45% Kebutuhan Baja Dalam Negeri Masih Impor, Asosiasi: Ini Sudah Tidak Ideal

Oleh : Ridwan | Kamis, 08 Februari 2018 - 06:15 WIB

Ilustrasi Industri Baja
Ilustrasi Industri Baja

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kebutuhan akan baja masih belum bisa dipenuhi oleh produsen dalam negeri. Seperti diketahui, saat ini produkai baja dalam negeri baru sekitar 45% dan sisanya ditutup oleh impor.

Para pelaku industri baja yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pun mengakui produksi dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan.

Co-Chairman Asosiasi Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Association/IIASA), Purwono Widodo, menjelaskan bahwa industri baja memang tidak menolak impor karena produksi dalam negeri yang tidak mencukupi. Namun, menurut dia, idealnya impor baja tak lebih dari 30%.

"Tonasenya harusya tidak boleh lebih dari 30%, kalau lebih dari itu enggak balance, artinya dikuasai impor, minimal 10% sudah normal. Kayak sekarang sudah 45% itu sebenarnya enggak mandiri," kata Purwono seusai acara FGD di Kantor Kadin, Jakarta (7/1/2018).

Oleh sebab itu, dia meminta kepada pemerintah untuk bisa menangani permasalahan impor baja ini. Hal itu agar industri baja bisa menjadi lebih berkembang.

"Yang kita minta kepada pemerintah adalah perlindungan terhadap unfare-nya, jadi kalau kita kan carbon steel, ya harusnya impor carbon steel, harga internasional kita tahu kan, jadi harusnya kalo mau bayar biaya masuk ya bayar saja," kataynya.

Sementara itu, Senior Vice Presiden Head of Marketing Krakatau Steel, Bimakarsa Wijaya mengatakan, untuk impor baja memang porsinya sudah menurun, tapi dari sisi presentase-nya masih cukup tinggi.

"Porsinya sudah menurun ya, dulu itu kita impornya 55%, produksinya 45%. Kan sekarang udah kebalik nih, 2016-2017 impornya sudah menurun ya, jadi 45%, produksinya 55%," ungkap Bimakarsa.

Bimakarsa mengatakan, jumlah kebutuhan baja nasional meningkat setiap tahunnya. Pada 2016 lalu kebutuhan dalam negeri sebanyak 12,7 juta ton, dan tahun 2017 diperkirakan sebanyak 13,4 juta ton.

"Kalau untuk 2018, kalau pertumbuhan 6-7%, jatuhnya di 14 juta ton. Kita harapkan jangan lebih dari 50% impornya," kata dia.

Dia mengatakan ada sejumlah hal yang membuat baja masih diimpor, antara lain seperti masalah harga yang lebih murah dibanding produksi. Walaupun sebenarnya, industri masih bisa memproduksinya sendiri.

"Ada impor-impor yang tidak bisa kita produksi, di bagian tengah (midstream) bisa diproduksi tapi tetap impor, itu faktor costnya, karena lebih murah. Terurama wire road untuk paku-paku, kawat, itu kan sebetulnya bisa, tapi China lebih murah. Lalu untuk konstruksi, seperti beton, itu lebih pilih impor, karena lebih murah," tuturnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

KKP Dorong Industri Mutiara Nasional Bersaing di Kancah Dunia

Selasa, 25 September 2018 - 18:00 WIB

Investor Tiongkok akan Berinvestasi Budi Daya Mutiara di Flores Timur

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Flores Timur Yohanes Kopong mengatakan sebanyak lima perusahaan berminat menamamkan modalnya atau berinvestasi…

Presiden Jokowi hUT Kadin (Foto Herlambang)

Selasa, 25 September 2018 - 18:00 WIB

Bergabungnya Rosan ke TKN Tak Pengaruhi Netralitas Pengusaha

Bergabungnya Ketua Umum Kamar Dagang dan Indonesia (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani dalam Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf tidak memengaruhi netralitas pengusaha, kata Ketua Bidang Organisasi…

Triawan Munaf, kepala Badan Ekonomi Kreatif (Foto: Hitsss)

Selasa, 25 September 2018 - 17:40 WIB

Ekonomi Kreatif Masa Depan Dunia

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan ekonomi kreatif merupakan sektor andalan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat baik di Indonesia maupun dunia.

Ilustrasi Migas

Selasa, 25 September 2018 - 17:20 WIB

SKK Migas Nilai Lapangan Sukowati Potensial Produktif

Deputi Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jaffee Arizon Suardin menilai unit Asset 4 Sukowati Field merupakan salah satu blok migas…

Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso

Selasa, 25 September 2018 - 17:01 WIB

Proses Akuisisi 51 Persen Saham Pertagas Selesai September

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus melaksanakan komitmennya untuk menyelesaikan proses akuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas) sebagai tahap lanjutan usai induk BUMN Migas (Holding BUMN Migas)…