Mendorong Adopsi Bangunan Hijau

Oleh : Bong Parnoto | Rabu, 18 Juli 2018 - 14:05 WIB

Bong Parnoto, Managing Director PT Rajawali Parama Konstruksi, distributor resmi Armstrong Fluid Technology, Inc.
Bong Parnoto, Managing Director PT Rajawali Parama Konstruksi, distributor resmi Armstrong Fluid Technology, Inc.

INDUSTRY.co.id - Seiring gencarnya pembangunan infrastruktur, pasar properti Indonesia yang sempat meredup sepertinya akan kembali menggeliat. Sejumlah lembaga riset pasar seperti Cushman and Wakefield memprediksi 2018 akan menjadi tahun rekor banyaknya proyek gedung perkantoran yang rampung di Jakarta. Harga tanah yang mahal juga mendorong pengembang membangun proyek residensial vertikal seperti apartemen dan rumah susun yang akan membuat kota-kota besar di Indonesia semakin dipenuhi gedung-gedung tinggi.

Data Skyscraper Center mungkin bisa menggambarkan perubahan lanskap ibu kota dalam satu dekade terakhir. Pada periode 2000-2007 ada penambahan 38 gedung tinggi (lebih dari 10 lantai) dan satu dekade setelahnya bertambah hampir 200 unit. Jakarta telah masuk jajaran kota besar dunia yang paling banyak memiliki pencakar langit. Sampai awal 2018, jumlah gedung di ibu kota dengan ketinggian lebih dari 100 meter telah mencapai 382 buah.

Meningkatnya jumlah bangunan tinggi (high rise building) di satu sisi menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan semakin meningkatnya konsumsi energi dan emisi. Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut bangunan menyumbang 30-40% faktor-faktor pendorong perubahan iklim yaitu konsumsi energi, emisi gas rumah kaca, dan limbah. Celakanya, semakin tinggi bangunan, semakin besar pula jejak karbonnya.

Institut Energi di University College London dalam penelitian yang dipublikasikan tahun 2017 menyimpulkan bahwa bangunan tinggi di ibu kota Inggris mengonsumsi energi dua kali lebih banyak dibandingkan gedung enam tingkat atau kurang dengan luasan lantai yang sama. Tingginya konsumsi energi itu, menurut kesimpulan sementara para peneliti, merupakan konsekuensi dari ketinggian gedung. Bangunan tinggi akan lebih banyak terpapar sinar Matahari dan angin sehingga dibutuhkan lebih banyak energi untuk mendinginkan atau menghangatkannya.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran lingkungan, telah muncul kesadaran untuk membangun gedung tinggi yang lebih hemat dalam penggunaan energi dan pembuangan emisi yang dikenal sebagai konsep bangunan hijau (green building) atau bangunan berkinerja tinggi (high performance building). Ada sejumlah karakteristik yang harus dimiliki sebuah bangunan berpredikat hijau. Namun, yang paling menonjol tentu saja penggunaan energi, air, dan sumber daya secara efisien. 

Sejumlah negara juga telah mengembangkan sistem rating untuk menilai sebuah bangunan layak mendapat predikat hijau seperti Green Mark di Singapura dan Green Star di Australia. Otoritas Bangunan dan Konstruksi (BCA) Singapura mengklaim bahwa bangunan tinggi bersertifikat hijau Green Mark bisa menghemat pemakaian energi sampai 30-40% dibandingkan bangunan biasa.

Biaya dan insentif

Hambatan utama bagi pengadopsian konsep bangunan hijau adalah biaya konstruksi high performance building masih lebih mahal dibandingkan bangunan konvensional. Tambahan biaya ini bervariasi di berbagai negara. Misalnya, membangun gedung berlabel Green Mark di Singapura bisa lebih mahal 1%-5% dibandingkan gedung biasa. Sebuah makalah di Jurnal Energy and Buildings terbitan Januari 2016 mencoba mengompilasi berbagai penelitian mengenai gedung hijau dan menemukan perbedaan biaya bisa sampai 21%.

Singapura paling agresif mendorong adopsi konsep gedung hijau baik untuk bangunan baru maupun konversi bangunan lama. Dalam sepuluh tahun sejak label Green Mark dicanangkan pada 2005, sudah lebih dari 2.100 bangunan tinggi di Singapura berlabel hijau termasuk ratusan unit flat HDB atau apartemen rakyat. Negeri mini itu menargetkan 80% bangunan sudah berlabel hijau pada 2030.

Untuk mendorong pengadopsian konsep green building, sejumlah negara memberikan insentif. Singapura sejak 2009 mengalokasikan uang tunai S$100 juta sebagai insentif bagi pengembang dan biro arsitek yang membangun dan merancang gedung hijau.

Di Indonesia, adopsi gedung hijau memang masih berjalan lambat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menerbitkan Peraturan Gubernur No. 28/2012 tentang Bangunan Hijau dengan komitmen mengurangi konsumsi energi, air dan emisi karbondioksida sebesar 30% hingga 2030. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga mengeluarkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 02/2015 yang mewajibkan pembangunan baru gedung pemerintah menerapkan prinsip bangunan hijau. Sampai 2017 baru 260 gedung yang telah disertifikasi hijau oleh pemerintah, ditambah 20 gedung disertifikasi oleh Green Building Council Indonesia.

Pemerintah Indonesia memang belum memberikan insentif untuk gedung hijau. Namun, tanpa insentif pun pembangunan gedung hijau tetap mampu memberikan keuntungan secara finansial bagi investor pemilik gedung. Modal awal yang lebih besar untuk membangun gedung hijau akan dikompensasi oleh biaya operasional yang jauh lebih rendah. Apalagi biaya konstruksi bangunan rata-rata hanya menyumbang 15% dari seluruh ongkos kepemilikan bangunan (life cycle cost) yang sebagian besar dibelanjakan untuk operasional dan perawatan.

Kunci di pendingin ruangan

Di wilayah tropis seperti Singapura, ongkos energi listrik bisa mencakup dua per tiga biaya operasional sebuah gedung (Shi-Ming dkk, 2011). Berdasarkan pengalaman kami terlibat dalam proyek gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, maupun apartemen; sebanyak 60% ongkos listrik bangunan tinggi di Indonesia dibelanjakan untuk pengoperasian pendingin ruangan atau dikenal sebagai sistem heating ventilation and air conditioning (HVAC). Di Australia, angkanya bahkan bisa mencapai 67% sesuai laporan Commercial Building Disclosure Maret 2015. Artinya, sistem pendingin ruangan menjadi salah satu kunci utama dalam efisiensi energi bangunan di wilayah tropis.

Sebagai gambaran, tagihan listrik untuk sistem pendingin ruangan gedung berukuran setara salah satu mal terbesar di Jakarta bisa mencapai Rp10 miliar per bulan. Karena itu, pemasangan sistem HVAC yang hemat energi bisa menjadi solusi antara sebelum sebuah gedung melangkah penuh meraih label hijau. Solusi pendingin ruangan yang sesuai dengan prinsip tata kelola gedung berkinerja tinggi memang jauh lebih mahal, bahkan harganya 50% lebih tinggi dibandingkan sistem HVAC konvensional. Namun, investasi itu akan terbayarkan oleh lebih rendahnya biaya listrik yang harus dikeluarkan.

Sistem pendingin ruangan yang efisien saat ini sudah mampu menghemat 30-40% konsumsi listrik gedung menurut Climate Technology Centre and Network. Dengan solusi HVAC yang efisien, termasuk pemakaian pompa fluida berteknologi tinggi, bayangkan berapa biaya listrik yang bisa ditekan. Penghematan ini memungkinkan investasi pemasangan sistem pendingin ruangan yang efisien bisa terbayar dalam tiga tahun atau kurang.

Penghematan bisa sangat signifikan untuk konversi atau retrofit gedung lama menjadi berlabel hijau, terutama untuk bangunan yang sudah berusia lebih dari 10 tahun. Pengalaman di lapangan menunjukkan, investasi penggantian sistem HVAC yang efisien di bangunan lama setara dengan biaya listrik pendingin ruangan tanpa retrofit selama dua tahun.

Selain pendingin ruangan, tentu saja diperlukan implementasi berbagai solusi hijau lain yang bisa membuat bangunan tinggi menjadi lebih ramah lingkungan, termasuk manajemen air bersih dan limbah. Momen Ulang Tahun Jakarta dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap bulan Juni bisa menjadi tonggak bagi seluruh pemangku kepentingan di industri properti untuk mulai mengarah ke solusi hijau meskipun setahap demi setahap. Dengan demikian, kita bisa berperan menjadikan lanskap Jakarta dan kota-kota besar lain di masa depan penuh dengan gedung tinggi yang tak hanya mencakar langit namun juga menyebarkan kebaikan di Bumi.

Oleh Bong Parnoto, Managing Director PT Rajawali Parama Konstruksi, distributor resmi Armstrong Fluid Technology, Inc.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 20 Agustus 2018 - 06:31 WIB

Dampak Gempa 7 SR, Kegiatan Pendidikan di NTB Diliburkan

Gubernur Nusa Tenggara Barat TGB Zainul Majdi menginstruksikan aktivitas pendidikan pada berbagai tingkatan agar diliburkan sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian pascagempa 7 SR pada…

BMKG Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 20 Agustus 2018 - 06:25 WIB

Hingga Senin Pagi, Gempa Masih Terjadi di Lombok NTB

Gempa bumi susulan dua kali masih terjadi masing-masing di Lombok Timur dan Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Senin pagi (20/8/2018) setelah sebelumnya diguncang dengan kekuatan 7 Skala Richter…

Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo (Foto Rizki Meirino)

Senin, 20 Agustus 2018 - 04:07 WIB

Semarakkan HUT RI, Mandiri dan PPA Gelar Aksi Sosial di Papua Barat

Bank Mandiri bersama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) menggelar serangkaian aksi sosial di Merauke dan Sorong, Papua Barat untuk menyemarakkan peringatan HUT RI ke-73. Rangkaian itu meliputi…

Mensos Idrus Marman dan Dirjen irjen Perlindungan dan Jaminan Sosial, Harry Hikmat (Foto Industry.co.id)

Senin, 20 Agustus 2018 - 04:00 WIB

Pemerintah Sertifikasi Data Korban Gempa di Lombok NTB

Kementerian Sosial sedang melakukan verifikasi terhadap data korban yang meninggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) gempa bumi 7 Skala Richter (SR), Minggu (19/8/2018) malam.

Ilustrasi Gempa

Senin, 20 Agustus 2018 - 03:55 WIB

Gempa 5 SR Guncang Seram Maluku Bagian Timur

Gempa Bumi dengan kekuatan 5 Skala Ricther (SR) mengguncang Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, pada Minggu (19/8/2018) malam.