Dalam Kasus Narkoba Bos Snowbay, Hendardi Minta Polisi Transparan

Oleh : Amazon Dalimunthe | Selasa, 13 Februari 2018 - 17:10 WIB

Hendardi, Ketua Setara Institute
Hendardi, Ketua Setara Institute

INDUSTRY.co.id - JAKARTA,-- Ketua Setara Insitut Hendardi meminta pihak kepolisian lebih transparan dalam menangani kasus-kasus sensitif, terutama kasus narkoba, dan memberi penjelasan kepada masyarakat secara komprehensif atas keraguan yang timbul atas kinerja kepolisian.  Hal ini disampaikan Hendardi ketika diminta komentarnya seputar kasus penangkapan 6 WN Korea Selatan di Diskotik Crown, Hotel Golden Crown, Jakarta Barat, 7 Desember 2017 lalu.

“Kasus ini kan sudah muncul di media dan menjadi perhatian masyarakat. Sebaiknya polisi menjelaskan. Jangan mentang-mentang melibatkan warganegara asing, seperti ditutupi. Kasus narkoba itu seperti kita tahu erat kaitannya dengan uang. Nah kalau ada kecurigaan masyarakat, polisi harus terbuka, jangan sampai ada tuduhan negatif kepad polisi,” katanya.

Seperti diberitakan oleh Majalah Tempo edisi 5 – 11 Februai 2018 dan kemudian dikutip oleh beberapa media lainnya, polisi menangkap enam warga Korea Selatan pada 5 Desember 2017 di Diskotek Golden Crown, Jakarta Barat.

Hendardi melihat ada yang aneh dalam penanganan kasus ini. Yang pertama, menurut Hendardi soal penjelasan polisi yang mengaku kesulitan memeriksa WN Korsel yang ditangkap, sehingga memerlukan waktu penahanan selama lima hari.

“Saya kira lebih sulit ya bahasa Papua daripada bahasa Korea. Tidak sulit kok mencari penerjemah bahasa Korea di sini. Jadi kalau sampai butuh waktu lima hari untuk memeriksa karena kesulitan bahasa, itu aneh. Kedua, polisi juga harus transparan menjelaskan, kenapa sampai ditahan lima hari. Ini penting supaya jangan ada kecurigaan macam-macam,” kata Hendardi.

Kasus ini berawal menangkap enam warga Korea Selatan pada 5 Desember 2017 di Diskotek Golden Crown, Jakarta Barat. Polisi mengaku kesulitan mengorek keterangan dari mereka yang mengaku tidak bisa berbahasa Indonesia. Keenam tersangka itu lalu dibawa ke Polda Metro Jaya. Barulah keesokan harinya polisi memerikasa mereka dengan mendatangkan penerjemah dan perwakilan dari Kedutaan Besar Korea di Jakarta.

Menurut Kepada Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Argo Yuwono, dari hasil pemeriksaan lokasi dan tes urine, keenam orang itu dibebaskan karena tidak menggunakan narkoba.

Namun Majalah Tempo menulis, mereka dibebaskan setelah polisi menerima uang sebesar Rp.1,6 milyar. Uang itu diserahkan di sebuah tempat di kawasan SCBD oleh pegawai Snowbay. Uang dimasukan ke dalam sebuah mobil jazz warna putih yang tidak jelas nomornya, kemudian mobil itu pergi. Setelah penyerahan uang itu keenam WN Korea dibebaskan.

Kabar itu dibantah oleh Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Suwondo Nainggolan. Suwondo memastikan penyelidikan terhadap keenam warga negara Korea Selatan itu dilakukan secara profesional.

Terkait penanganan kasus narkoba di Indonesia, Pelaksana Advokasi Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Alfiana Qisthi mengatakan selama ini memang kurang transparan. Hukum, menurutnya tumpul ke atas tapi tajam ke bawah dalam penanganan narkoba.

“Kalau melibatkan orang berduit, hukum sangat lembek. Banyak selebriti yang bebas atau direhebalitasi karena mereka punya duit. Tetapi kalau yang tertangkap masyarakat bawah, banyak yang langsung dijebloskan ke penjara,” kata Afni.

“Pada tahun 2017 lebih dari 7 orang artis pengguna narkoba yang dilepas atau direhabilitasi. Tetapi dari 145 kasus yang kita dampingi, hanya 17 yang diassesmen. Banyak pemakai yang dituduh sebagai penjual. Ada jual beli pasal di sini,” tambahnya. (AMZ)

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Peluncuran Generali Protection (G-PRO) (Foto: Ridwan/INDUSTRY.co.id)

Rabu, 21 Februari 2018 - 18:20 WIB

Generali Gandeng Bank BTN Berikan Perlindungan Penyakit Kritis Bagi Nasabah KPR

PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali Indonesia)bersama PT Bank Tabungan Negara (Persero)kembali meluncurkan Generali Protection (G-PRO).

Ilustrasi Pekerja Pabrik Sarung Tangan Karet (Ist)

Rabu, 21 Februari 2018 - 17:50 WIB

Industri Sarung Tangan Karet, Dari 40 Pabrik Tersisa 5 Pabrik, Mengerikan!

Isu penutupan pabrik hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan para pelaku industri. Harga gas yang tak kunjung turun menjadi pemicu tutupnya beberapa pabrik di Indonesia.

Achmad Widjaja, Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Industri Hulu dan Petrokimia

Rabu, 21 Februari 2018 - 17:03 WIB

Kisruh Harga Gas Buat Investor Wait and See, Industri Petrokimia Makin Tak Matang

Investasi sektor petrokimia hingga saat ini masih belum ada perencanaan yang matang. Pasalnya, investor masih menunggu ketegasan pemerintah terkait penurunan harga gas untuk industri.

CEO blanja.com Aulia E Marinto

Rabu, 21 Februari 2018 - 17:00 WIB

Industri UMKM Harus Punya Kreativitas E-Commerce

Ketua Umum Indonesia E-Commerce Association (Idea) Aulia E Marinto mengatakan industri usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) harus memiliki kreativitas dalam memberdayakan "e-commerce" (perdagangan…

LUNA V Lite

Rabu, 21 Februari 2018 - 16:41 WIB

Fokus ke Produk, LUNA Smartphone Optimis Kuasai Pasar Dalam 3 Tahun

Luna V Lite dengan layar Fullscreen rasio 18:9 mampu menghadirkan kualitas yang sama dengan harga yang cukup fantastis yaitu 1,7 jutaan.