Membangun(kan) Pertamina

Oleh : Salis S Aprilian | Rabu, 16 Mei 2018 - 23:26 WIB

 Salis S. Aprilian, Technical Expert/Strategic Advisor, Direktorat Gas & EBT, PT Pertamina (Persero) dan Pemerhati Migas (dok INDUSTRY.co.id)
Salis S. Aprilian, Technical Expert/Strategic Advisor, Direktorat Gas & EBT, PT Pertamina (Persero) dan Pemerhati Migas (dok INDUSTRY.co.id)

INDUSTRY.co.id - Sudah hampir sebulan, sejak 20 April yang lalu, perusahaan sebesar dan sepenting Pertamina tidak memiliki Direktur Utama.

Ini sungguh aneh dan meremehkan aturan GCG (Good Corporate Governance) sebuah Perusahaan Terbatas (PT) yang selama ini menomor-satukan aturan itu.

Pertamina, yang Desember 2018 nanti akan memasuki usia 61 tahun, terlihat lebih tua dari umurnya, bak orang tua yang kelelahan menanggung beban yang begitu berat. Semangat patriot yang sejak dulu dipompakan kepada jajaran manajemen dan pekerjanya seakan pudar dengan berbagai perombakan pucuk pimpinan yang tak ada habisnya.

Teriakan “Pertamina b.e.r.u.b.a.h !!” seperti menggaung di dalam gua dengan pantulan gema suara yang berulang-ulang, menjadikan kata yang sakral itu menjadi “Pertamina berubah!, ubah, ubah, ubah…” tanpa kepastian yang seharusnya.

Bisa jadi Pertamina sedang istirahat melepas penatnya. Atau sedang mengumpulkan tenaga untuk bersaing di tengah percaturan bisnis migas global yang semakin sulit. Namun apapun kondisinya kita harus membangun(kan) Pertamina agar menjadi perusahaan energi nasional yang berkelas dunia, seperti visi yang selalu didengungkan oleh para pendirinya.

Kalau pun sekarang ada yang memandang remeh peran Pertamina dalam industri migas nasional dan internasional, harusnya mereka melihat betapa setiap denyut nadi distribusi energi dan detak jantung perekonomian kita (Indonesia) dapat lumpuh seketika seandainya Pertamina terkapar sakit atau tak bernyawa lagi.

Bayangkan, setiap hari perusahaan ini harus mengelola ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) sekitar 1.3 juta barrel (184 juta liter) yang berasal dari kilang-kilang dalam negeri dan impor untuk didistribusikan ke seluruh negeri.

Belum lagi pengelolaan Avtur, LPG, CNG, LNG, gas pipa, petrokimia, pelumas, dan lain-lain. Harga BBM pun dipatok sama di seluruh penjuru tanah air, dan masih harus mendapatkan untung dari setiap bisnis yang dijalankannya.

Maka, tidak ada teori logistik dan pemasaran mana pun yang mampu menerjemahkan bisnis model semacam ini ke dalam strategi korporasi agar perusahaan ini memperoleh keuntungan maksimal untuk maju dan berkembang.

Di tengah harga minyak yang naik-turun-naik, seperti layaknya pendulum, memang tidak ada cara lain kecuali menerapkan manajemen portofolio dan risiko antar bisnis hulu dan hilir dengan cermat.

Selagi harga minyak rendah, mestinya aktifitas hilir akan meraup margin yang cukup besar dan aktifitas hulu menjadi kurang diperhatikan. Begitu sebaliknya, jika harga minyak merangkak naik, maka aktifitas hulu akan menikmati keuntungannya dengan senang hati.

Hanya saja kadang kita lupa bahwa dengan harga minyak yang turun-naik seperti itu strategi dan eksekusi bisnis kita tidak berubah.

Juga lupa menyisihkan keuntungan untuk diinvestasikan lagi pada bisnis yang tepat agar pada masa sulit perusahaan masih tetap meraup untung yang setara.

Pertamina seharusnya dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mengelola bisnis hulu dan hilir migas yang secara alami memang sering bertolak belakang.

Namun karena dibatasi dengan aturan dan penugasan-penugasan sehingga jangankan ikut berlari dengan perusahaan migas lainnya, bangun dan berdiri pun sudah kepayahan.

Perolehan keuntungan dari hasil jualan minyak mentah tentunya bergantung dari aktifitas eksplorasi dan produksi di sektor hulu.

Dalam kondisi harga minyak tinggi, sumur-sumur yang tadinya tidak ekonomis dapat dibuka kembali sehingga produksi meningkat dan keuntungan perusahaan naik signifikan.

Namun, sudah terlanjur di saat harga minyak rendah aktifitas eksplorasi dibatasi karena dianggap tidak mendatangkan pendapatan secara cepat (quick yield), sehingga pada saat harga minyak naik tidak ada cadangan baru yang dapat diproduksikan.

“Tabungan” cadangan migas pun tergerus habis pelan-pelan tapi pasti, karena kebutuhannya yang terus meningkat.

Jangan heran jika makin lama kita mengimpor minyak mentah dan BBM semakin banyak, karena di tengah harga minyak yang rendah budaya konsumtif masyarakat justru terus meningkat, sementara produksi minyak terus menurun karena tidak sedikit lapangan yang menjadi tidak ekonomis dan ditutup.

Hal ini menyebabkan reserve replacement ratio, yakni perbandingan cadangan yang ditemukan terhadap produksinya, di bawah 1 (satu).

Artinya dunia minyak kita sudah lama dalam kondisi “defisit”. Besar pasak daripada tiang.

Sekarang Pertamina akan dibangun(kan) kembali dengan dua cara sekaligus, yakni di sektor hulu diberi hak pengelolaan lapangan-lapangan migas yang berakhir masa kontraknya dan di sektor hilir didorong untuk membangun kilang minyak baru (GRR - grass-root refinery), dan pengembangan kilang lama (RDMP – refinery development master plan).

Namun, disengaja atau tidak, penyerahan WK (wilayah kerja) yang tanpa didahului dengan due-diligence dan transisi operasi yang serius justru dapat menyebabkan meningkatnya liabilitas, bukannya profitibiltas, perusahaan.

Aset-aset yang sudah tua tentunya banyak memerlukan biaya perawatan/pemeliharaan/restorasi yang tinggi di tengah kesulitan mencegah penurunan produksi secara alamiah.  

Di sektor hilir, dengan akan dibangunnya kilang baru maupun pengembangan kilang lama, juga menimbulkan masalah tersendiri karena minyak mentah yang diolah bukan berasal dari dalam negeri tapi diimpor dari negara lain.

Jadi, dari sisi risiko bisnisnya hampir sama dengan mengimpor langsung bahan bakar minyak (BBM) yang sudah jadi.

Kecuali jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja dan derivasi produknya. Dengan demikian, tujuan pembangunan kilang untuk kemandirian dan ketahanan energi nasional sebetulnya masih relevan untuk dipertanyakan.

Lalu, dengan begitu, muncul solusi bahwa Pertamina harus kuat di sektor tengah (midstream) migas.

Dibuatlah organisasi yang memperkuat logistik, distribusi, pemasaran korporat, dan retail. Selain minyak, gas juga digarap dengan lebih seksama.

Dibuatlah Holding Migas, yang menyatukan Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan PT Pertagas (anak perusahaan Pertamina) agar memiliki infrastruktur pipa transmisi dan distribusi gas yang terintegrasi.

Apakah dengan demikian Pertamina lantas dapat bangun (lagi) dan berlari, kita lihat saja indikasinya bulan-bulan ini.

Kebutuhan energi di bulan Ramadhan biasanya lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya.

Jika trend kinerja Pertamina itu tidak turun, bahkan melesat naik, maka barangkali Pertamina tidak penting lagi memiliki Direktur Utama.

Pertamina hanya perlu pekerja frontliners dan manajer yang ber-jibaku tiap hari, baik di hulu (orang-orang yang menjaga sumur di pelosok negeri, di hutan dan di tengah laut, agar mereka tetap produksi), maupun di hilir (orang-orang yang tidak kenal jeda menjaga kilang dan stok di depot-depot, SPBU, serta distribusi BBM agar tetap dapat melayani pembeli) di saat orang lain menikmati lebaran dan Cuti Bersama yang ditambah berhari-hari, yang tentunya menambah penggunaan energi dari tangan-tangan yang tanpa lelah mereka cari dan salurkan ke seluruh negeri.
 
Penulis, Salis S. Aprilian, Pemerhati Migas, Pensiunan Pertamina

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Wisman Tiongkok (Foto Banten.co)

Senin, 20 Agustus 2018 - 22:00 WIB

Wisman Tiongkok Dominasi Kedatangan Bandara Ngurah Rai Bali

PT Angkasa Pura I (Persero) mencatat wisman asal Tiongkok mendominasi kedatangan penumpang mancanegara di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, yakni mencapai 23,6 persen dari total keseluruhan…

Atlet Wushu Indonesia, Lindswell Kwok Raih Medali Emas di Ajang Asian Games 2018

Senin, 20 Agustus 2018 - 21:25 WIB

Raih Medali Emas, Lindswell Kwok Nikmati Bonus Rp 1,5 Miliar Plus Mobil

Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi mengaku telah menyiapkan 3 (Tiga) mobil dan uang sebesar Rp 1,5 miliar sebagai bonus peraih medali emas di ajang Asian Games 2018.

Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam (Foto Anto)

Senin, 20 Agustus 2018 - 21:08 WIB

Parmusi Disegani Penguasa Dicintai Ulama

INDUSTRY.co.id -

Jakarta - Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) berkiprah di Indonesia sudah cukup lama. Era reformasi 1999, Parmusi lahir dari sebelumnya Muslimin…

Ilustrasi Balap Sepeda (Foto Ist)

Senin, 20 Agustus 2018 - 21:00 WIB

Balap Sepeda Berkibar, Andini dan Khoiful Kawinkan Emas Downhill

Setelah Taekwondo dan Wushu, kini giliran balap sepeda Indonesia berkibar. Kali ini, pasukan Raja Sapta Oktohari tidak tanggung-tanggung meraup dua medali emas pada hari pertama perlombaan balap…

Menpora Imam Nahrawi menyerahkan secara simbolik bonus Rp 1,5 miliar kepada Defia Rosmaniar (Foto: Dok. Kemenpora)

Senin, 20 Agustus 2018 - 20:40 WIB

Menpora Serahkan Bonus Rp 1,5 Miliar kepada Dara Manis Asal Bogor, Defia Rosmaniar

Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi secara simbolik menyerahkan bonus medali emas sebesar Rp 1,5 miliar kepada atlet Taekwondo Defia Rosmaniar.