Wisman Tiongkok Tertarik dengan Produksi Pangan IKM di Sulawesi Utara

Oleh : Chodijah Febriyani | Jumat, 29 Desember 2017 - 18:30 WIB

Wisatawan Diving di Bunaken, Manado, Sulawesi Utara (Foto:_an___dy_/Instagram)
Wisatawan Diving di Bunaken, Manado, Sulawesi Utara (Foto:_an___dy_/Instagram)

INDUSTRY.co.id, Sulawesi Utara - Tak hanya terkenal dengan destinasi wisatanya, Sulawesi Utara juga terkenal akan hasil industri kecil menengah (IKM) yaitu komoditas para penghasil pangan.

"Makin banyak kunjungan wisman asal Tiongkok ke Sulut, maka produksi pangan dari IKM meningkat, menyesuaikan dengan permintaan yang bertumbuh bagus," kata Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw di Manado, Kamis.

Jenny mengatakan makin banyak wisman yang datang ke Sulut, produksi produk pangan makin tinggi karena permintaan cukup banyak.

Sejak dibukanya penerbangan carter Manado-Tiongkok, katanya, produk IKM khususnya pangan di Sulut makin meningkat.

"Hal ini memberikan angin segar bagi IKM di Sulut karena permintaan yang tinggi dan juga meningkatkan kesejahteraan," jelasnya.

Apalagi, lanjut dia, wisman asal Tiongkok memiliki pola makan hampir sama dengan Sulut sehingga mempermudah IKM untuk memasarkan produknya.

"IKM harus memanfaatkan kesempatan ini, dan berusaha memberikan produk yang berkualitas tinggi karena akan menentukan kelangsungan usaha," katanya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut Moh Edy Mahmud mengatakan wisman asal Tiongkok mendominasi kunjungan ke Provinsi Sulut.

"Sejak tahun lalu, hampir setiap bulan wisman asal Tiongkok paling banyak yang datang ke Sulut," kata Edy Mahmud.

Dia mengatakan hal ini sangat baik, karena semakin banyak wisman yang datang ke Sulut, juga akan diikuti oleh sumbangan devisa bagi negara.

Ia menjelaskan kunjungan wisman Tiongkok yang tinggi ini, tak lepas dari dukungan Pemerintah Sulut yang membuka rute langsung penerbangan Manado-Tiongkok.

"Memang, baru penerbangan sewa, namun dampaknya cukup besar, karena secara kontinyu," jelasnya.

Wisman yang datang ke Sulut paling banyak berasal dari Tiongkok, yaitu sebanyak 5.947 orang (77,36 persen), diikuti oleh Jerman 281 orang (3,66 persen), Singapura 202 orang (2,63 persen), Amerika 132 orang (1,72 persen).

Kemudian, katanya, dari Inggris 113 orang (1,47 persen), Perancis 103 orang (1,34 persen), Malaysia 101 orang (1,31 persen), Belanda 100 orang (1,30 persen), Hongkong 69 orang (0,90 persen), dan Australia 48 orang (0,62 persen). (Ant)

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli (Foto Ist)

Minggu, 18 November 2018 - 12:18 WIB

Selaras Pemikiran Rizal Ramli, Pemerintah dan Bank Indonesia Wajibkan Eksportir Bawa Pulang Devisa

Rencana Bank Indonesia (BI) dalam menerbitkan aturan baru yang mewajibkan eksportir membawa devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri pada 1 Januari 2019 selaras dengan ide dan gagasan ekonom…

Peneliti berprestasi ke Taiwan

Minggu, 18 November 2018 - 11:15 WIB

Kementerian Pertanian Berangkatkan Peneliti Berprestasi ke Taiwan

INDUSTRY.co.id -

Taiwan Kementerian Pertanian memberangkatkan Peneliti Berprestasi untuk mempelajari inovasi teknologi pertanian modern khususnya bidang Hortikultura…

Petani Padi (Ilustrasi)

Minggu, 18 November 2018 - 10:46 WIB

Agroekologi Bisa Jadi Solusi Pertanian Masa Depan

Agroekologi sesungguhnya memiliki kemampuan menghasilkan produksi pertanian lebih tinggi dibanding pola pertanian konvensional. Sayangnya, agroekologi masih belum mendapatkan perhatian dan dukungan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:34 WIB

KTT APEC akan Bahas Konektivitas Untuk Pertumbuhan Inklusif

Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2018 hari kedua, Minggu (18/11/2018) di Port Moresby, Papua Nugini, antara lain akan membahas konektivitas untuk pertumbuhan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:29 WIB

Presiden Jokowi Hadiri Pertemuan Dewan Bisnis APEC

Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan Dewan Bisnis Asia-Pacific Economic Cooperation atau APEC Business Advisory Council (ABAC) di Port Moresby, Papua Nugini, Sabtu (17/11/2018).