yudha, karakteristik brand itu penting. Dari pertama kali buka, dirinya menegaskan bukan menyajikan Sate Taichan, tapi Satay Pedas Kato. Perbedaannya yakni, Sate Taichan menggunakan daging ayam bagian dada, sementara Kato menggunakan bagian paha.
 
Sambal Taichan mentah, sedangkan Satay Kato sambal matang. Sate Taichan belum diberikan bumbu. Sedangkan Satay Kato, satenya sudah diberi bumbu jadi tanpa sambal sudah memiliki rasa.

Lebih lanjut, Yudha menuturkan, market bukanlah suatu tantangan besar, melainkan sumber daya manusia (SDM) yang menjadi tantangan besar buat saya untuk berbisnis.

"Saat ini karyawan satu konter itu 4-5 orang, jika ditotal secara keseluruhan mencapai 135 orang," imbuhnya. 

Pria lulusan Fakuktas Ekonomi Managenemt Universitas Trisakti ini yakin akan tumbuh Yudha-Yudha baru di luar sana yang lebih sukses dari pada dirinya. Asalkan, mereka memulai bisnisnya dengan tidak menperhitungkan untung atau rugi nya saja, tetapi mengedepankan prinsip 'Jangan Perhitungan dan Jangan Takut Gagal'. 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli (Foto Ist)

Minggu, 18 November 2018 - 12:18 WIB

Selaras Pemikiran Rizal Ramli, Pemerintah dan Bank Indonesia Wajibkan Eksportir Bawa Pulang Devisa

Rencana Bank Indonesia (BI) dalam menerbitkan aturan baru yang mewajibkan eksportir membawa devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri pada 1 Januari 2019 selaras dengan ide dan gagasan ekonom…

Peneliti berprestasi ke Taiwan

Minggu, 18 November 2018 - 11:15 WIB

Kementerian Pertanian Berangkatkan Peneliti Berprestasi ke Taiwan

INDUSTRY.co.id -

Taiwan Kementerian Pertanian memberangkatkan Peneliti Berprestasi untuk mempelajari inovasi teknologi pertanian modern khususnya bidang Hortikultura…

Petani Padi (Ilustrasi)

Minggu, 18 November 2018 - 10:46 WIB

Agroekologi Bisa Jadi Solusi Pertanian Masa Depan

Agroekologi sesungguhnya memiliki kemampuan menghasilkan produksi pertanian lebih tinggi dibanding pola pertanian konvensional. Sayangnya, agroekologi masih belum mendapatkan perhatian dan dukungan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:34 WIB

KTT APEC akan Bahas Konektivitas Untuk Pertumbuhan Inklusif

Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2018 hari kedua, Minggu (18/11/2018) di Port Moresby, Papua Nugini, antara lain akan membahas konektivitas untuk pertumbuhan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:29 WIB

Presiden Jokowi Hadiri Pertemuan Dewan Bisnis APEC

Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan Dewan Bisnis Asia-Pacific Economic Cooperation atau APEC Business Advisory Council (ABAC) di Port Moresby, Papua Nugini, Sabtu (17/11/2018).