Mobil Pedesaan, Akankah Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Oleh : Dhiyan W Wibowo | Sabtu, 16 Desember 2017 - 12:56 WIB

 Presiden RI Joko Widodo didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani meninjau stan Kementerian Perindustrian yang memamerkan prototipe mobil pedesaan seharga Rp 60 Jutaan
Presiden RI Joko Widodo didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani meninjau stan Kementerian Perindustrian yang memamerkan prototipe mobil pedesaan seharga Rp 60 Jutaan

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketika industri manufaktur besar disibukkan oleh upaya menciptakan varian kendaraan yang bisa mengeruk pangsa pasar domestik, beberapa manufaktur kecil justru memproduksi mobil pedesaan sebagai sebuah produk yang memiliki pasar yang spesifik di Indonesia.

Sejumlah manufaktur otomotif domestik kini tengah berkutat mencari upaya agar angka penjualan bisa kembali sama menggairahnya dengan periode lima tahun lalu, ketika ekonomi Indonesia masih belum terganggu oleh menurunnya harga komoditas seperti kelapa sawit dan batu bara.

Sebagian besar dari mereka juga tengah memutar otak dan menggelar lobi dengan pemerintah agar bisa diberikan insentif penurunan pajak bagi mobil kelas sedan dan hybrid.

Insentif dibutuhkan agar Indonesia bisa kembali dikenal dengan produk-produk sedannya, sehingga bisa melakukan ekspansi ekspor ke sejumlah pasar global yang memang lebih gandrung pada sedan ketimbang MPV (multi purposes vehicle) yang mendominasi hasil produksi di dalam negeri.

Sejauh ini manufaktur otomotif di dalam negeri lebih memilih memproduksi MPV karena tingkat pajaknya jauh lebih rendah daripada sedan. Pajak ini tentunya akan mempengaruhi pola belanja konsumen dalam membeli produk otomotif, kata Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) dalam satu kesempatan kepada redaksi Industry.co.id.

Dengan adanya insentif bagi produk sedan, ia juga berharap industri otomotif nasional bisa ikut mewarnai dinamika penjualan otomotif global yang memang didominasi oleh produk sedan.

Nah di tengah hiruk pikuk keinginan menembus pasar dunia lewat produk sedan, tampaknya ada yang sedikit tercecer dalam konstelasi industri otomotif nasional.

Sejauh ini belum ada satu manufaktur besar yang benar-benar menyuarakan betapa pentingnya produk otomotif berupa mobil pedesaan, yang diharapkan bisa menopang produktifitas industri pertanian dan perkebunan di dalam negeri.

Belakangan ada harapan besar bahwa industri pertanian dan perkebunan, termasuk sarana transportasi pedesaan bakal mulai ditengok oleh pemerintah untuk dikembangkan lebih massif.

Setidaknya hal ini tercermin dalam kunjungan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ke Bengkel Kiat Motor di Klaten, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Di Bengkel Kiat Motor, Menteri Perindustrian melihat langsung kemamppuan putera-putera bangsa dalam memproduksi mobil pedesaan.

Produk ini diharapkan tak hanya dapat memenuhi kebutuhan alat transportasi multiguna di sektor pertanian dan perkebunan, namun juga bakal mendorong peningkatan ekonomi masyarakat termasuk mewujudkan kemandirian penguasaan teknologi oleh anak bangsa.

Dikatakan Airlangga, pengembangan kendaraan perdesaan ini merupakan bagian dari program pemerintah yang tertuang di butir Nawacita, yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa, dalam kerangka negara kesatuan.

Kementerian Perindustrian pun disebutkan Airlangga akan memacu pengembangan kendaraan perdesaan, agar segera diproduksi oleh industri dalam negeri.

Pemerintah menyiapkan regulasi kendaraan perdesaan, supaya bisa dikembangkan industri nasional. Artinya, harus dibuat di Indonesia, ujar Airlangga seperti dilansir laman resmi Kementerian Perindustrian.

Di bengkel Kiat ini, memang tengah dikembangkan prototipe mobil pedesaan yang siap diproduksi. Bagi Airlangga, prototipe ini telah membuktikan jika anak bangsa Indonesia mampu mendesain, dan memahami teknik mesin otomotif.

Berikutnya, prototipe ini akan menjadi platform kendaraan yang akan dikembangkan, untuk memenuhi kebutuhan khususnya di daerah perdesaan.

Mungkin awalnya bisa dikembangkan ke arah sinergi Solo Raya (Klaten, Jogja, Solo), setelah itu dibawa ke nasional, ujar Airlangga.

Bengkel Kiat Motor milik Sukiyat di Klaten sejauh ini telah merampungkan tiga prototipe berupa mobil kabin ganda, pikap, dan peralatan pertanian yang diberi nama Moda Angkutan Hemat Pedesaan (Mahesa).

Mobil pedesaan hasil produksi bengkel Kiat, dipatok dengan harga yang sangat terjangkau, masing-masing Rp 50 juta, Rp 60 juta, dan Rp 70 juta.

Disampaikan Airlangga, pihaknya berencana memulai produksi massal kendaraan pedesaan ini pada Agustus 2018 mendatang. Ukuran kendaraan pedesaan hasil produksi Klaten ini nantinya bisa dibuat berdasarkan pesanan dan kapasitas angkut hasil pertanian atau perkebunan.

Medio September lalu, Presiden Joko Widodo juga sempat meninjau Bengkel Kiat Motor. Presiden saat itu mengemukakan bahwa pemerintah mendukung pengembangan kendaraan pedesaan Mahesa agar bisa diproduksi massal dengan harga kompetitif dan kualitas produksi yang baik.

Disampaikan Airlangga, pemerintah akan membantu mendorong dari sisi regulasi, uji emisi, sertifikasi, dan berpotensi akan membantu dari sisi perpajakan.

Sementara itu Sukiyat, sang pemilik bengkel mengemukakan, varian Mahesa hasil produksinya telah mendapatkan pesanan dari masyarakat sebanyak 10.000 unit dalam satu bulan terakhir.

Diakuinya, kehadiran Presiden Jokowi ke bengkelnya di Jalan Jogja-Solo Km 4, Ngaran, Mlese, Klaten telah menjadi promosi gratis bagi usahanya. Publikpun makin mengenal Mahesa, dan mulai memesannya. Bahkan ada beberapa pemesan yang berasal dari luar Jawa.

Disampaikan Sukiyat pembeli pertama Mahesa adalah Plt Bupati Klaten Sri Mulyani. Bahkan ada pengusaha yang langsung pesan 6.000 unit, sehingga jika ditotal sudah ada 10.000 pesanan yang masuk ke bengkelnya.

Namun demikian ia meminta agar para pemesan Mahesa berkenan untuk bersabar, mengingat pihaknya masih dalam proses kepengurusan perizinan. Ia juga berharap mobil hasil kreasi para awak di bengkelnya cuup menjalani uji kelayakan saja, tanpa harus mengikuti uji tipe.

Pasalnya Mahesa hanyalah mobil pedesaan yang sejatinya tidak akan diperbolehkan beroperasi di jalan raya.

Ini mobil pedesaan, hanya boleh dioperasikan di jalan-jalan pedesaan, " ujarnya.

Bicara soal mobil pedesaan, sebenarnya proses kreasi juga sudah dilakukan oleh PT Velasto Indonesia. Anak usaha PT Astra Otoparts ini bahkan telah meresmikan ekspor perdana unit Wintor, demikian produk mobil pedesaan milik PT Velasto, ke Malaysia pada Juli lalu.

Mini traktor produksi lokal PT Velasto Indonesia ini dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan kendaraan perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit. Wintor diklaim memiliki banyak kelebihan untuk bermain di pasar internasional.

Malaysia pun dipilih karena negeri jiran ini merupakan pemilik perkebunan kelapa sawit terluas kedua di dunia setelah Indonesia.

Penggunaan Wintor di perkebunan sawit disebut-sebut mampu menekan biaya hingga 60% dibandingkan cara angkut manual.

Meski diciptakan untuk mengangkut sawit, namun Wintor bisa juga diaplikasikan sebagai kendaraan angkut serbaguna melalui konversi yang bisa disesuaikan dengan ragam kebutuhan konsumen.

Wintor diproduksi PT Velasto Indonesia di Cikarang dengan kapasitas 3.000 unit per tahun dan terus berkembang seiring permintaan pasar. Untuk ekspor perdana ke Malaysia sendiri unitnya masih terbatas, namun akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Sejak tahun 2013 hingga saat ini, Wintor sudah dibuat dalam lima generasi. Model keempat yang diekspor ke Malaysia dipasarkan mulai dari Rp 100 juta, sedangkan generasi kelima yang akan menjadi mobil perdesaan tersebut akan dijual dari harga Rp 60 jutaan.

Wintor mengatongi sarat untuk mobil perdesaan. Salah satunya ditunjukkan dengan penggunaan mesin diesel berkapasitas kecil keluaran Kubota yang diklaim memiliki sisi efisiensi bakar 0,5 liter Solar tiap jam pemakaian.

Dikatakan Airlangga, model terbaru dari Wintor yang merupakan generasi kelima masuk dalam kategori mobil perdesaan.

Selain karena diproduksi dan didominasi komponen lokal, konfigurasi Wintor yang bisa dijadikan mobil penumpang dan pengangkut hasil perkebunan juga menjadi pertimbangan.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Board Member of Sinar Mas Franky O. Widjaja (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 13:52 WIB

TNI Bantu Bangun 3.000 Rumah Korban Gempa

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan TNI akan membangun 3.000 unit rumah bagi warga yang menjadi korban bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat serta gempa bumi dan…

PT Telkom Indonesia. (Foto: IST)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 13:37 WIB

Telkom Paparkan Strategi Indonesia Menuju Global Digital Hub di Indonesia Pavilion

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memiliki peran penting dalam memastikan pemerataan jaringan dan akses telekomunikasi sekaligus percepatan pertumbuhan ekonomi digital. Kehadiran Telkom secara…

Kepala BPOM Penny K. Lukito (Foto Ist)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 13:33 WIB

BPOM Komitmen Pembangunan Kesehatan Palestina

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Lukito mengatakan Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk membangun kapasitas Palestina salah satunya pada sektor kesehatan.

- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj (Foto Ist)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 13:24 WIB

PBNU Luncurkan NU Channel Tayangan Program Dakwah

Ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) meluncurkan "NU Channel" yang menayangkan sejumlah program seperti dakwah, doa, kebudayaan, seni dan diskusi.

Manchester United (MU)

Selasa, 16 Oktober 2018 - 13:20 WIB

Siapkan Dana Capai Rp 60 Triliun, Pangeran Saudi Ini Siap Beli Manchester United

Pangeran Muhammad bin Salman dikabarkan akan mengambil alih Manchester United dari keluarga Glazer senilai 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp60 triliun.