Krisis Telah Datang Andalah Sang Pemenang

Oleh : Anab Afifi | Kamis, 23 November 2017 - 10:22 WIB

Anab Afifi sebagai inisiator dan pendiri IARF dan CEO Bostonprice Asia (Foto Ist)
Anab Afifi sebagai inisiator dan pendiri IARF dan CEO Bostonprice Asia (Foto Ist)

INDUSTRY.co.id - Selamat datang krisis ekonomi 2018. Krisis gelombang ke tiga segera tiba, setelah krisis moneter 1998 dan krisis ekonomi dunia 2008. Demikian berita yang kita baca dua pekan lalu.

Siap pun tak suka krisis. Tapi, suka tidak suka, krisis bisa datang kapan saja.

Krisis adalah kabar buruk. Tapi, "kabar buruk harus datang lebih cepat", kata Bill Gates.

Ya... harus datang lebih cepat.

Artinya, harus diterima lebih cepat. Dipahami lebih cepat. Lalu membuat langkah respon secara tepat.

Dengan pemahaman itu, maka kita akan ikuti hukum keseimbangan yang akan berlaku. Agar mampu menyelaraskan ketimpangan akibat krisis ini, pola pikir dalam menghadapi krisis kita ubah:

KABAR BURUK = KABAR BAIK

Maka, kabar buruk tidak selamanya buruk. Kabar buruk bisa diubah menjadi kabar baik.

Sebaliknya, kabar baik juga tidak selamanya berbuah baik, bila direspon dengan tindakan yang merusak.

Penjelasan empirik dari rumus kabar buruk krisis ekonomi yang bisa diubah menjadi kabar baik adalah, fakta banyak bisnis baru yang tumbuh. Banyak orang yang tidak hanya selamat, tetapi justru makin berdaya.

Banyak perusahaan yang lahir di paska krisis moneter 1998, berkembang menjadi korporasi baru dengan kecepatan pertumbuhan melampaui perusahaan-perusahaan papan atas yang sudah ada. Dahlan Iskan, misalnya, ia melahirkan 100 perusahaan baru justru di tahun-tahun masa krisis. Perusahaan-perusahaan itu tumbuh dan berjumlah dua kali lipat saat ini.

Tahun 2000, Sandiaga Uno, adalah pemuda yang kehilangan pekerjaan karena krisis. Namun, pada tahun-tahun krisis itulah dia membuat lompatan besar. Hasilnya, ia malah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.

Selamat datang ekonomi krisis 2018.

Banyak perusahaan, hari-hari ini, sudah menutup gerai mereka. Semula kita mengira hal itu akibat teori disrupsi-nya profesor dari UI itu yang mengatakan bahwa transaksi on line sebagai penyebabnya. Teori ini kemudian dijadikan alibi dan apologi:"Pola konsumsi masyarakat hanya bergeser. Daya beli masih kuat kok !".

Ternyata, teori itu dibantah. Nielsen baru-baru ini merilis hasil risetnya. Transaksi online, saat ini hanya 1% dari seluruh belanja masyarakat.

Artinya, daya beli benar-benar merosot. Ekonomi memang melemah. Melemah, bukan berarti tidak ada uang. Psikologi pemegang uang, saat ini, sedang menahan pengeluaran. Nafsu konsumtif mendadak terkendali. Entah karena terpaksa atau bijak tiba-tiba.

Namun, bukan berarti saat krisis, lantas dilarang belanja. Lalu, membiarkan uang membeku di bank.

Bagi Anda yang akhir tahun ini masih akan mendapatkan bonus, maka tunda dulu jalan-jalan ke luar negeri. Saya katakan, tunda dulu, bukan dilarang.

Om Robert T Kyosaki, Si Ayah Kaya itu, memberi nasihat agar uang yang ada saat ini dibelanjakan untuk hal-hal produktif. Bukan untuk hal-hal konsumtif dan kesenangan instan. Belanjalah aset!

Meski ada yang bilang nasihat Ayah Kaya ini masih ada kelemahan karena dia mengajarkan berutang untuk belanja aset, isu soal memindahkan tabungan ke dalam bentuk aset itu sangat baik dan bijak.

Di atas langit ada langit. Ambil nasihat Ayah Kaya itu, dengan tambahan ramuan skema baru: belanja aset tanpa utang.

Biarpun saat ini Anda bekerja di perusahaan papan atas, gaji besar, bisnis perusahaan tempat Anda bekerja makin jaya, nasihat di atas sangat baik. Dengan memiliki satu buah mobil, rasanya cukup untuk pasangan muda. Beli mobil ke dua, ke tiga, ke empat, dan seterusnya, itu hak Anda.

Anda boleh lakukan hal ini. Bersabar menunggu dua tahu saja. Uang bonus akhir tahun 2017 ini, ditambah tabungan yang ada di bank, pindahkan ke aset yang bisa tumbuh melampaui bunga bank manapun di dunia, hanya dalam tempo dua tahun.

Aset itu bernama properti. Properti itu banyak. Bisa rumah, apartemen, kontrakan, atau tanah.

Dengan kocek yang terbatas, saya lebih menyukai tanah. Tapi, sekarang kan banyak tanah ribuan meter bahkan hektaran dijual beseliweran di Medos tidak laku-laku?

Betul. Carilah dari yang sedikit. Misal, saya ada 50 juta, saya akan cari tanah kavling dengan luasan 60 meter atau 72 meter. Itu baru DP. Sisanya bisa cicil.

Dalam dua atau tiga tahun ke depan, nilai tanah itu akan melesat. Bahkan, cicilan belum lunas, sudah untung. Dan dalam tiga tahun ke depan, situasi ekonomi pastinya sudah akan membaik. Saat itu tiba, Anda bisa jual, lalu naik haji, jalan-jalan ke luar negeri, beli mobil baru atau belanjakan tanah lagi.

Nah, selamat datang krisis ekonomi 2018.

Kabar buruk itu, kini telah berubah menjadi kabar baik. Dan Anda adalah pemenangnya.

Anab Afifi, CEO Bostonprice Asia

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Dubes Indonesia untuk Korsel, Umar Hadi bersama Delegasi PWI (dok INDUSTRY.co.id)

Jumat, 15 Desember 2017 - 20:34 WIB

Di Seoul Korsel, Dubes Umar Hadi Apresiasi Diplomasi Kopi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Diplomasi kopi yang sedang dilakukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) disambut baik Dutabesar Republik Indonesia untuk Republik Korea Umar Hadi

Letjen Purn. Kiky Syanahkri bersama Putut Prabantoro di kantor PPAD (dok INDUSTRY.co.id)

Jumat, 15 Desember 2017 - 20:12 WIB

Perkuat NKRI, Pemerintah Diminta Segera Laksanakan Ekonomi Terintegrasi

Pemerintah diminta segera integrasikan pembangunan ekonomi nasional dalam konsep Indonesia Raya Incorporated (IRI) untuk memperkuat ikatan NKRI dan ketahanan nasional.

Presiden Jokowi dan Menhub Budi Karya Sumadi (Foto Setkab)

Jumat, 15 Desember 2017 - 19:00 WIB

Presiden Jokowi Tinjau Pembangunan Waduk Sukamahi dan Ciawi

Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan Waduk Sukamahi dan Ciawi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/12/2017)

Sambut Hari Ibu, Kecap ABC Beri Apresiasi Lewat 36 Ribu Hidangan Masakan (Foto Dije/INDUSTRY.co.id)

Jumat, 15 Desember 2017 - 18:52 WIB

2018 Industri Mamin Semakin Kompetitif

Memasuki tahun 2018, pelaku industri termasuk industri makanan dan minuman di Indonesia semakin kompetitif dan semakin challenging (menantang). Hal ini diungkapkan oleh Dhiren Amin, selaku Marekting…

Hendrisman Rahim Didapuk Kembali Jadi Ketum AAJI (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 15 Desember 2017 - 17:45 WIB

Hendrisman Rahim Didapuk Kembali Jadi Ketum AAJI

Hendrisman Rahim secara aklamasi kembali terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) periode 2017-2020.