Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?

Oleh : Reza A.A Wattimena | Senin, 02 Oktober 2017 - 16:37 WIB

Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)
Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)

INDUSTRY.co.id - Sejarah manusia memang tidak selalu bergerak maju. Yang kerap kali terjadi, tiga langkah maju ke depan diikuti dengan dua langkah mundur ke belakang. Inilah yang kiranya seringkali dialami oleh bangsa Indonesia. Pemahaman sejarah tak selalu berkembang ke arah kedewasaan, tetapi juga kerap mundur ke arah pembodohan.

Kesalahpahaman tentang apa yang terjadi pada 30 September 1965 dan tahun-tahun berikutnya masih saja tersebar. Fitnah dan kebohongan masih menjadi senjata utama untuk memecah belah dan memperbodoh rakyat luas. Tak heran, ketika banyak bangsa sudah mulai bergerak ke arah eksplorasi ruang angkasa, kita masih saja ribut soal isu komunis yang sudah ketinggalan jaman. Nalar sehat seolah menjadi barang langka di Indonesia.

Di sisi lain, korupsi juga masih terus menjadi masalah yang tak terselesaikan di Indonesia. Berbagai upaya untuk memerangi korupsi sampai ke akarnya selalu saja dihalangi oleh para politisi busuk. Lembaga penegak hukum pun seringkali tak mampu mempertahankan kebebasan dan wibawanya. Ia jatuh ke dalam politik kotor, dan kehilangan ketajamannya sebagai ujung tombak di dalam perang melawan korupsi.

Di Jerman, negara dengan pengaruh politik dan ekonomi terkuat di Eropa, bangkitnya kaum radikal juga menjadi tanda krisis nalar sehat. Ketakutan terhadap orang asing dijadikan alat politik untuk memecah belah dan memperoleh suara. Partai dengan paham radikal konservatif kini memperoleh kekuasaan besar di dalam politik Jerman. Ketika nalar sehat menjadi barang langka di dalam politik, masa depan seluruh bangsa pun menjadi suram.

Di belahan dunia lainnya, tegangan politik membawa kemungkinan terjadinya perang nuklir. Korea Utara dan Amerika Serikat masih terlibat konflik yang sama sekali tak mencerminkan kedewasaan politik. Caci maki dan saling hina terjadi di antara dua kepala negara yang memiliki kekuatan nuklir tersebut. Seluruh dunia pun menyaksikan semua ini dengan perasaan campur aduk, yakni antara tertawa melihat dua ulah anak kecil yang mengaku kepala negara, sekaligus takut dengan kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga.

Pada tingkat yang lebih luas, umat manusia juga tak kunjung belajar dari kesalahannya sendiri. Alam dirusak demi kenikmatan dan kekuasaan sesaat. Binatang dibunuh tanpa mempertimbangkan, bahwa mereka juga merupakan mahluk hidup yang memiliki rasa dan martabat. Gaya hidup kita di abad 21 sama sekali tidak mencerminkan rasa prihatin terhadap kerusakan alam dan krisis energi yang terjadi di berbagai belahan dunia. 

Semakin dilihat, semakin banyak keputusan manusia jauh dari nalar sehat. Emosi dan sikap rakus justru menjadi daya dorong utama pembuatan keputusan. Tak heran, banyak masalah lama tak selesai, sementara masalah baru sudah muncul. Tanpa nalar yang sehat di dalam menjalani kehidupan, hidup manusia hanya menjadi kumpulan masalah dan penderitaan yang tak kunjung berakhir.

Sejarah Nalar

Nalar adalah bagian dari kodrat manusia. Begitulah pendapat Aristoteles, filsuf Yunani, lebih dari 2000 tahun yang lalu. Manusia adalah mahluk bernalar. Dengan nalarnya tersebut, manusia mampu bertanya, serta memahami dunia dengan menggunakan akal budinya.

 Pemahaman itu lalu berbuah menjadi filsafat. Filsafat menjadi sebuah upaya untuk memahami segala yang ada dengan berpijak pada penalaran, dan bukan pada iman ataupun tradisi. Filsafat lalu berkembang menjadi ilmu pengetahuan modern dengan metode penelitian ilmiah yang menjadi ciri khasnya. Teknologi pun lalu berkembang dari rahim ilmu pengetahuan modern, dan menjadi bagian besar hidup manusia modern. 

Bernalar berarti memahami sebab akibat yang terjadi di dunia ini secara jernih. Fakta bahwa dua hal terjadi secara berurutan, tidak berarti, bahwa ada hubungan sebab akibat disitu. Pola berpikir inilah yang kerap kali melahirkan kesalahpahaman. Bernalar berarti berusaha melihat hubungan sebab akibat sebagaimana adanya di dunia, dan bukan dengan berpijak pada pengandaian-pengandaian atau bahkan prasangka di dalam pikiran manusia. 

Di dalam filsafat modern, terutama di dalam pemikiran Immanuel Kant, nalar juga dipadukan dengan moralitas. Di dalam kebudayaan kuno, moralitas diletakkan di atas iman dan ajaran teologis agama tertentu. Pola ini kemudian dipatahkan dengan penegasan, bahwa pandangan-pandangan moral haruslah dapat diterima dengan nalar sehat. Pandangan ini diuraikan lebih dalam di dalam karya Immanuel Kant: Grundlegung zur Metaphysik der Sitten

Kant juga lebih jauh menegaskan, bahwa nalar haruslah menjadi dasar dari hidup bersama. Nalar sehat haruslah menjadi panduan dari kehidupan politik. Pandangan ini kemudian dikembangkan oleh Jürgen Habermas dengan konsep nalar komunikatifnya (kommunikative Vernunft). Segala bentuk perbedaan pandangan di dalam politik, termasuk konflik yang kerap kali terjadi, bisa dijembatani melalui komunikasi yang berpijak pada akal sehat.

Melampaui Nalar

 Nalar sehat amatlah penting bagi hidup manusia. Ini tentu tak dapat disangkal lagi. Nalar berguna untuk menata hidup pribadi maupun hidup bersama. Di Indonesia, dan juga di banyak negara lainnya, banyak bidang kehidupan tidak dikelola dengan menggunakan nalar sehat. Akibatnya, banyak tata kehidupan, mulai dari agama, pendidikan sampai dengan politik, mengalami kekacauan, dan terjebak pada beragam masalah, tanpa henti.

 Walaupun penting, nalar tetaplah bukan segalanya. Ia adalah alat yang penting untuk pelestarian diri manusia. Namun, kehidupan manusia yang sesungguhnya lebih luas dan lebih dalam dari sekedar nalar. Ini merupakan salah satu pelajaran terpenting dalam hidup manusia.

 Ketika nalar menjadi Tuhan, acuan hidup manusia lalu hanyalah akal, ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi diabaikan, bahkan dianggap tak ada. Dua perang dunia di abad ke 20 menjadi contoh yang jelas akan hal ini. Akal tanpa panduan nilai akan bermuara pada perang dan penghancuran alam.

Jika diperhatikan lebih dalam, seturut dengan ajaran filsafat India, nalar manusia adalah bentukan lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, nalar manusia adalah hasil dari programming. Ia tidak bersifat obyektif dan universal, melainkan tertanam pada pengandaian-pengandaian tertentu sebuah masyarakat yang seringkali tidak dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, nalar penting untuk digunakan, namun ia tetaplah perlu untuk dilampaui.

 Nalar yang sehat adalah nalar yang bersikap kritis terhadap pengandaian-pengandaiannya sendiri. Ia tidak berpijak melulu pada pengandaian-pengandaian sosial tertentu, melainkan bergerak secara jernih untuk melampauinya. Inilah yang disebut sebagai nalar kosmopolit. Nalar ini bergerak melampaui sekat-sekat agama dan budaya, serta mengantarkan manusia pada kesadaran dasar sebagai mahluk semesta.

Sayangnya, nalar semacam ini menjadi barang langka. Pendidikan, yang seharusnya mengembangkan nalar sehat ini, justru berubah total menjadi pembodohan sistematis. Pertanyaan dan kreativitas dibunuh atas nama kepastian mutlak yang sebenarnya palsu. Pertanyaan ini kiranya menjadi sah untuk diajukan: nalar sehat, dimanakah dirimu?

Reza A.A Wattimena: Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

 

                 

               

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kepala BPS Suhariyanto (Foto Ridwan)

Jumat, 15 Desember 2017 - 21:27 WIB

BPS Siap Rekam Data Pelaku E-Commerce

Badan Pusat Statistik (BPS) siap untuk melakukan perekaman data para pelaku perdagangan secara elektronik (e-commerce) agar dapat menjadi acuan pemerintah dalam mengambil keputusan terkait pengembangan…

Dubes Indonesia untuk Korsel, Umar Hadi bersama Delegasi PWI (dok INDUSTRY.co.id)

Jumat, 15 Desember 2017 - 20:34 WIB

Di Seoul Korsel, Dubes Umar Hadi Apresiasi Diplomasi Kopi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Diplomasi kopi yang sedang dilakukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) disambut baik Dutabesar Republik Indonesia untuk Republik Korea Umar Hadi

Letjen Purn. Kiky Syanahkri bersama Putut Prabantoro di kantor PPAD (dok INDUSTRY.co.id)

Jumat, 15 Desember 2017 - 20:12 WIB

Perkuat NKRI, Pemerintah Diminta Segera Laksanakan Ekonomi Terintegrasi

Pemerintah diminta segera integrasikan pembangunan ekonomi nasional dalam konsep Indonesia Raya Incorporated (IRI) untuk memperkuat ikatan NKRI dan ketahanan nasional.

Presiden Jokowi dan Menhub Budi Karya Sumadi (Foto Setkab)

Jumat, 15 Desember 2017 - 19:00 WIB

Presiden Jokowi Tinjau Pembangunan Waduk Sukamahi dan Ciawi

Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan Waduk Sukamahi dan Ciawi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/12/2017)

Sambut Hari Ibu, Kecap ABC Beri Apresiasi Lewat 36 Ribu Hidangan Masakan (Foto Dije/INDUSTRY.co.id)

Jumat, 15 Desember 2017 - 18:52 WIB

2018 Industri Mamin Semakin Kompetitif

Memasuki tahun 2018, pelaku industri termasuk industri makanan dan minuman di Indonesia semakin kompetitif dan semakin challenging (menantang). Hal ini diungkapkan oleh Dhiren Amin, selaku Marekting…