Peningkatan Kontrak Pengembangan Pembangkit Listrik Berbasis EBT

Oleh : Dhiyan H Wibowo | Sabtu, 07 April 2018 - 07:49 WIB

Menteri ESDM Iganasius Jonan. (Akos Stiller/AFP/Getty Images)
Menteri ESDM Iganasius Jonan. (Akos Stiller/AFP/Getty Images)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Terlepas dari segala kendala dan mahalnya investasi di pengembangan pembangkit listrik berbasis EBT, Jonan memaparkan bahwa kontribusi EBT telah bertambah 2% dalam kurun 3 tahun, menjadi 12,15% pada tahun 2017.

Dan hal yang cukup menggembirakan adalah, bauran minyak dalam Bauran energi primer cenderung menurun.

Memang kontribusi terbesar dari penggunaan EBT untuk tenaga listrik tersebut masih didominasi oleh pembangit listrik tenaga air, yang berkontribusi sebesar 7,6%. Sementara panas bumi dan EBT lainnya sebesar 5,09%.

Jonan juga memaparkan, terdapat tambahan kapasitas PLT EBT pada tahun 2017 lewat Kearifan Lokal.

Berikut tambahan kapasitas yang ada yakni 1.808,5 MW dari kapasitas terpasang PLTP, lalu 1.840,7MW dan 296MW masing-masing dari kapasitas terpasang PLT Bioenergi dan kapasitas terpasang PLTS dan PLTMH, berikutnya 1,12MW Kapasitas Terpasang PLTB, dan 5.124MW Kapasitas terpasang PLTA.

Kontrak baru pengembangan energi listrik berbasis EBT yang ditandatangani pada tahun 2017 juga meningkat lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2014, ditandatangani 24 kontrak pengembangan EBT dengan kapasitas sebesar 1.251 MW.

Pada tahun berikutnya kontrak yang ditandatangani mengalami penurunan menjadi 14 kontrak, namun untuk kapasitas yang sedikit lebih besar, yakni 1.829 MW.

Pada tahun 2016 kembali ditandatangani 144 kontrak baru pengembangan EBT dengan kapasitas hanya sebesar 116 MW.

Pada tahun 2017, kontrak yang ditandatangani sebanyak 70 kontrak, untuk pengembangan EBT dengan kapasitas 1.214,1 MW, kata Jonan kepada redaksi INDUSTRY.co.id belum lama ini di Jakarta.

Menurutnya, di tengah sejumlah kendala dan hambatan serta tingginya investasi pengembangan energi berbasis EBT, ditandatanganinya 70 kontrak pada tahun lalu membuktikan bahwa para investor tetap melihat masih besarnya peluang.

Salah satu dari sekian kontrak EBT yang sudah dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Sidrap, Sulawesi Selatan.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap merupakan yang pertama di Indonesia.

Di kawasan ini akan dibangun 30 kincir angin yang masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 megawatt, atau 75 MW untuk 30 turbin.

Dibangun sejak bulan April 2016 oleh PT UPC Sidrap Bayu Energi dengan investasi senilai US$ 150 juta.

Bila telah rampung tahun ini, PLTB Sidrap akan beroperasi secara komersial, dan sanggup mengalirkan listrik ke sekitar 80.000 rumah tangga pelanggan 900 VA.

PLTB Sidrap ini bahkan menjadi kebanggaan Presiden Joko Widodo, yang dalam laman Facebook pribadinya disebutkan bahwa kehadiran PLTB Sidrap menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari sedikit negara di Asia yang telah berhasil memanfaatkan angin sebagai pembangkit listrik, di luar Tiongkok, Jepang dan Korea.

Terkait pengembangan PLTB tersebut, Jonan mengungkapkan bahwa investor siap membangun pembangkit baru dengan kapasitas 50 MW dengan tarif yang lebih rendah, yakni di kisaran US$ 6 sen per Kwh.

Ada PLTB di Sidrap, usul 50 MW, tarifnya sudah rendah sekali. Waktu kontrak pertama 75 MW, tarifnya US$ 11,4 sen. Sekarang dia tawarin lagi mau gak ditambah 50 MW. Saya bilang boleh, tapi ikuti tarif baru. Mau juga. Jadi 6,sekian sen. Turun banyak, papar Jonan.

Langkah pengembangan EBT juga dibantu oleh perusahaan pelat merah, seperti PT Pertamina Persero.

Dalam sebuah keterangannya beberapa waktu lalu, sejumlah upaya yang dilakukan Pertamina dalam mengembangkan EBT, di antaranya dengan bekerja sama dengan berbagai pihak seperti dalam pengadaan sumber daya listrik.

Langkah ini akan meningkatkan akselerasi perkembangan teknologi demi tersedianya energi baru tersebut.

Dalam target jangka menengah, pengembangan EBT Pertamina difokuskan pada geothermal, bioenergi dan solar panel.

Geothermal menjadi salah satu potensi EBT yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan transisi energi. Dengan demikian, ketersediaan energi serta kebersihan lingkungan dapat terus dijaga.

"Hingga kini, Pertamina telah meraih peningkatan produksi geothermal sebesar 31 persen yakni 2.932 GWh. Pencapaian tersebut menjadi salah satu tolok ukur keseriusan Pertamina dalam pengembangan EBT yang ramah lingkungan, demikian keterangan manajemen Pertamina belum lama ini.

Berikutnya konsumsi biodiesel dalam negeri yang mencapai 2,7 miliar liter pada 2016, berikutnya pada 2020 diproyeksikan mencapai 3,9 miliar liter Biodiesel 30 (B30).

Sementara itu, pengembangan solar panel saat ini sudah diterapkan Pertamina di wilayah operasi Pertamina, kawasan perkantoran, Zona Ekonomi Khusus, dan industri.

Upaya yang dilakukan Pertamina tersebut harus didukung penuh oleh pemerintah.

Sekian banyak kendala yang dihadapi, pemerintah memang terus berkomitmen untuk dapat merealisasikan peningkatan bauran energi baru terbarukan pada konsumsi energi di dalam negeri.

Sebuah upaya yang telah menjadi keniscayaan, untuk mensiasati semakin minimnya cadangan sumber daya energi berbasis fosil di masa depan. Sebuah upaya yang harus didukung oleh segenap masyarakat.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Kemenperin)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 20:53 WIB

Pacu Implementasi Industri Keempat, RI Jadi Garda Terdepan Transformasi Industri 4.0 di Asia

Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara Benua Kuning tersebut.

Kepulauan Morotai, Maluku Utara. (Foto: IST)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 20:05 WIB

Yuk Nikmati Indahnya Surga Bawah Laut Pulau Morotai

Pulau yang secara administratif berada dalam kawasan Maluku Utara ini tak hanya punya pantai dan pasir yang lembut, tapi juga punya pemandangan bawah laut yang unik.

Yudha Fajrin pendiri sekaligus pemilik PT Kato Kuliner Indonesia (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 18:05 WIB

Sempat Tak Dapat Restu Orang Tua, Yudha Fajrin si Pedagang Satay Kini Sukses di Dunia Bisnis Indonesia

Mulai berbisnis sejak usia 15 tahun, Yudha Fajrin, pria kelahiran Palembang 5 Maret 1988 yang merupakan pemilik dari Satay Kato dan beberapa produk dengan brand Kato mengaku tak pernah kapok…

Kementerian Koperasi dan UKM memberikan fasilitasi kepada 18 KUKM potensial ekspor dengan total stand seluas 162 m2 untuk berpartisipasi dalam Trade Ekspor Indonesia (TEI) 2018 yang akan berlangsung 24-28 Oktober di ICE BSD Tangerang.

Selasa, 16 Oktober 2018 - 17:19 WIB

18 KUKM Potensial Ekspor Berkesempatan Ikuti TEI 2018

Kementerian Koperasi dan UKM memberikan fasilitasi kepada 18 KUKM potensial ekspor dengan total stand seluas 162 m2 untuk berpartisipasi dalam Trade Ekspor Indonesia (TEI) 2018 yang akan berlangsung…

Peluncuran Sandimas Home Center

Selasa, 16 Oktober 2018 - 17:08 WIB

Ekspansi Bisnis, Sandimas Pastikan untuk IPO

Kendati pasar properti belum sepenuhnya bergairah kembali, hal ini tidak menyurutkan Sandimas sebagai perusahaan yang bergerak di bidang bahan bangunan untuk memperlebar ekspansi bisnisnya.…