Siasat Industri Ritel Melawan Kelesuan, Glodok Sepi Pembeli? (Bag 1)

Oleh : Kormen Barus | Minggu, 11 Maret 2018 - 11:31 WIB

Suasana pasar glodok (foto RMOL)
Suasana pasar glodok (foto RMOL)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pemerintah sebaiknya membuat regulasi yang mengatur sistem belanja daring yang sampai saat ini belum ada.

Hal ini untuk memberikan playing field yang lebih adil antar sesama pengusaha ritel. Mulai dari aturan terkait Standar Nasional Indonesia (SNI) yang harus dipenuhi, sistem pembayaran, hingga pajak.

Sejak zaman dulu, Glodok selalu penuh sesak dengan hiruk-pikuk aktivitas ekonomi .

Kawasan Glodok dan sekitarnya pun menjadi daerah Pecinan (Chinatown) di Batavia dan menjadi sentra perdagangan selama lebih dari dua ratus tahun.

Sejurus dengan perkembangan zaman, Glodok pun menjadi pemicu gairah perekonomian.

Bahkan keberadaanya seperti magnet yang mampu menyedot para migran ekonomi selama ratusan tahun untuk mengadu nasib sebagai pedagang, yang tersebar di Kawasan Glodok.

Di Kawasan Glodok semuanya ada. Dari peralatan rumah tangga hingga elektronik.

Namun bagi para pembeli, pedagang dan investor sekalipun, Glodok adalah pusat segalanya.

Bahkan icon indonesia karena menjadi pusat penjualan barang-barang perkakas dan teknik seperti mur-baut, sekrup, pengait, tali baja, rantai, pemotong keramik, gergaji listrik, genset, dan lain-lainnya.

Termasuk semua kebutuhan industri, kontraktor, pertambangan, peralatan safety.

Salah satu yang membuat Glodok tetap menjadi pilihan adalah selain lebih lengkap, harga bermacam produk yang dijual umumnya lebih murah dibandingkan harga di luar kawasan ini.

Namun, dua tahun belakangan, pengunjung Glodok mengalami penurunan.

Banyak pendapat yang menghubung-hubungkan pertumbuhan pesat pangsa pasar e-commerce di Indonesia dengan jumlah pengguna internet yang mencapai angka 90,5 juta jiwa atau sekitar 35,4% dari total penduduk Indonesia.

Namun anggapan itu ditepis oleh para pedagang di kawasan Pasar Jaya Glodok.

Yanto, seorang pedagang perkakas alat berat, mengatakan Kawasan Glodok tiap hari tetap ramai dan banyak didatangi pembeli. Kios barupun semakin banyak.

"Ya walaupun turun bukan karena online tapi karena ketatnya aturan sejak zaman Jokowi," ujarnya.

Pendapat yang sama disampaikan Wawan Sugiarto, sales toko Mega Elektronik yang menjual perkakas untuk rumah tangga dan industri.

Menurutnya, pelanggan tokonya mulai dari perorangan hingga kontraktor besar. Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Diakuinya, saat ini, penjualan sedikit melemah, karena persyaratan yang harus dilalui perusahaan semakin ketat. Hal ini berimbas pada penjualan.

"Ya di era Presiden SBY omzet toko kami sehari sekitar Rp50 juta. Kini hanya berkisar Rp5 hingga 20 juta," ungkapnya.

Sementara itu, Christine, 72, pemilik toko Dunia Baru, yang menjual , batu gurinda. Produk untuk bengkel bubut hingga paik tahu, mengatakan, penjualannya tidak seperti dulu, karena saat ini para pesaing yang menjual produk sejenis juga banyak.

Menurutnya, kawasan Glodok Jaya sejak dulu sudah menjadi pusat penjualan peralatan perkakas rumah tangga, paik dan industri.

Karena Toko Dunia Baru sendiri merupakan perusahaan keluarga yang hadir lebih dari 100 tahun di Pasar Glodok.

"Saya sendiri generasi kedua karena bapak baru meninggal. Kami menjual mesin penggilingan tahu, batu gurinda dan lain-lain. Batu batu itu diimpor dari Taiwan," ujar Christine.

Ibu 4 anak ini, tidak menampik jika beberapa bulan terakhir penjualan tokonya sedikit menurun. Menurutnya daya beli masyarakat kurang.

"Saya lihat bukan karena online. Coba batu itu kalau pesan via online. Tentu biaya pengirimannya lebih mahal dari harga batunya. Saya rasa yang sedang susah begini bukan cuma di sini, di negara tetangga juga sama. Jadi ya sekarang cuma tinggal adu nasib aja sih. Kalau sekarang penjualan tiap hari 20 an barang masih kejual. Ya bersyukur aja," imbuhnya.

Sementara itu, Store Manager Orient Teknik, Hosin Kasim atau yang biasa disapa Asin mengatakan, tokonya menjual mesin genset. Seperti digunakan untuk pompa air atau untuk tenaga listrik. Asin mengaku tokonya memang mengalami penurunan pembeli.

Kalau dulu diserbu pembeli sekarang bisa dihitung yang berbelanja. Cuma menurut Asin, hal itu karena kondisi umum di Asia memang lagi berat dan bersyukur kita masih banyak yang datang beli.

Ya kalau genset pesan via online terasa lebih mahal dan orang kita biasanya datang liat langsung baru percaya,ujarnya.

Jadi rata rata pedagang yang ada di Glodok sependapat bahwa menurunnya pembeli di Kawasan Glodok bukan karena online.

Tapi ketatnya aturan pemerintah soal barang-barang yang dijual. Selain karena SNI (standar nasional Indonesia) yang ketat juga dipicu oleh pajak reklame yang cukup besar.

Jadi kami tidak lagi bisa jual barang KW yang merupakan lumbung uang. Kini benar benar harus jual produk berkualitas dengan harga yang lumayan mahal,padahal pembeli itu suka dengan KW an, ujar seorang pedagang yang enggan menyebutkan namanya.

Memang sejak 1980-an sampai sekarang Glodok Jaya masih menjadi destinasi utama para pencari peralatan dan sparepart yang sulit didapatkan di online.

Untuk beli sparepart dan perkakas orang lebih senang datang langsung dan melihat barangnya daripada beli di online. Pertimbangan lainnya juga, barang yang di beli, ukuranya berat," pungkasnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Smartphone Realme

Selasa, 25 September 2018 - 11:53 WIB

Catat Tanggalnya, Smartphone Dengan Layar Notch Pertama Realme 2 Akan Segera Diluncurkan

Setelah secara resmi mengumumkan kehadirannya di pasar Indonesia, Realme akan segera menggelar konferensi pers di Indonesia dan Asia Tenggara untuk pertama kalinya pada tanggal 9 Oktober…

Dirjen IKTA Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono bersama Direktur Pelumas PT Shell Indonesia Dian Andyasuri saat mengunjungi Pabrik Pabrik Pelumas Shell Indonesia di Marunda, Bekasi (Foto: Dok. Industry.co.id)

Selasa, 25 September 2018 - 11:49 WIB

Importir Keberatan Aturan Wajib SNI Pelumas

Baru-baru ini Kementerian merilis aturan standar nasional Indonesia (SNI) wajib untuk pelumas, melalui peraturan Menteri Perindustrian Nomor 25 tentang pemberlakuan SNI Pelumas secara wajib.…

Pertambangan di Indonesia

Selasa, 25 September 2018 - 11:36 WIB

Dua Perusahaan Ini Bergabung Jadi Penambang Emas Terbesar Dunia

Barrick Gold, salah satu perusahaan penambangan emas terbesar di dunia, membeli perusahaan saingannya Randgold. Penggabungan dua penambang emas ini menciptakan penguasa baru di industri emas…

Lion Air (Foto Ist)

Selasa, 25 September 2018 - 11:30 WIB

Tingkatkan Sektor Logistik, Lion Bidik Terbang ke Myanmar

Lion Air Group membidik Myanmar untuk pengembangan rute internasional di kawasana Asia Tenggara.

Digital Technology Indonesia bakal berlangsung pada Rabu 28 November 2018 di Jakarta Convention Center. Event tersebut mengusung tema Digital Transformation & Industry 4.0.

Selasa, 25 September 2018 - 11:23 WIB

Digitech Indonesia 2018, Ajang Kesiapan Industri Sambut Revolusi Industri 4.0

Sekira 200 perusahan di bidang teknologi dan informasi bakal memeriahkan ajang Digital Technology Indonesia yang bakal berlangsung pada Rabu 28 November 2018 di Jakarta Convention Center. Event…