Kontribusi Industri Makanan dan Minuman Terhadap PDB Sebesar 6,06 Persen

Oleh : Kormen | Minggu, 08 Oktober 2017 - 11:15 WIB

Coca-Cola Amatil Indonesia (Foto Humas)
Coca-Cola Amatil Indonesia (Foto Humas)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri makanan dan minuman nasional semakin menguatkan daya saingnya dalam mengisi rantai pasok untuk pasar domestik dan ekspor.

Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan sektor yang sangat strategis dan masih mempunyai prospek bisnis yang cukup cerah di Tanah Air, dengan ditunjukkan melalui kinerja pertumbuhannya pada semester I tahun 2017 yang mencapai 7,69 persen.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, mengatakan, kontribusi Mamin terhadap PDB nasional sebesar 6,06 persen. Peran subsektor industri Mamin dalam memberikan sumbangan pada PDB industri non-migas, juga terbesar dibandingkan subsektor lainnya, yaitu mencapai 33,63 persen pada semester I tahun 2017. Di samping itu, realisasi investasi di sektor industri makanan dan minuman pada periode yang sama sebesar Rp21,6 triliun untuk PMDN dan USD1,18 miliar untuk PMA.

Dengan kinerja yang gemilang tersebut, pihaknya aktif mendorong agar para pelaku industri makanan dan minuman di dalam negeri tetap berupaya untuk meningkatkan mutu, produktivitas dan efisiensi diseluruh rangkaian proses produksi. Sejalan dengan langkah itu, diperlukan pula peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta kegiatan penelitian dan pengembangan.

Menurutnya, Industri makanan dan minuman nasional semakin menguatkan daya saingnya dalam mengisi rantai pasok untuk pasar domestik dan ekspor. Sebagai contoh, Panggah, menyebut penambahan kapasitas produksi industri minuman ringan yang dilakukan oleh Coca-Cola Amatil Indonesia di Medan, Sumatera Utara.

Kami memberikan apresiasi kepada perusahaan ini sebagai pelopor dalam industri minuman ringan di Indonesia yang selama ini turut berkontribusi terhadap perekonomian nasional,ujar Panggah Susanto ketika melakukan kunjungan kerja di pabrik baru Coca-Cola Amatil Indonesia, Medan, Sumatera Utara, bulan lalu.

Panggah mengharapkan, Coca-Cola Amatil Indonesia dapat berkontribusi pada program pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri. Program yang diinisiasi oleh Kemenperin ini akan kembali diluncurkan untuk wilayah Sumatera Utara pada September 2017.

Direktur Supply Chain Coca-Cola Amatil Indonesia, Gigy Philip menerangkan bahwa perusahaan terus berkomitmen untuk meningkatkan investasi hingga USD300 juta dalam tiga tahun ke depan. Sebagai perusahaan PMA, kami telah berinvestasi di Indonesia mencapai USD445 juta pada tahun 2012-2017 dengan jumlah karyawan sebanyak 11 ribu orang, paparnya.

Pada Maret 2017, Coca-Cola Amatil Indonesia telah meresmikan pengoperasianfasilitas produksi dan pusat distribusi perusahaan di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timurdengan nilai investasi mencapai USD42 juta. Sementara itu, untuk ekspansi yang dilakukan di Medan, Coca-Cola Amatil Indonesia menggelontorkan dana senilai USD20 juta untuk membangun lima lini produksi. Di atas lahan seluas lima hektare, fasiltas pabrik ini memiliki kapasitas produksi mencapai 150 juta botol per tahun untuk didistribusi ke seluruh wilayah di Pulau Sumatera, antara lain Aceh, Kepulauan Riau, Provinsi Riau, Sumatera Barat, dan Jambi.

Sejak awal beroperasi di Indonesia pada tahun 1992, Coca-Cola Amatil Indonesia telah memiliki 39 lini produksi di delapan pabrik dengan mempekerjakan sebanyak 10 ribu karyawan untuk melayani lebih dari 500 ribu pelanggan ritel baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan di Indonesia, sekitar 120 ribu di antaranya tersebar di wilayah Sumatera.

Perluas Pasar ke Eropa

Sementara itu, agar industri nasional semakin meningkatkan daya saing produknya berkompetisi di pasar ekspor, Kementerian Perindustrian giat menjembatani pelaku usaha dalam negeri untuk ikut serta dalam pameran tingkat internasional. Misalnya, produk industri makanan dan minuman yang akan tampil di Jerman.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri makanan dan minuman nasional perlu lebih memperluas pangsa ekspor baik pasar tradisional maupun pasar baru dalam upaya mendongkrak kinerjanya. Selain itu, melakukan terobosan inovasi produk yang dihasilkan sehingga dapat diminati oleh konsumen dalam negeri dan mancanegara.

Market domestik dan ekspor masih besar. Yang terpenting untuk industri ini juga adalah ketersediaan bahan baku sehingga mendorong investasi terus tumbuh. Pemerintah telah memberikan kemudahan perizinan usaha bagi pelaku industri termasuk sektor IKM, jelasnya.

Airlangga Hartarto menegaskan, pihaknya semakin gencar meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional agar terus menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan komparatif. Selain didukung dengan sumber daya alam yang melimpah, potensi tersebut bisa tercapai karena juga adanya kebijakan pro bisnis dari pemerintah.

Di tengah ketatnya persaingan global, beberapa produk Indonesia mampu kompetitif dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perdagangan dunia. Tentunya ini dapat membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat, tuturnya.

Bahkan, daya saing industri makanan dan minuman nasional berada di posisi empat besar dunia. Kinerja industri kita yang gemilang ini juga ikut meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

Sementara itu Indonesia dan India akan membangun kerja sama lebih intensif untuk pengembangan industri makanan. Komitmen ini diperkuat melalui kunjungan Menteri Industri Pengolahan Makanan India, Sadhvi Niranjan Jyotike Balai Besar Industri Agro (BBIA) Kementerian Perindustrian di Bogor, Jawa Barat.

India merupakan mitra penting Indonesia, kami akan terus mendorong peningkatan investasi India ke Indonesia. Selain itu, kami berharap adanya kerjasama R&D untuk sektor industri makanan dan minuman, kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin RI, Ngakan Timur Antara di BBIA Bogor.

Menurut Ngakan, Indonesia dan India merupakan mitra penting yang memiliki banyak kesamaan serta dekat secara budaya, ekonomi, dan politik. Kedua negara mempunyai bonus demografi sekaligus sebagai tantangan karena Indonesia dan India memiliki populasi yang besar, ujarnya.

Saat ini, penduduk India lebih dari 1,3 miliar jiwa dan Indonesia sebanyak 261 juta penduduk, yang tentunya memerlukan kebutuhan pangan. Karena itulah sektor makanan dan minuman menjadi potensi pasar yang besar untuk saling mengembangkan bersama-sama, imbuh Ngakan.

Kepala BBIA Bogor, Umar Habson menyampaikan, pembangunan sektor industri makanan dan minuman memerlukan inovasi yang berkelanjutan. Untuk itu, pentingnya kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang). BBIA adalah pusat riset agro industri di bawah Kemenperin dan ditetapkan sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Nasional bidang hilirisasi produk agro oleh Kemenristekdikti pada tahun 2016, tuturnya.

Menteri Sadhvi Niranjan Jyoti mengungkapkan, kunjungannya ke Indonesia khususnya ke BBIA Bogor dalam rangkamembuka peluang kerja sama bilateral di bidang litbang industri, terutama sektor makanan.

"Pasar makanan dan grosir di lndia adalah terbesar keenam di dunia. Tingkatpertumbuhan tahunan sektor pengolahan makanan lndia lebih dari tujuh persen, ungkapnya. Selain itu, industrimakanan lndia yang dipasarkan melalui online tumbuh 150 persen pada tahun 2016. Bahkan, lndia menjadi basis produksi diversifikasi terbesar di 42 Mega Food Parks.

Pertumbuhan industri makanan di India yang signifikan tersebut, juga dialami di Indonesia. Kemenperin mencatat, industri makanan dan minuman nasional mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,19 persen pada triwulan II tahun 2017.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST (Foto Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 18:42 WIB

Penjualan Tanah Bekasi Fajar Industrial Estate Telah Lampaui Target 2017

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), perusahaan pengelola kawasan industri MM2100, hingga akhir November 2017 telah menjual lahan seluas 42 hektar. Padahal target penjualan tanah 2017…

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Sekjen Kemenperin Haris Munandar

Jumat, 24 November 2017 - 18:09 WIB

2018, Pertumbuhan Manufaktur Masih Ditopang Sektor Konsumsi

Industri makanan dan minuman diproyeksi masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional pada tahun depan. Peran penting sektor strategis ini terlihat…

Menuju Holding BUMN Industri Pertambangan

Jumat, 24 November 2017 - 18:00 WIB

Holding Tambang akan Resmi Efektif Akhir November

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan Holding BUMN Tambang akan resmi efektif mulai akhir November 2017.

PT Vivo Energy Indonesia (Ist)

Jumat, 24 November 2017 - 17:30 WIB

Vivo Energy Indonesia Akan Bangun 3 Kilang Minyak di Indonesia

PT Vivo Energy Indonesia semakin serius menggarap bisnis hilir migas dengan membangun sebanyak 3 kilang minyak di Indonesia mulai tahun depan.

Kikan Terlibat Drama Musikal Kolosal Tekad Indonesia Jaya,

Jumat, 24 November 2017 - 17:16 WIB

Demi Perannya di Drama Kolosal Kikan Ingin Dibenci Setengah Mati

Demi Penghayatan perannya dalam Drama Kolosal yang bertajuk Tekad Indonesia Jaya yang akan dipentaskan di The Kasablanka Hall Kuningan Jakarta Selatan, Sabtu 25 November 2017 pukul 20.00 WIB,…