Ingin Jadi Pemimpin yang Dicintai Rakyat, Tirulah Vladimir Putin!

Oleh : Anab Afifi | Sabtu, 24 Maret 2018 - 14:25 WIB

Anab Afifi sebagai inisiator dan pendiri IARF dan CEO Bostonprice Asia (Foto Ist)
Anab Afifi sebagai inisiator dan pendiri IARF dan CEO Bostonprice Asia (Foto Ist)

INDUSTRY.co.id - Apa sesungguhnya yang membuat seorang bernama Vladimir Putin bisa terpilih menjadi Presiden Russia untuk ke empat kalinya dengan perolehan suara tinggi, 76%?

Jawaban yang pasti adalah ia sangat dipercaya dan dicintai oleh rakyatnya.

Lalu bagaimana ia memperoleh kepercayaan yang demikian tinggi tercermin dari perolehan suaranya itu? Apakah dengan sering blusukan, selfie-selfie, bikin ulah ini dan itu, yang beraroma populis?

Saya tidak tahu. Yang jelas saat mencoba google image nama Vladimir Putin, nyaris tidak ada aksi foto selfie-selfie atau blusukan, seperti yang hampir setiap hari kita saksikan di sini.

Coba bandingkan dengan Presiden Jokowi yang pada saat puncak popularitasnya di tahun 2014 hanya meraih suara 53%. Masih jauh di bawah SBY yang kala itu juga meraih sekitar 70 -an persen.

"Oh beda. Russia bukan Indonesia. Putin bukan Jokowi dan juga bukan SBY. Tak bisa kau samakan."

Oke. Saya terima protes Anda. Itu hanya soal gaya kepemimpinan.

Tetapi, apa pun gaya kepemimpinan, yang penting adalah hasilnya. Apa pun jurus yang kau mainkan, yang penting musuhmu klepek-klepek.

Dantara sekian banyak perbedaan gaya, rasa, serta budaya antar bangsa-bangsa di dunia, tetap ada satu kesamaan yang bersifat universal. Kesamaan itu berupa tuntutan serta pemenuhan atas kebutuhan dasar manusia.

Saya menduga, jawaban atas pertanyaan di paragraf pertama artikel ini adalah: Putin berhasil memenuhi tuntutan yang dibutuhkan rakyatnya!

Itu adalah kebutuhan yang selalu dimasalahkan oleh rakyat dan bangsa manapun. Termasuk bangsa kita. Kebutuhan bernama pemerataan ekonomi.

Dengan demikian apakah ekonomi Russia itu hebat?

Menurut Defiyan Cori, seorang ekonom konstitusi, pertumbuhan ekonomi Rusia tidaklah begitu bagus. Hanya saja pemerataan ekonomi dan hasil-hasil pembangunannya lah yang membuat Putin dicintai rakyatnya.

Tingkat pengangguran di Rusia tak begitu besar, hanya 5,4 persen (data Juni, 2016). Padahal secara makro ekonomi pada saat itu keadaan ekonomi Rusia tidak begitu bagus.

Pertumbuhan ekonomi Rusia sejak Tahun 2014 memburuk. Rata-rata hanya mencapai antara 1,5-2 persen lebih.

Bahkan lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (WB) memperkirakan bahwa ekonomi Rusia akan mengalami resesi. Alasannya cukup kuat, sebab tingkat inflasi Rusia mencapai 12 persen lebih dan tingkat kemiskinan mencapai 14 persen lebih.

Secara teori ekonomi makro kapitalisme, terang Cori, perkembangan ekonomi Rusia ini adalah anomali. Tidak sesuai teks ekonomi arus utama (mainstream).

Namun demikian, Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) dari indikator ekonomi makro itu justru cukup tinggi. Itu berarti nilai tambah industri benar-benar dinikmati industri atau rakyat Rusia sendiri.

Adalah Elvira Naubilina, seorang ekonom yang saat ini menjadi Gubernur Bank Sentral Rusia. Sebagaimana Sri Mulyani yang sama-sama menempuh pendidikan ekonomi di USA. Elvira adalah perempuan yang telah memoles dan membuat perbedaan dalam kinerja ekonomi makro Rusia.

Elvira tidak beda dengan Menteri Sri Mulyani. Sama-sama perempuan. Sama-sama dalam hal peranan di bidang yang selatar.

Hanya satu perbedaannya yaitu dalam cara mencapai kesejahteraan, mengatasi pengangguran serta melakukan pemerataan pembangunan.

Menurut Cori, apa yang membuat perbedaan kedua orang ini, adalah pada kepercayaan kelembagaan dalam menangani ekonomi negaranya.

Elvira tak menggunakan teori yang dianjurkan oleh IMF dan World Bank. Berbalik 180 derajat dengan Sri Mulyani sangat IMF dan World Bank minded.

Apakah Indonesia mampu seperti Russia itu? Apakah kita mampu mengurai kesenjangan ekonomi?

Saya yakin sekali Indonesia lebih dari sekadar mampu. Banyak stok peminpin mumpuni di negeri ini. Tak cuma satu.

Jangan pernah sekali-kali mematikan akal sehat kita dengan mentakhyulkan yang satu orang itu demi masa depan bangsa ini.

Dan, siapa pun pemimpin Indonesia yang ingin dicintai rakyat, bertahan mempimpin sekian kali periode, tirulah Putin.

Anda bingung memilih pemimpin mana yang mampu membawa Indonesia kepada masa depan gemilang, carilah sosok yang berakter seperti Putin.

Anab Afifi Ceo Boston Price dan Pemerhati Ekonomi

Komentar Berita

Industri Hari Ini

 Penempatan PRT dengan Sistem One Channel Sebaiknya Berlaku untuk Semua Negara Timur Tengah

Sabtu, 23 Maret 2019 - 18:00 WIB

Penempatan PRT dengan Sistem One Channel Sebaiknya Berlaku untuk Semua Negara Timur Tengah

Ciloto-Pemerintah diminta untuk tidak malu-malu membuka penempatan pekerja rumah tangga (PRT) atau pekerja migran Indonesia (PMI) ke negara-negara Timur Tengah (Timteng).

Presiden Jokowi meresmikan pasar rakyat Pasar Badung di Kota Denpasar, Jumat (22/3).

Sabtu, 23 Maret 2019 - 17:33 WIB

Presiden Jokowi Resmikan Pasar Badung Jadi Ikon Smart Heritage Market

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berharap pasar rakyat atau pasar tradisional di Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Bali, harus mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan moderen, pasar…

Kepala (BPPSDMP) Kementan Momon Rusmono

Sabtu, 23 Maret 2019 - 16:45 WIB

Kementan: Kedaulatan Pangan Harus Berdampak Pada Kesejahteraan Petani

Indramayu - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani di Kabupaten Indramayu untuk bisa mencapai target produksi padi hingga lebih dari 1,8 juta ton gabah kering pungut di tahun 2019.…

Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto

Sabtu, 23 Maret 2019 - 16:36 WIB

BNI Syariah Siapkan Strategi Untuk Hadapi Era Disrupsi

Jakarta - BNI Syariah sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi era disrupsi. Era disrupsi ini terjadi ditunjukkan dengan perubahan yang cukup cepat dan mengganggu eksisting bisnis.

Dok Redaksi Industry

Sabtu, 23 Maret 2019 - 13:33 WIB

Bambang Trihatmodjo: Pupuk Bregadium Bukti Kiprah Berkarya untuk Pertanian 

Kader utama Partai Berkarya Bambang Trihatmodjo menilai sector pertanian Indonesia berjalan di tempat, di tengah maju dan berkembangnya sector pertanian negara-negara tetangga, terutama Thailand.