Adhi S Lukman : Industri Makanan Dan Minuman Indonesia Butuh Insentif dan "Cluster Industry"

Oleh : Nandi Nanti | Selasa, 29 November 2016 - 12:54 WIB

Adhi S Lukman-Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan Dan Minuman Indonesia
Adhi S Lukman-Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan Dan Minuman Indonesia

INDUSTRY.co.id - Industri makanan minuman di dalam negeri cukup dominan sebagai pemberi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, yakni sekitar 31% dari sektor industri non-migas. Sektor industri makanan dan minuman pula ikut memberikan sumbangan yang cukup signifikan terhadap angka inflasi nasional. Untuk itu, dibutuhkan penanganan yang serius terhadap industri ini, termasuk insentif-insentif agar pelaku industri makanan dan minuman nasional bisa berkembang dan menjadi raja di pasar dalam negeri.

Agar tak melulu hanya menjadi sasaran eksploitasi pasar bagi produk-produk makanan dan minuman asing, mengingat Indonesia dengan lebih dari 250 juta penduduk telah dipandang sebagai pasar yang sangat menarik, dibutuhkan industri makanan minuman yang mampu berproduksi dengan skala ekonomi yang layak dengan ditopang manajemen yang baik plus pemanfaatan teknologi. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Hal ini bisa dimaklumi, karena pasar Indonesia berkontribusi sebesar 40% terhadap pasar di ASEAN.

Indonesia ini merupakan pasar yang sangat penting di ASEAN. Dan saya menganggap bahwa Asean itu adalah glitter bagi Indonesia, yang perlu digarap secara serius dan bersama-sama. Beberapa lembaga survey juga menyebutkan, bahwa pasar ASEAN ini memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk pangan olahan, ujarnya saat ditemui Nandi Nanti dari Industry.co.id
Adhi berpendapat, untuk mendorong industri makanan dan minuman semakin berjaya, layak disiapkan sebuah konsep cluster industry, sebuah kluster yang disiapkan agar industri mampu memproduksi sekaligus mendapatkan jaminan kelangsungan supply bahan baku.

Konsep ini bisa terwujud lewat didirikannya kawasan industri terpadu yang akan mengkombinasikan antara kawasan industri pertanian untuk pemenuhan bahan baku dalam industri makanan dan minuman, dan kawasan industri pengolahan. Sehingga kawasan industri tersebut benar-benar lengkap dan siap membangun industri makanan dan minuman secara terintegrasi, ujarnya.
Untuk mengetahui seberapa besar pertumbuhan industri makanan dan minuman nasional, sekaligus pandangannya mengenai cluster industry, simak perbincangannya kepada Industry.co.id berikut ini.

Seperti diketahui, Industri makanan dan minuman memiliki peran penting terhadap perekonomian nasional. Bisa Anda ceritakan perkembangan industri mamin saat ini?

Industri makanan dan minuman di Indonesia memegang kontribusi yang cukup besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Menyumbang 31% dari sektor industri non-migas. Pertumbuhannya pun cukup baik dari tahun ke tahun.

Tahun lalu pertumbuhan (Industri makanan dan minuman) sebesar 7,5%. Tahun ini, di triwulan pertama 2016 juga mencapai 7,5%. Untuk triwulan ke II, pertumbuhannya diharapkan lebih tinggi dari 8%, mengingat laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap produksi industri makanan dan minuman di perusahaan-perusahaan menengah maupun di usaha kecil semuanya meningkat. Saya kira ini satu hal yang positif.

Bagaimana Anda melihat prospek industri mamin di masa depan?

Kalau kita melihat ke depan, industri makanan dan minuman saya kira prospeknya cukup baik, meskipun banyak terkendala oleh ketersediaan bahan baku dan bahan penolong produksi yang masih rendah, dan semuanya masih impor. Inilah kondisi riil dari industri makanan dan minuman. Meskipun begitu, perkembangan industri ini cukup cepat karena didukung oleh pasar. Seperti Anda tahu, pasar di Indonesia ini cukup besar, dengan potensi cukup baik, mengingat jumlah populasi manusianya mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Perlu Anda ketahui, bahwa pasar Indonesia berkontribusi terhadap pasar di ASEAN sebesar 40%.
Jadi saya pikir, Indonesia ini merupakan pasar yang sangat penting di ASEAN. Dan saya menganggap bahwa Asean itu adalah glitter bagi Indonesia, yang perlu digarap secara serius dan bersama-sama.

Banyak investasi asing yang masuk ke sektor Mamin. Negara manakah yang terbesar?

Dalam laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada semester I/2016, disebutkan bahwa industri makanan dan minuman pada sisi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berada di peringkat pertama, dan dari sisi Penanaman Modal Asing (PMA) berada di peringkat lima. Tapi secara rata-rata, gabungan dari PMDN dan PMA, industri makanan dan minuman berada pada ranking ketiga. Kalau dilihat dari negara yang berinvestasi, banyak sekali, seperti Jepang, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Singapura serta Arab Saudi.
Daerah mana saja di Indonesia yang menjadi tujuan investasi Tersebut?
Kalau untuk industri hilir, masih banyak di Pulau Jawa. Kalau kita lihat dari pendapatan produk domestik bruto (PDB) pun hampir 60% berasal dari Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tugas pemerintah agar bisa mendorong daerah-daerah lain di luar Jawa.

Bagaimana dengan ekspor kita di industri makanan dan minuman?

Saat ini, ekspor kita di industri makanan dan minuman hanya sebesar Rp 6 miliar. Dan dari tahun ke tahun tidak ada pertumbuhan, hanya pada kisaran tersebut.
Concern Pemerintah terlalu dengan infrastruktur sehingga industrinya tak tersentuh?
Saya kira memang perlu pembangunan infrastruktur terlebih dahulu, sehingga investor mau berinvestasi di sini, baru kemudian secara otomatis industrinya mengikuti.
Namun, perlu diingat, bahwa kendala industri untuk bisa berkembang maju bukan hanya masalah infrastruktur, tapi juga sinkronisasi dan sinergi aturan dan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah, yang kadang masih ada perbedaan dan saling overlap.

Sejauh ini bagaimana tanggapan GAPMMI terhadap dukungan pemerintah, apakah sudah optimal?

Pemerintah pasti mendukung langkah-langkah yang dilakukan oleh GAPMMI, apalagi industri makanan dan minuman adalah salah satu industri andalan dan industri prioritas. Namun demikian, bagi GAPMMI dukungan pemerintah masih belum optimal. Hal ini disadari oleh GAPMMI, bukan karena tidak niat (dalam mendukung) dari pemerintah, namun karena dari implementasinya.
Seperti saya sampaikan di atas, bahwa perlu ada sinkronisasi kebijakan dari pemerintah, baik kebijakan antarkementrian, antarinstansi, maupun antara pemerintah pusat dan daerah. Jangan sampai ketika kebijakannya di atas bagus, tapi implementasi di lapangan terjadi tumpang tindih regulasi dan kebijakan. Hal ini juga merupakan kendala yang harus kita segera benahi.
Selain itu, perlu adanya pembenahan data-data yang diperlukan oleh pemerintah. Kalau berbicara industri, peran data ini sangat penting. Dengan data yang benar, akurat, dan valid, maka kebijakan yang diambil oleh pemerintah akan sinkron dengan kebutuhan industri, dan industri pun akan berjalan dengan baik.

Bagaimana soal daya saing industri?

Dengan potensi yang sangat besar tersebut, saya lihat daya saing industri makanan dan minuman di Indonesia masih rendah dibanding negara-negara ASEAN. Rata-rata di ranking 4 5 di ASEAN. Kita masih kalah dari Singapura, Malaysia, Thailand. Produksi kita masih berimbang dengan Vietnam maupun Filipina, berada di posisi middle.
Oleh sebab itu, Pemerintah juga perlu memberikan insentif. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat daya saing. Selain itu, sebagai upaya untuk pemanfaatan dan pengolahan bahan mentah sebagai industri intermediate, kemudian hasilnya untuk supply pada industri makanan dan minuman. Jadi, industri agro dan pangan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi.
Untuk Anda ketahui, bahwa saat ini negara-negara maju sudah tidak memikirkan perlu tidaknya impor bahan baku. Tapi, yang dipikirkan adalah Global Value Chain (GVC). Sedangkan, saat ini GVC Indonesia di ASEAN masih di ranking lima.

Pemanfaatan Kawasan Industri bisa menjadi nilai tambah?

Ya. Kita harus mendorong pemerintah memfasilitasi pemanfaatan kawasan-kawasan industri untuk menarik investor-investor agar ada GVC di Indonesia. Kita tidak perlu impor lagi, karena semua sudah ada. Dengan adanya GVC di sini, maka nilai tambah terbesarnya ada di Indonesia. Dengan adanya nilai tambah tersebut, otomatis akan menjadi sebuah keuntungan bagi Indonesia, terutama untuk peningkatan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan daya saing, dan lain sebagainya.
Dengan GVC ini tentu banyak sekali manfaatnya, antara lain akan ada transfer teknologi, ada transfer know how, ada inovasi yang berkembang, ada peningkatan sumber daya manusia (SDM), serta ketersediaan bahan baku untuk industri. Dan inilah konsep industri yang harus diterapkan oleh Indonesia.
Soal kebutuhan bahan baku mencapai 70% dari produksi juga menjadi kendala bagi industri, Apakah perlu dibentuk kawasan industri khusus penyedia bahan baku di Indonesia?
Saya kira perlu dibuat dan dikembangkan konsep cluster industry. Karena, jika hanya mengharapkan bahan baku yang dihasilkan dari usaha yang bukan diindustrialisasi, maka skala ekonominya tidak akan tercapai, dan akan selalu kekurangan bahan baku. Untuk memenuhinya, terpaksa harus impor.
Nah, maka penting untuk membuat cluster industry yang mampu memproduksi dan memberi jaminan kelangsungan supply bahan baku, terutama untuk industri makanan dan minuman.
Mungkin, konsep kawasan industri terpadu yang perlu dikembangkan ke depannya adalah mengkombinasikan antara kawasan industri pertanian untuk pemenuhan bahan baku dalam industri makanan dan minuman, dan kawasan industri pengolahan. Sehingga kawasan industri tersebut benar-benar lengkap dan siap membangun industri makanan dan minuman secara terintegrasi.
Mungkin kita bisa belajar ke Thailand, di mana konsep industrinya menjadi satu cluster industry yang memiliki lahan untuk pertanian, pengolahan, dan pabrik untuk memproduksinya menjadi satu kawasan terintegrasi.

Di Kendal, Jawa Tengah, sedang dibangun kawasan industri baru, dengan banyak insentif yang ditawarkan. Apa tanggapan GAPMMI?

Bagi saya, pemilihan Kendal sebagai kawasan industri cukup bagus, mengingat daerah Kendal ini cukup strategis. Pertama, lokasi Kendal ini bersebelahan dengan ibukota Jawa Tengah, Semarang, yang sudah memiliki infrastruktur yang lengkap dan bagus. Ada pelabuhan, ada bandara, dan jalan raya juga sudah bagus dan lebar. Kedua, Kendal ini berada di central of java dan berada di jalur utama distribusi di Jawa, yakni jalur Pantura. Seperti yang saya sampaikan tadi, Pulau Jawa merupakan pusat industri di Indonesia. Sehingga sangat sangat mudah bagi industri di Kendal untuk mendistribusikan, baik bahan baku maupun bahan hasil produksinya.
Selain itu, Upah Minimum Provinsi (UMP) di sana juga masih lebih murah dibandingkan di daerah lainnya di Pulau Jawa, terutama kalau dibandingkan dengan Jabodetabek.
Dan yang ketiga, ini yang juga sangat penting. Pemerintah daerah di sana juga sangat mendukung adanya kawasan industri berdiri di Kendal. Dan yang keempat, kita bicara tentang kultur masyarakat Jawa yang merupakan masyarakat pekerja keras dan gigih.
Dan yang kelima, banyak sumber daya yang belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk industri makanan dan minuman. Karena Jawa Tengah merupakan salah satu penghasil terbesar sektor pertanian dan holtikultura di Indonesia. Saya kira kawasan industri seperti ini perlu dikembangkan secara baik, sehingga investor mau masuk dan berinvestasi disana.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Crown Group (Ist)

Senin, 20 November 2017 - 14:30 WIB

Dalam Satu Malam Crown Group Berhasil Meraih Dua Penghargaan Bergengsi

Sebuah menara apartemen di kawasan Sydney Utara yang dibangun oleh pengembang Australia terkemuka telah memenangkan hadiah utama pada acara penghargaan industri konstruksi terkemuka di benua…

Deisti Astriani Tagor, istri Ketua DPR RI Setya Novanto (Foto Ist)

Senin, 20 November 2017 - 14:22 WIB

KPK Periksa Istri Setya Novanto Sebagai Mantan Komisaris

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Deisti Astriani Tagor, istri Ketua DPR RI Setya Novanto terkait kasus KTP-elektronik (KTP-e) dalam kapasitasnya sebagai mantan Komisaris PT Mondialindo…

Ilustrasi tambang batu bara (Foto Ist)

Senin, 20 November 2017 - 14:14 WIB

Perusahaan Batu Bara Indonesia Siap Dominasi Pasar Tiongkok

PT Borneo Pasifik Global (BPG) yang mendapatkan kepercayaan mewakili Indonesia pada pameran pertambangan batu bara atau "China Coal and Mining Expo (CCME)" di Beijing beberapa waktu lalu, menyatakan…

Rosan Roeslani Ketua Umum KADIN (dok KADIN INDONESIA)

Senin, 20 November 2017 - 14:00 WIB

2018, Kadin Prediksi Perekonomian Indonesia Tumbuh 5,3 Persen

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani mengatakan kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2018 diperkirakan akan lebih baik dari tahun ini.

Agincourt Resources Resmikan Amphitheatre Sopo Daganak di Tapanuli Selatan

Senin, 20 November 2017 - 13:59 WIB

Agincourt Resources Resmikan Amphitheatre Sopo Daganak di Tapanuli Selatan

Perusahaan pengelola tambang emas Martabe PT Agincourt Resources meresmikan gedung baru gelanggang pertunjukan terbuka(amphitheatre) Sopo Daganak berkapasitas 500 penonton di Jalan 2 Desa Napa,…