APKASINDO: Sawit Bukan Penyumbang Emisi Gas Kaca

Oleh : Hariyanto | Kamis, 14 Desember 2017 - 15:01 WIB

kelapa sawit
kelapa sawit

INDUSTRY.co.id - Pekanbaru - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Riau menepis konotasi negatif terkait emisi gas rumah kaca disumbangkan oleh sawit seperti yang dilontarkan sejumlah Non-Governmental Organization (NGO= Organisasi non-Pemerintah/LSM) nasional dan internasional.

"Padahal selama ini emisi gas rumah kaca yang disumbang oleh sawit 835 kilogram justru lebih kecil dari emisi yang ditimbulkan oleh kedelai 1.387 kilogram. Kelapa sawit dua kali lipat lebih mampu menyerap CO2 dibanding tanaman lain, serta daunnya 10 kali lebih efisien menjadi kanopi," kata Ketua DPW Apkasindo Riau, Gulat Medali Emas Manurung di Pekanbaru, Rabu (13/12/2017)

Pendapat demikian disebutkan sebagai pokok pembahasan utama dalam seminar nasional berjudul "Sawit Goes to Campus yang menjadi pertama kali pertama digelar di Sumatera, pada 16-17 Desember 2017 di auditorium Pasca Sarjana Universitas Islam Riau (UIR) di Pekanbaru.

Menurut dia, seminar yang bertema "Sawit Antara Mitos dan Fakta" akan diikuti seribu lebih peserta yang dominan mahasiswa itu akan diberikan pemahaman tentang kelapa sawit oleh sejumlah narasumber.

Ia menyebutkan, nara sumber yang bakal menyampaikan pemikirannya antara lain Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDP), DR.Dono Bustami, Peneliti Ekonomi Kelapa Sawit, DR. Bayu Krisnamurthi, Kepala Balai Penelitian Marihat, Dr. Agus Susanto dan Peneliti Industri Hilir Kelapa Sawit, DR. Donal Siahaan.

"Pemikiran para pakar itu dibutuhkan karena sawit adalah kekayaan alam Indonesia yang tidak dimiliki oleh banyak negara di dunia. Tercatat 10 fakta penting tentang peran 11,2 juta hektar kebun kelapa sawit di Indonesia. Mulai dari sawit menjadi sumber kehidupan, menjadi tanaman yang tidak berkontribusi besar terhadap berkurangnya hutan hujan tropis, hingga limbah sawit multi manfaat," katanya.

Ia menjelaskan, hasil olahan sawit justru sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat seperti minyak goreng, sabun, kosmetik, bio solar dan aneka olahan kelapa sawit lainnya,

Sedangkan produktifitas kelapa sawit kata Gulat lebih tinggi dibanding komoditas minyak nabati lain dan lebih efisien soal penggunaan lahan. Misalnya untuk memproduksi 1 ton CPO sawit hanya butuh lahan 0,26 hektar. Sementara untuk jumlah produksi yang sama, kedelai butuh lahan 2,2 hektar dan minyak bunga matahari 2 hektar, katanya.

Untuk pendaftaran peserta masih terbuka hari ini dan mahasiswa bakal kebagian baju kaos, sertifikat dan ada juga doorprice di akhir acara. Untuk link pendaftaran peserta di bit.ly/SawitGoesToCampus.

Sekretaris APKASINDORiau, Rino Afrino menjelaskan bahwa berkebun kelapa sawit juga menjadi salah satu cara untuk merevitalisasi hutan yang pernah hancur akibat logging atau illegal logging.

"Ini lantaran kelapa sawit menyimpan kandungan karbon yang cukup besar. Lalu perkebunan kelapa sawit juga bisa menjadikan daerah yang tadinya kampung sunyi, berubah menjadi kota berkembang. Contohnya Tapung di Kabupaten Kampar, geliat ekonomi pada kelapa sawit membuat daerah ini cepat berkembang," katanya.

Rino menekankan bahwa kelapa sawit akan berdampak negatif jika ditangani oleh perusahaan atau petani yang tidak bertanggungjawab. Tapi jika ditangan perusahaan maupun petani yang bertanggung jawab, industri kelapa sawit akan muncul sebagai cahaya penerang dan salah satu indikator kemajuan ekonomi masyarakat, daerah, bahkan nasional.

"Dengan mendukung kelapa sawit, berarti kita mendukung kemajuan ekonomi Indonesia," ujarnya.

Terkait kenapa sawit dimusuhi sejumlah NGO, menurut Dekan Fakultas Pertanian UIR, Dr.Ir.UP Ismail M.Agr yang juga Ketua Pelaksana Sawit Goes to Campus mengatakan mereka melarang kelapa sawit di Indonesia lantaran Indonesia adalah "buffer" terakhir untuk ozon dan "global warming".

Bagi saya, katanya, ini sebagai bentuk ketidakadilan, masa ekonomi negara lain boleh maju dan berkembang sementara Indonesia tidak? Beda kalau para "pelarang" tadi memberikan kompensasi ekonomi yang sepadan dan menjadi solusi ganda untuk masyarakat dan pendapatan nasional.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. (Foto: Bamsoet.com)

Kamis, 26 April 2018 - 23:00 WIB

Bamsoet Pastikan Pesta Demokrasi 2018/2019 Tak Ganggu Kerja Parlemen

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo memastikan persiapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018, Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 tidak akan mengganggu kerja-kerja parlemen.

Presiden Jokowi dan Pimpinan PKS (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 26 April 2018 - 22:30 WIB

PDIP: Pertemuan Presiden Jokowi-PKS Tidak Pecah Koalisi

Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Ahmad Basarah mengatakan pertemuan Presiden Joko Widodo dengan petinggi PKS tidak bertujuan memecah belah koalisi PKS-Gerindra di Pemilu Presiden (Pilpres)…

Ketua DPP PKS, Al Muzzammil Yusuf

Kamis, 26 April 2018 - 22:00 WIB

Pertemuan Presiden Jokowi-PKS Bicarakan Perkembangan Politik Jelang Pilpres 2019

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera Al Muzzammil Yusuf membenarkan ada pertemuan antara petinggi PKS dengan Presiden Joko Widodo sebanyak dua kali secara informal.

Teguh Santosa Sekjen Hubungan Luar Negeri Indonesia-Korut Bertemu Dengan Presiden Presidium Majelis Tertinggi Korea, Kim Yong Nam.

Kamis, 26 April 2018 - 21:53 WIB

Teguh Santosa: Kolonial Cabik-Cabik Persatuan Dua Korea

Perdamaian di Semenanjung Korea merupakan amanat konstitusi baik di Korea Utara maupun Korea Selatan. Selama ini, perdamaian di Semenanjung Korea sulit diwujudkan karena intervensi kekuatan…

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 26 April 2018 - 21:30 WIB

Partai Gerindra Tak Persoalkan Pertemuan Presiden Jokowi-PKS

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan partainya tidak mempersoalkan adanya pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri yang…