Industri Farmasi Menyiasati Keterbatasan Bahan Baku

Oleh : Dhiyan W Wibowo | Kamis, 14 Desember 2017 - 11:40 WIB

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat meresmikan pabrik farmasi PT Ethica
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat meresmikan pabrik farmasi PT Ethica

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketergantungan industri farmasi di dalam negeri dengan bahan baku impor masih sangat tinggi. Pemerintah mencoba menyediakan insentif bagi inovasi dan vokasi di industri bisa mendorong pembangunan bahan baku di dalam negeri.

Industri farmasi di Tanah Air sejauh ini masih mengandalkan bahan baku impor, yang sebagian besar didatangkan dari dataran Tiongkok dan India.

Pemerintah pun berupaya mendorong industri farmasi di dalam negeri untuk memproduksi bahan baku, dengan mencoba memberikan insentif dan mendorong pelaku industri lokal bekerja sama dengan produsen besar global dalam memproduksi produk farmasi dan bahan baku farmasi.

Upaya pemberian insentif sempat disampaikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai meresmikan fasilitas produksi obat-obatan injeksi milik PT ETHICA Industri Farmasi medio November lalu.

"Kami sedang mengkaji pemberian insentive buat chemical, atau pharmaceutical industry," ujar Airlangga di kawasan industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat (23/11) lalu.

Menurut Airlangga, ketergantungan impor farmasi kebanyakan terjadi untuk kebutuhan di hilir, dan dalam proses formulasi obat-obatan. Seperti mencampur substance obat dengan air, serta dalam proses packaging.

Pemerintah, lanjut Airlangga, tentunya akan mendorong agar pembuatan substance bisa dilakukan di dalam negeri, termasuk bahan active ingridient-nya.

Adapun insentif yang tengah dikaji untuk diberikan pada pelaku industri, pemerintah tampaknya akan mencoba memberikan insentif seperti yang dilakukan oleh pemerintah Thailand terhadap industri farmasi di sana.

Di negeri Gajah Putih kata Airlangga, memberikan insentif hingga 300% buat industri yang melakukan inovasi di industri farmasi, dan insentif sebesar 200% bagi industri yang melakukan pendidikan vokasi.

"Kami sedang mengkaji pemberian insentif buat chemical, atau pharmaceutical industry. Salah satu yang dipertimbangkan, (seperti yang dilakukan, red) di Thailand untuk inovasi diberikan insentif 300% dan untuk pendidikan vokasi insentifnya 200%," kata Airlangga.

Kajian terkait insentif, tengah dilakukan pihak kementerian perindustrian dan kementerian kesehatan. Diharapkan dengan insentif tersebut industri farmasi domestik kelak bisa menjadi sektor yang menarik bagi penanaman modal baru.

Penanaman modal baru, khususnya PMA, diharapkan akan bisa mendorong alih teknologi dan peningkatan kualitas tenaga kerja lokal.

Sementara itu Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengatakan, sejauh ini industri di dalam negeri memang cenderung memilih meracik obat-obatan dan enggan membuat bahan baku.

Dan saat ini pemerintah berupaya mendorong agar pemain lokal mau membuat bahan baku.

"Ada beberapa perusahaan yang buat tapi masih kecil (skalanya). Dan sekarang mereka berusaha joint, seperti Kimia Farma sudah buat garam farmasi," ujar Nila.

Di tahun depan, kata Nila, Kimia Farma diperkirakan sudah bisa membuat 14 jenis bahan baku obat, lewat kerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan. Perusahaan lainnya, PT Bio Farma juga telah membuat bahan baku biopharmaceutical, lewat kerja sama dengan Korsel dan RRC.

Kementerian kesahatan pun mendorong agar bisa dilakukan kerja sama antara perusahan lokal dan perusahaan asing dalam pembuatan bahan baku farmasi di dalam negeri.

"Contoh saja, vaksin kita baru 9 termasuk rubella. Di Amerika sudah 18-an. Jadi kita dorong agar bisa dibuat di sini sehingga harganya bisa lebih efisien, " kata Menkes.

Pada saat yang sama, PT ETHICA Industri Farmasi meresmikan beroperasinya fasilitas produksi obat injeksi steril barunya senilai Rp1 triliun di Kawasan Industri Jababeka.

Kelak pabrik ini akan mampu memproduksi obat injeksi dengan kapasitas besar sebagai wujud kontribusi perusahaan merealisasikan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat produksi obat injeksi utama bagi pasar Asia, Australia, dan kedepannya ke berbagai pasar di dunia.

Pabrik baru PT ETHICA merupakan hasil joint venture antara Fresenius Kabi AG dan SOHO Global Health.

Disampaikan Gerrit Steen, Fresenius Kabi Board Member & President Region Asia, pabrik ini akan menyediakan akses kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia dengan beragam pilihan obat injeksi bagi penyakit kritis dan kronis.

"Produk-produk obat injeksi yang dihasilkan dari pabrik ini juga akan berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pasar di negara-negara Asia dan Australia," katanya.

Sementara itu Indrawati Taurus, President Direktur PT ETHICA Industri Farmasi mengatakan, pihaknya mendukung visi pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi untuk produk-produk farmasi di pasar Asia dan berkontribusi terhadap perkembangan industri obat injeksi di Indonesia yang rata-rata bertumbuh sebesar 11% per tahun.

Pada tahun 2016, pabrik produksi baru PT ETHICA Industri Farmasi telah mendapatkan Izin Industri Farmasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik indonesia.

Pabrik tersebut sudah mulai beroperasi secara komersil sejak awal Oktober 2017. Pusat Inovasi dan Pengembangan Produk (Innovation and Development Centre) telah dibentuk untuk mengembangkan produk obat injeksi yang lebih beragam dan dengan formula terbaru.

PT ETHICA Industri Farmasi saat ini menyediakan lebih dari 20 jenis produk obat injeksi, antara lain seperti yang digunakan dalam perawatan ginekologi, anestesi, dan perawatan pasien kritis, yang telah dipasarkan di Indonesia. Perusahaan berencana untuk meningkatkan jumlah produk hingga tiga kali lipat, dan juga melakukan ekspor ke berbagai negara seperti Hong Kong, Korea Selatan, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, Vietnam dan Australia.

Sebelumnya perusahaan telah berproduksi lewat pabrik lama di Pulogadung dengan kapasitas produksi 30 juta ampul, dan perusahaan termasuk sebagai industri pertama yang memproduk injeksi.

Dikatakan Indrawati, dengan beroperasinya pabrik baru di Cikarang, perusahaan akan mampu memproduksi 130 juta ampul sesuai kapasitas produksi saat ini. Dan di tahun 2018, perusahaan akan mengikuti tender penyediaan ampul injeksi di e-catalog program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Dengan fasilitas produksi kami yang baru di Cikarang ini, diharapkan kami bisa memproduksi 130 juta ampul injeksi untuk memenuhi kebutuhan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)," ujarnya di Cikarang.

Dari fasilitas produksi yang dibangun dengan nilai investasi Rp1 triliun ini, perusahaan juga berharap mampu menambah jumlah varian produksinya dari 20 item, menjadi 60 item dalam jangka waktu tiga tahun ke depan.

Masih menurut Indrawati, kemampuan perusahaan berinovasi membuat varian produk tak terlepas dari peran Fresenius Kabi asal Jerman dan Soho Group selaku pemegang saham Ethica.

"Dengan adanya joint venture ini, kita bisa memanfaatkan kekuatan dua share holder. Dari Soho akan didapat masukan apa yang dibutuhkan pasar lokal. Dan dari Freseinius ia kuat di produk injeksi," paparnya.

Sejauh ini, Ethica merupakan market leader untuk produk injeksi oksitosin, yang dibutuhkan dalam perawatan ibu hamil. Dengan produksi sebanyak 20 juta ampul, Ethica pun menjadi pemenang lelang e-catalog JKN untuk produk oksitosin tahun 2017.

Selain oksitosin, Ethica memproduksi injeksi anestesi yang juga cukup besar, serta sejumlah obat untuk kebutuhan dalam kamar operasi.

"Kami adalah pemenang lelang e-catalog untuk oksitosin, dan kami jadi single supplier untuk tahun 2017," ujarnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Walikota Bandung Ridwan Kamil. (Foto: beastudiindonesia.net)

Minggu, 24 Juni 2018 - 06:00 WIB

Setelah Cuti 130 Hari, Kang Emil Kembali Jabat Walikota Bandung

Ridwan Kamil kembali menjabat sebagai Wali Kota Bandung setelah sebelumnya sempat cuti untuk ikut dalam kontestasi pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018.

Jababeka dok

Sabtu, 23 Juni 2018 - 20:57 WIB

Setelah Morotai dan Tanjung Lesung, Jababeka Incar KEK di Bangka Belitung

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (kode saham KIJA) memberi sinyal hendak mengelola kawasan ekonomi khusus (KEK) di Provinsi Bangka Belitung.

Penyanyi Ed Sheeran. (Foto: NME)

Sabtu, 23 Juni 2018 - 19:30 WIB

Ed Sheeran Akui Tak Gunakan Layanan Streaming Musik

Ed Sheeran rupanya tidak pernah menggunakan jasa layanan streaming musik untuk mempromosikan lagu-lagunya. Seperti yang diketahui, Shape of You milik Ed Sheeran menjadi salah satu lagu yang…

Kementerian Perindustrian. (Fofo: kemenperin.go.id)

Sabtu, 23 Juni 2018 - 18:52 WIB

Kemenperin Tengah Godok Insentif Penerapan Industri Hijau

Kementerian Perindustrian mewacanakan insentif fiskal dan nonfiskal sebagai upaya untuk menerapkan industri hijau yang bersifat wajib.

Ribuan UMKM memadati acara sosialisasi PPh Final UMKM 0,5% yang dilakukan Presiden Jokowi di Sanur, Bali, Sabtu (23/6). (Dok: Kemenkop)

Sabtu, 23 Juni 2018 - 18:44 WIB

UMKM Bali Antusias Sambut Penurunan PPh Final 0,5 Persen

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di provinsi Bali menyambut baik kebijakan pemerintah menurunkan pajak penghasilan (PPh) final UMKM yang semula 1% menjadi 0,5% mulai 1 Juli 2018…