Wayang Indonesia Dikagumi Dunia Tapi Merana di Negeri Sendiri

Oleh : Amazon Dalimunthe | Selasa, 12 Juni 2018 - 09:53 WIB

Gaura Mancacaritadipura dalang berdarah Australia, yang telah menjadi Warga Negara Indonesia, menjadi utusan Konferensi Wayang Unesco di Paris .
Gaura Mancacaritadipura dalang berdarah Australia, yang telah menjadi Warga Negara Indonesia, menjadi utusan Konferensi Wayang Unesco di Paris .

INDUSTRY.co.id - PARIS-- Sejumlah penggiat seni wayang yang tergabung di Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), menunjukkan kebolehannya, dan menjadi bagian penting dari pertemuan ‘7th General Assembly’ yang berlangsung di Markas UNESCO, Paris, pekan lalu. Dalam pertunjukan wayang orang yang disaksikan ratusan orang dari berbagai Negara ini sekaligus menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia adalah rumah bagi wayang.

Gaura Mancacaritadipura, dalang berdarah Australia namun sudah menjadi warga negara Indonesia, yang diutus oleh Senawangi untuk mengikuti acara ini mengatakan bahwa harusnya dia dan rombongan merasa bangga dapat memperlihatkan kehebatan wayang Indonesia kepada masyarakat dari manca negara. “Tentu kita bangga dapat memperlihatkan hal ini kepada masyarakat dari manca Negara,” katanya.  

Selain mengikuti sidang ‘7th General Assembly’, delegasi Indonesia diberi kesempatan tampil mengisi pertunjukan. Menyuguhkan gabungan  Wayang Orang dan Wayang Kulit dalam durasi pendek, bertajuk Kresna Duta. “Ini merupakan suatu inovasi. Karena ada dua sisi kelir (layar) dengan dua dalang tampak depan belakang. Kemudian permainan ini dikolaborasikan dengan Wayang Orang. Ini cukup menarik. Saya banyak mendengar beberapa delegasi dari Negara lain, setelah menyaksikan mereka mengacungi jempol,” ujar Gaura.

Menurut Ketua Delegasi Indonesia, Dra. Eny Sulistyowati S.Pd, MM target mengikuti ajang ini antara lain memelihara kepercayaan dunia melalui badan dunia UNESCO, bahwa Wayang Indonesia tetap lestari, dijaga dan dikembangkan.

“SENAWANGI sebagai lembaga yang sudah terakreditasi di UNESCO punya kewajiban untuk mengikuti sidang ini. General Assembly secara khusus dimaksudkan untuk meninjau keadaan kerjasama dengan UNESCO. Jika kita tidak pernah hadir mengikuti sidang, dan tidak pernah memberi laporan, maka akreditasi kita dicabut,” terang Eny Sulistyowati.

 “Ini kolaborasi yang solid. Diplomasi Indonesia mempromosikan Wayang secara mandiri. Multi track diplomacy. Tidak dilakukan Negara (Pemerintah), tapi dari para penggiat wayang dari lembaga non-Pemerintah (NGO). Penampilannya bagus. Mengantar kebudayaan Indonesia semakin mendunia,” ujar Jeff Cottaz, Pengamat Budaya Indonesia, berkebangsaan Perancis.

Gaura Mancacaritadipura mengharapkan, Pemerintah Indonesia dapat lebih berperan aktif mengurus wayang. Sejak 7 November 2003, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pengakuan ini sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Sebab terbukti wayang berhasil mengangkat citra bangsa, mengangkat nama bangsa, harkat dan martabat bangsa di forum dunia.

“Pemerintah punya tanggung jawab besar terhadap masalah ini. Pemerintah kurang agresif mengurus budaya, terutama wayang. Secara kualitatif maupun kuantitatif Pemerintah kurang serius mengurus wayang. Tentu kita mengharapkan hal itu bisa ditingkatkan,” ujar Gaura.

Pada sisi lain Jeff Cottaz, menyampaikan tentang pentingnya acara ini. Melalui forum ini setidaknya, wayang dapat dijadikan sebagai media ekspresi yang memperlihatkan karakter sebuah bangsa. Namun pengamat budaya yang pernah tinggal di Indonesia ini sekaligus menyayangkan, wayang justru terlantar dan terpinggirkan di negerinya sendiri.

“Kami di sini, di UNESCO mengenal wayang sebagai budaya dunia. Tapi ingin saya katakan, sebelum mendunia wayang harusnya me-Nusantara. Saya pernah tinggal di Indonesia, banyak sekali daerah yang tidak mengerti sama sekali wayang. Walau SENAWANGI sudah berupaya, tapi masih harus terus ditingkatkan. Upaya mengenalkan wayang harus berkelanjutan terutama pada generasi muda. supaya wayang itu menjadi buah pikiran,” saran Jeff Cottaz.

Ikut serta para penggiat seni dan budaya lainnya, antara lain; Sumari, S.Sn., (Sekretaris Umum SENAWANGI), Eddie Karsito, Wahyu Wulandari, dan Ina Sofiyanti, tim pendukung event menyeluruh pada sidang-sidang ‘7th General Assembly’ di Paris.

‘General Assembly’ adalah forum NGO – ICH, jaringan yang memiliki platform untuk berkomunikasi, pertukaran dan kerjasama antar organisasi penggiat budaya, yang terakreditasi oleh UNESCO. Sesuai Konvensi UNESCO forum ini secara bersama-sama, menjaga nilai-nilai warisan budaya tak berwujud (Intangible Cultural Heritage). General Assembly’ diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Tidak kurang dari 500 orang delegasi dari 175 Negara bersidang di acara ini. (AMZ)

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi PLTA Batangtoru di Medan

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:42 WIB

Warga Batangtoru: Percayakan Keselamatan Orangutan Kepada Kami, Mereka Keluarga Kami Ratusan Tahun

Medan Masyarakat di sekitar lokasi pembangunan PLTA Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terus menyuarakan dukungan terhadap proyek energi bersih terbarukan itu. Mereka menuding, penolakan…

Pejualan Indihome di masyarakat.

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:33 WIB

Telkom Umumkan Pemenang Grand Prize IndiHome Family Vaganza

Jakarta Bertempat di Trans TV Jakarta, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melaksanakan pengundian Grand Prize Program IndiHome, dalam sebuah acara bertajuk Grand Prize - IndiHome Family…

Kebun Kelapa Sawit (Ist)

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:00 WIB

Dukungan Pemda Penting Bagi Industri Sawit

Keberadaan perkebunan dan industri sawit sebagai investasi padat karya telah menjadi solusi Pemerintah untuk mendorong peningkatan lapangan kerja serta penyerapan tenaga kerja daerah.

KAI bekerjasama dengan Gerakan Suluh Kebangsaan mengadakan Jelajah Kebangsaan dengan rute dari Merak ke Banyuwangi, 18-22 Februari 2019.

Kamis, 21 Februari 2019 - 19:51 WIB

KAI Jadi Tuan Rumah Kegiatan Jelajah Kebangsaan

PT Kereta Api Indonesia (Persero) senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan positif yang dapat memajukan dan mencerdaskan bangsa.

Foto Ilustrasi Kawasan Kumuh

Kamis, 21 Februari 2019 - 19:33 WIB

Tahun Ini, Pemerintah Bakal Tata Kawasan Kumuh Capai 24 Ribu Hektar

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) akan melakukan melaksanakan penataan terhadap 888 hektare (ha) kawasan kumuh pada 2019.