Menggeliat Industri Pengolahan dan Penyimpanan Hortikultura

Oleh : Wiyanto | Minggu, 06 Mei 2018 - 21:17 WIB

Dirjen Hortikultura, Suwandi saat mengunjungi industri alat mesin pertanian PT Pura Agro Mandiri di Kudus
Dirjen Hortikultura, Suwandi saat mengunjungi industri alat mesin pertanian PT Pura Agro Mandiri di Kudus

INDUSTRY co.idKudus- Tata kelola hasil hortikultura mendapat perhatian prioritas. Karakteristik produk sayuran dan buah-buahan yang mudah rusak, busuk dan susut perlu diatasi dengan teknologi hilir, mencakup penanganan pada saat panen, pasca panen, pengolahan, penyimpanan, sortasi, packaging dan lainnya.

“Kini sudah berkembang teknologi pasca panen dan pengolahan hasil hortikultura.  Untuk hilirisasi produk bawang merah sedang dikembangkan industri pasta di Brebes. Di Kudus sudah dikembangkan teknologi Controlled Atmosphere Storage (CAS) untuk penyimpanan”, ujar Dirjen Hortikultura, Suwandi saat mengunjungi industri alat mesin pertanian PT Pura Agro Mandiri di Kudus.

Suwandi menjelaskan setiap panen raya itu produksi melimpah, jadi solusi penanganan surplusnya harus dengan cara diolah menjadi produk turunan, atau disimpan dan atau diekspor. Kegiatan hilirisasi produk hortikultura ini mesti dibangun di pedesaan.

“Dampaknya pasti akan menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja lokal dan mensejahterakan petani. Ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman,” jelasnya.

Berkaitan dengan prasarana penyimpanan, Suwandi mengatakan sebagai negara kepulauan, diperlukan gudang penyimpanan dalam skala besar di pelabuhan-pelabuhan besar. Stock pangan disimpan dalam gudang-gudang besar dan siap didistribusikan di wilayah yang membutuhkan.

“Banyak manfaat dari gudang penyimpanan seperti CAS ini, yaitu mampu menjaga susut kurang 10 persen dibandingkan pola penyimpanan biasa tanpa CAS sekitar 30 hingga 40 persen susut,” katanya.

“Ini sarana penting berguna menyimpan atau mengawetkan produk buah, sayuran, benih dan lainnya dengan mutu dan kualitas tetap terjaga. Cocok untuk stabilisasi pasokan, yakni saat panen raya disimpan ke dalam CAS atau sejenisnya dan dikeluarkan saat dibutuhkan,” sambung Suwandi.

Di tempat yang sama, Agung Subani Vice Plant Manajer PT Pura Agro Mandiri mengatakan biaya menyimpan di dalam CAS sebesar Rp 1000 per kg perbulan sudah memperhitungkan nilai investasi. Sementara tanpa CAS biayanya jauh lebih mahal.

“Beberap petani bawang merah dan juga BUMN telah mengimpan produk dan benihnya  di dalam CAS Kudus sini. Kita mempunyai CAS dengan kapasitas 400 ton,” ujar Agung.

Agung menerangkan CAS ini berbeda dibandingkan cold-storage yang hanya berperan refrigerator mengatur temperatur. Sementara CAS disamping berperan refrigerator, juga sebagai storage room, dilengkapi humidifies mengatur kelembaban, O2 dan CO2 absorber agar tetap hidup tetapi tidak tumbuh, kontrol N2, dan kontrol ethylene agar produk tidak busuk.

“CAS bisa menyimpan produk segar hingga 3 hingga 6 bulan, kualitas dan kesegaran tetap terjaga, dan susut bobot sangat rendah, kurang dari 10 persen, terangnya.  PT Pura juga mengembangkan industri olahan produk hortikultura dalam botol kemasan dan saset, seperti bumbu-bumbu masak, cabai olahan, dan lainnya,” terangnya.

Sebagai contoh, sambung Agung, cabai bubuk dalam kemasan botol plastik. Cabai bubuk ini diolah dari cabai yang sudah tidak terlalu segar atau dari hasil panen yang kualitasnya tidak terlalu diterima pasar. Jika dijual masih dalam bentuk asli atau belum diolah, harga cabai tersebut hanya sekitar Rp 6.000 per kg. 

“Namun saat menjadi cabai bubuk dalam kemasan botol plastik, harga per kg mencapai ratusan ribu rupiah. Ini sungguh merupakan nilai tambah yang luar biasa,” tutur Agung.

Pengusaha budidaya cabai dan bawang merah PT GMAL, Zee Agustina yang turut hadir mengunjungi PT Pura mengatakan selama ini prasarana penyimpanan menggunakan cold-storage dengan berbagai keunggulan dan kelemahannya, demikian pula dengan teknologi CAS ini. Perkembangan teknologi kian pesat.

“Kalau pengusaha sih selalu mencari pilihan pilihan prasarana yang paling praktis, efisien, dan sesuai kebutuhan skala usahanya,” ujar dia.

Di Kudus juga berkembang industri alat dan mesin pertanian (alsintan) skala kecil menyediakan hingga 150 jenis alat seperti perontok jagung, pengayak tepung, pengayak kedelai, pengepres jerami pakan ternak, blower angin untuk kandang ayam, kultivator, dan lainnya.

Hari Martono, Direktur PT UKABE Indonesia berkedudukan di Kudus mengatakan pihaknya sebagai pelaku industri kecil bergerak di bidang alsintan siap memasok kebutuhan petani.  Alat pengolah tanah, alat panen, pasca panen, alat pengolahan hasil, tersedia disini. 

“Kami mempunyai perkumpulan industri kecil ini tersebar di 13 kabupaten di Pulau Jawa sering berkoordinasi dalam memberikan pelayanan kebutuhan alsintan di setiap wilayah,” sebutnya.

 
 
 
 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi PLTA Batangtoru di Medan

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:42 WIB

Warga Batangtoru: Percayakan Keselamatan Orangutan Kepada Kami, Mereka Keluarga Kami Ratusan Tahun

Medan Masyarakat di sekitar lokasi pembangunan PLTA Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terus menyuarakan dukungan terhadap proyek energi bersih terbarukan itu. Mereka menuding, penolakan…

Pejualan Indihome di masyarakat.

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:33 WIB

Telkom Umumkan Pemenang Grand Prize IndiHome Family Vaganza

Jakarta Bertempat di Trans TV Jakarta, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melaksanakan pengundian Grand Prize Program IndiHome, dalam sebuah acara bertajuk Grand Prize - IndiHome Family…

Kebun Kelapa Sawit (Ist)

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:00 WIB

Dukungan Pemda Penting Bagi Industri Sawit

Keberadaan perkebunan dan industri sawit sebagai investasi padat karya telah menjadi solusi Pemerintah untuk mendorong peningkatan lapangan kerja serta penyerapan tenaga kerja daerah.

KAI bekerjasama dengan Gerakan Suluh Kebangsaan mengadakan Jelajah Kebangsaan dengan rute dari Merak ke Banyuwangi, 18-22 Februari 2019.

Kamis, 21 Februari 2019 - 19:51 WIB

KAI Jadi Tuan Rumah Kegiatan Jelajah Kebangsaan

PT Kereta Api Indonesia (Persero) senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan positif yang dapat memajukan dan mencerdaskan bangsa.

Foto Ilustrasi Kawasan Kumuh

Kamis, 21 Februari 2019 - 19:33 WIB

Tahun Ini, Pemerintah Bakal Tata Kawasan Kumuh Capai 24 Ribu Hektar

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) akan melakukan melaksanakan penataan terhadap 888 hektare (ha) kawasan kumuh pada 2019.