Bombana, Memupuk Asa Berdirinya Industri Gula Terbesar

Oleh : Dhiyan W Wibowo | Sabtu, 16 Desember 2017 - 13:49 WIB

Ilustrasi Pabrik Gula (wy)
Ilustrasi Pabrik Gula (wy)

INDUSTRY.co.id - Bombana, Persoalan klasik di industri gula nasional masih berkisar pada rendahnya tingkat produktivitas per hektare pada perkebunan tebu.

Persoalan pabrik gula yang didominasi oleh fasilitas produksi warisan zaman Hindia Belanda juga ikut menekan tingkat produksi gula nasional. Rencana pembangunan pabrik gula terbesar di Bombana tampaknya bisa membantu menekan tingkat impor gula nasional.

Alkisah, saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, sekitar tahun 1930-an, terdapat sekitar 179 pabrik gula berdiri, yang menerima hasil panen tebu dari total luas lahan perkebunan tebu saat itu yang sekitar 150 hektare.

Tiap hektare-nya saat itu mampu memproduksi gula yang cukup fantastis, yakni sebesar 14,79 ton per hektare. Bandingkan dengan kondisi industri gula belakangan ini yang jauh merosot.

Jumlah lahan perkebunan tebu yang ada memang mengalami peningkatan hingga dua kali lipat, yakni seluas 398 hektare pada tahun 2010. Namun tingkat produksinya jauh melorot, menjadi hanya 5,74 ton per hektare.

Jumlah pabrik gula pun ikut tergerus menjadi hanya sekitar 90 unit saja, yang sebagian besar dimiliki oleh perusahaan pelat merah adalah pabrik gula hasil warisan zaman Belanda.

Sementara itu, melansir data angka perkiraan dari Kementerian Perindustrian pada 2016 lalu, kebutuhan gula nasional pada disebut mencapai 5,7 juta ton, yang 2,8 juta ton merupakan gula kristal putih untuk konsumsi masyarakat, dan 2,9 juta ton gula rafinasi untuk kebutuhan industri makanan dan minuman.

Sejauh ini upaya untuk menutupi kekurangan kebutuhan gula dilakukan dengan cara impor, bukan dengan mencari cara berkesinambungan dalam menambah jumlah produksi gula dalam negeri. Langkah impor ini praktis telah dilakukan pemerintah sejak tahun 1967.

Sebuah ironi bagi negara agraris tentunya. Banyak faktor yang membuat Indonesia menjadi pengimpor gula.

Berdasar data dari Direktorat Tanaman Semusim dan Rempah pada Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, terjadi fluktuasi jumlah produksi gula pada 2008-2016.

Pada 2008, produksi gula mencapai 2,6 juta ton. Angka produksi berkurang sekitar 0,4 juta ton per hektare pada 2016 menjadi 2,2 juta ton.

Kendati luasan area pada kurun waktu tersebut mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan. Pada 2008 luas area kebun tebu mencapai 435 ribu hektare, naik menjadi sekitar 444 ribu hektare pada 2016.

Disampaikan Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementan RI, Agus Wahyudi beberapa waktu lalu, menurunnya produktifitas gula disebabkan sejumlah hal, termasuk perubahan iklim, pergeseran kesuburan lahan, kelangkaan tenaga kerja hingga permodalan.

"Banyak kendala teknis baik di petani maupun di pabrik gula," ujarnya seperti dilansir Trubus.

Perihal permodalan juga yang membuat tak banyak pabrik yang mengalami modernisasi, dan masih mengandalkan fasilitas produksi peninggalan era Hindia Belanda.

Tak ayal upaya untuk meningkatkan produktifitas kerap terhambat. Namun demikian Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produktifias tebu dan penambahan luas areanya, dengan target produksi gula meningkat hingga 3,3 juta ton dengan luas areal tebu 505 hektare pada tahun 2020, demikian dipaparkan Agus Wahyudi.

Keinginan pemerintah tersebut segera mendapatkan dukungan dari pihak swasta. Adalah PT Jhonlin Batu Mandiri yang berencana mengucurkan investasi sebesar Rp 2,2 triliun untuk mengembangkan perkebunan tebu dan peternakan secara terintegrasi di kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Perusahaan disebutkan akan memanfaatkan kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Tina Orima, Bombana untuk tujuan tersebut.

Kawasan seluas 20.000 hektare di KPHP Tina Orima ini nantinya akan dimanfaatkan untuk pengembangan kebun tebu dengan bekerjasama dengan masyarakat. Saat ini masyarakat telah menyiapkan kebun plasma untuk dikembangkan ke dalam kawasan pengembangan kebun tebu tersebut.

Peternakan sapi bakal dikembangkan dari kebun tebu secara terintegrasi, mengingat pucuk tanaman tebu yang dipanen bisa menjadi pakan berkualitas bagi sapi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman usai melakukan penanaman perdana Tebu di perkebunan tebu Tinabite Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana mengemukakan, program penanaman tebu ini merupakan bagian dari langkah mendongkrak produksi gula nasional, sekaligus menutup keran impor gula selama ini.

Program ini juga merupakan bagian dari program nasional yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo untuk mencapai swasembada gula dan tebu nasional.

Kita harus bersama-sama mendukung program swasembada tebu nasional ini," kata Amran.

Selain pengembangan perkebunan tebu yang terintegrasi dengan peternakan sapi, di kabupaten yang sama juga direncanakan akan dibangun pabrik gula terbesar.

Amran Sulaiman mengatakan, sesuai dengan perintah Presiden RI Joko Widodo, pihaknya berencana membangun sepuluh pabrik gula, yang lima pabrik di antaranya sudah selesai dan beroperasi.

"Jadi pertama ini arahan Bapak Presiden, perintah Presiden kalau mau swasembada, bangun 10 pabrik gula. Sekarang sudah selesai di OKI (Ogan Komering Ilir), mungkin giling pada bulan November. Kemudian Dompu sudah giling, dua di Jawa Timur, kemudian Lampung," kata Amran seperti dilansir RMOL.

Menurutnya rencana pembangunan pabrik gula terbesar di Sulawesi Tenggara ini merupakan inisiatif dari investor yang siap menginvestasikan dana Rp 4 triliun.

Ia berharap target pembangunan 10 pabrik gula bisa terus dicapai. Setelah pembangunan di Bombana ini teralisir, pihaknya berharap langkah serupa juga bisa dilakukan di Papua, Nusa Tenggara Barat, atau Nusa Tenggara Timur, serta Maluku.

Masih butuh lima nih. Kalau Kendari bisa menampung dua, aku siapkan dua. Tapi kalau satu, satu aja. Kami bergerak lagi ke Papua, atau NTB sudah, mungkin NTT, atau tempat lain, Maluku," ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat lokal tidak khawatir dengan rencana pembangunan pabrik gula tersebut, karena pihaknya telah mendapatkan komitmen dari manajemen perusahaan untuk memberdayakan sumber daya manusia setempat.

Usulan dari Pak Presiden itu, kalau mau Swasembada, bangun 10 pabrik gula. Sekarang sudah selesai 5 unit. Kebetulan di Sultra Agroklimatnya cocok, dan sangat bagus, maka kita dorong. Kita bangun pabrik gula dengan kapasitas 10.000 TCD (tones of cane per day) dan merupakan yang terbesar di Indonesia Timur, kata Amran.

Sementara itu anggota Komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasluddin mengingatkan pemerintah bahwa pembangunan pabrik gula biasanya membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Untuk itu dibutuhkan konsistensi dari pemerintah untuk terus mengembangkan rencana tersebut kendati harus berganti rezim.

Akmal sendiri menyampaikan apriesiasinya jika rencana ini akan benar-benar terwujud.

Menurutnya pembangunan pabrik gula baru saat ini sudah mendesak, mengingat kualitas gula petani yang buruk yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh rendahnya tingkat efisiensi pabrik peninggalan zaman Belanda.

Selain itu, kapasitas pabrik gula kebanyakan tidak besar. Yang terlihat sangat efisien pabrik gula saat ini ada pada pabrik gula Kebon Agung di Jawa Timur," jelas Akmal beberapa waktu lalu.

Pembangunan pabrik gula baru berkapasitas besar juga akan memberikan solusi efisiensi hingga tingkat rendemen yang tinggi.

Saat ini menurut Akmal tingkat rendemen terbaik hanya berkisar 8%. Bahkan di daerah Jawa Barat rendemen tebu menjadi gula kurang dari 7%.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Anies Baswesan (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 20 Juli 2018 - 12:04 WIB

Bila Ingin Menang, Prabowo Subianto Harus Waspada Tentukan Cawapres

Pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Said Salahudin mengatakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto harus berhati-hati dalam menentukan figur cawapresnya,…

Menteri Pariwisata, Arief Yahya (Foto: Kemenpar)

Jumat, 20 Juli 2018 - 12:00 WIB

Ajang ISTA 2018Kemenpar Optimis Raih Peringkat 30 di Tahun 2019

Berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) World Economic Forum (WEF), Indonesia berada di peringkat 42 pada tahun 2017, kini diproyeksikan naik peringkat ke-30 dunia pada 2019…

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto Ist)

Jumat, 20 Juli 2018 - 11:45 WIB

Ini Janji BI Dampingi UMKM ke Pasar Global

Bank Indonesia menerapkan tiga langkah pendekatan untuk mendorong akses UMKM ke pasar global.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. (Foto: Bamsoet.com)

Jumat, 20 Juli 2018 - 11:33 WIB

DPR: Kelompok Cyber Narcoterrorism Gunakan Sosmed Pasarkan Narkoba

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyatakan waswas terhadap kemunculan kelompok "cyber narcoterrorism" yang memanfaatkan dunia maya sebagai media untuk memasarkan narkoba.

Reza Priyambada, analis PT Binaartha Parama Sekuritas (Foto Abe)

Jumat, 20 Juli 2018 - 11:28 WIB

Kebijakan Trump Bisa Untungkan Obligasi Dalam Negeri

Kembalinya sentimen negatif dapat memberikan imbas negatif juga pada pergerakan pasar obligasi dalam negeri dimana pelaku pasar diperkirakan akan kembali melakukan aksi jualnya.