Akuisisi Uber Oleh Grab Ancam Peningkatan Pengangguran

Oleh : Herry Barus | Selasa, 03 April 2018 - 10:15 WIB

Penyedia transportasi berbasis aplikasi, Grab Indonesia (Foto Ist)
Penyedia transportasi berbasis aplikasi, Grab Indonesia (Foto Ist)

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Sejumlah pengamat transportasi menilai akuisisi Uber oleh Grab akan berpotensi menimbulkan lonjakan pengangguran.

Hal ini disebabkan oleh pendeknya rentang waktu penutupan aplikasi Uber yang akan resmi ditutup mulai 8 April 2018, sehingga para pengemudi Uber akan kesulitan melakukan pendaftaran kepada Grab sebagai pemilik baru Uber, dalam kurun waktu singkat tersebut.

Ketua Dewan Pakar Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit di Jakarta, Senin (2/4/2018)  mengatakan akuisisi Uber oleh Grab ini memang berdampak kepada para pengemudi Uber tidak memiliki pilihan lain untuk mengikuti aksi korporasi antara Grab dan Uber.

"Ini risiko di sisi mitra yang memang tidak bisa sepenuhnya diakomodasi operator," kata Danang seperti dilansir Antara.

Untuk itu, ia menilai GO-JEK sebagai pemilik aplikasi sejenis agar dapat turut berperan dalam menampung pengemudi/driver tersebut.

Kepastian nasib pengemudi Uber ini sangat penting, terlepas dari persaingan sengit antara GO-JEK dan Grab.

Jika ada pengemudi Uber yang memilih bermitra dengan GO-JEK, lanjut Danang, seharusnya tidak menjadi masalah karena tinggal bagaimana kebijakan dari masing-masing operator.

"Jadi apakah GO-JEK mau menyerap driver Uber atau tidak," ujarnya.

Tak terserap Hal senada juga diungkapkan oleh Darmaningtyas, Ketua Institut Studi Transportasi (Instran).

Menurut Darmangingtyas, jika para pengemudi Uber tidak terserap seluruhnya, maka bisa mengurangi suplai transportasi online di lapangan.

Pasalnya, permintaan akan transportasi online jumlahnya terus bertambah seiring dengan makin banyaknya warga masyarakat yang memilih transportasi online karena lebih praktis ketimbang menggunakan kendaraan pribadi.

"Jadi jika tidak terserap akan mengurangi suplai," katanya.

Untuk itu, ia mendorong GO-JEK untuk ikut menyerap pengemudi Uber. Toh masuknya pengemudi Uber ke GO-JEK tidak bertentangan dengan moratorium pengemudi online yang sempat disampaikan pemerintah, mengingat mereka sudah terdaftar sebelumnya sebagai pengemudi online.

Danang menambahkan, sebagai industri yang diatur oleh pemerintah (regulated market), seharusnya transaksi Uber dan Grab ini diketahui pemerintah sejak awal.

Dengan begitu, hal-hal seperti ini bisa diantisipasi, karena selain menyangkut nasib ratusan ribu para pengemudi, juga akan mengganggu masyarakat pengguna transportasi.

"Yang jadi isu saat ini adalah apakah pelayanan publik terganggu, ini yang harus diperhatikan," tambahnya.

Senin (26/3) pekan lalu, Grab resmi mengakuisisi Uber. Dmana Uber sepakat menjual bisnisnya di kawasan Asia Tenggara kepada Grab. Sejumlah negara di Asia Tenggara yang aset dan operasional Uber akan segera dialihkan ke Grab adalah Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Sebagai bagian dari akusisi, Uber akan memiliki 27,5 persen saham di Grab dan Dara Khosrowshahi selaku CEO Uber akan bergabung dengan dewan direksi Grab.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) (Foto Ist)

Senin, 17 Desember 2018 - 10:05 WIB

Waskita Karya Terima Pembayaran Pertama Proyek Tol Sumatera Senilai Rp1,9 Triliun

Pembayaran ini merupakan pembayaran pertama, dimana sisa pembayaran sebesar Rp600 miliar akan dilakukan pada 20 Desember 2018.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan Penghargaan pada App Sinar Mas

Senin, 17 Desember 2018 - 09:52 WIB

Terapkan Prinsip Industri Hijau, APP Sinar Mas Kembali Raih Penghargaan dari Kemenperin

Dua unit industri Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas meraih Penghargaan Industri Hijau 2018 dari Kementerian Perindustrian (KEMENPERIN) atas keberhasilannya menjalankan praktik-praktik terbaik…

J&T Express (ist)

Senin, 17 Desember 2018 - 09:44 WIB

J&T Express Siapkan US$ 100 Juta Perluas Jaringan

Perusahaan layanan jasa pengiriman, J&T Express menyiapkan alokasi pendanaan baru senilai 100 juta dolar AS untuk pengembangan bisnis di Asia Tenggara dengan basis utamanya di Indonesia.

Pariwisata Lombok

Senin, 17 Desember 2018 - 09:30 WIB

Pariwisata Tanpa Media, Tidak Berjalan

Di era globalisasi saat ini media sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat, dan ke depan akan semakin kuat. Untuk itu, pariwisata tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa memanfaatkan media.

JNE. (Foto: IST)

Senin, 17 Desember 2018 - 09:25 WIB

Terkait Pembatasan Armada, Perusahaan Kurir Jamin Ekspedisi Aman

Perusahaan jasa kiriman barang atau kurir menyatakan layanan yang dilakukan tetap aman meski ada aturan pembatasan kendaraan saat libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 (Nataru). Seperti diketahui,…