Banteng Wulung Kawal Peran BEI pada Perkembangan Ekonomi Indonesia

Oleh : Abraham Sihombing, Jurnalis Industry.co.id | Rabu, 20 September 2017 - 12:05 WIB

Banteng Wulung Kawal Peran BEI (Foto Dewi Rachmat Kusuma)
Banteng Wulung Kawal Peran BEI (Foto Dewi Rachmat Kusuma)

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Tulisan ini dibuat satu bulan setelah patung Banteng Wulung seberat 7 ton yang terbuat dari fosil kayu berusia sekitar 5 juta tahun diresmikan keberadaannya di halaman gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghadap ke Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

Kendati sudah sebulan lebih ikon Banteng Wulung BEI tersebut diresmikan, tetapi masih ada saja pihak-pihak yang mempertanyakan pose banteng tersebut yang katanya terlihat rada menunduk dan terkesan melambangkan ‘penurunan’. Ada apa sebenarnya?

Manajemen BEI menghadirkan ikon Banteng Wulung itu karena dilatarbelakangi oleh cerita rakyat, yaitu mengenai Kerajaan Pasundan yang dikawal oleh seekor banteng berwarna hitam pekat (wulung).

Menurut hikayat lama, Banteng Wulung tersebut senantiasa mengawal Kerajaan Pasundan tersebut. Banteng hitam yang gesit dan kuat tersebut selalu memberikan aura positif bagi kesejahteraan seluruh rakyat Kerajaan Pasundan kala itu.

Karena itu, keberadaan ikon Banteng Wulung tersebut juga diharapkan dapat memberikan semangat yang positif bagi setiap orang yang terlibat di dalam kegiatan bertransaksi di BEI.

Di kalangan komunitas pasar modal dunia, ikon banteng selalu dikonotasikan sebagai hal yang positif, yaitu kenaikan (bullish) harga-harga saham yang ditransaksikan oleh para pelaku pasar dan akhirnya mendukung kenaikan indeks harga saham gabungan bursa efek tempat saham-saham tersebut ditransaksikan. Karena itu, kondisi bullish selalu membuat para pelaku pasar gembira karena nilai investasi mereka sedang meningkat.

Kini, apakah ikon Banteng Wulung BEI tersebut secara psikologis mampu mempengaruhi aura para pelaku pasar di pasar modal Indonesia? Mereka pada umumnya menilai pose Banteng Wulung BEI tersebut terlihat menunduk, bukannya mengenadah ke atas sebagaimana banteng pada umumnya ketika menyerang musuhnya. Ketika mengenadah, maka pose itu dikonotasikan oleh pelaku pasar sebagai ‘kenaikan’.

Kenyataannya, jual-beli di pasar modal tidak ditentukan secara langsung oleh keberadaan Banteng Wulung tersebut. Ada ataupun tidak ada Banteng Wulung, transaksi jual-beli saham di BEI akan tetap berjalan normal. Transaksi tersebut ada pasang surutnya. Ada waktunya naik dan ada juga waktunya turun.

Peresmian patung Banteng Wulung pada Minggu, 13 Agustus 2017, paling tidak memberikan semangat kepada pelaku pasar yang sedang prihatin terhadap penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasca kenaikannya ke titik tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia ke level 5.910 pada Senin, 3 Juli 2017.

Sehari pasca kenaikan drastis tersebut, yaitu pada Selasa, 4 Juli 2017, Presiden Joko Widodo berkunjung ke BEI. Kedatangan orang nomer satu di Indonesia itu diyakini para pelaku pasar dapat terus menopang kenaikan IHSG hingga menembus level psikologis 6.000 dengan mudah. Namun kenyataannya, IHSG malahan terhempas ke level 5.865 di sesi akhir perdagangan, alias mengalami penurunan 45 poin, pada Selasa, 4 Juli 2017.

Penurunan itu disebabkan oleh pelemahan harga 375 saham dengan total nilai transaksi harian sebesar Rp6,27 triliun. Sejak hari itu kedepan, pergerakan IHSG tidak pernah beranjak dari kisaran 5.800-5.900. Sepertinya harapan para pelaku pasar bahwa IHSG akan menembus titik resistensi psikologisnya di level 6.000 sirnalah sudah.

Apa benar tren kenaikan IHSG tersebut sudah sirna? Jika ingin membuktikan apakah kenaikan tersebut akan terus berlanjut atau sudah berakhir, kita dapat meninjaunya melalui analisa teknikal. Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas mengenai analisa teknikal tersebut.

Pada Minggu, 13 Agustus 2017, manajemen BEI meresmikan patung Banteng Wulung yang diyakini dapat memberikan optimisme positif terhadap peran pasar modal dalam perekonomian Indonesia kedepan. Memang, jika dilihat sekilas, maka pose Banteng Wulung tersebut tampaknya malas dan dalam posisi menunduk. Itu seakan-akan menyiratkan sebuah pesimisme, yaitu penurunan yang terus-menerus terjadi di pasar modal Indonesia. Tetapi apakah benar konotasi yang demikian?

Mungkin sudah sekian lama, anda semua yang terlibat di dalam transaksi surat-surat berharga di BEI mengalami naik-turun nilai investasi anda. Di dunia ini, jika tidak ada kematian maka tidak akan ada kehidupan? Jika tidak ada penurunan, maka tidak akan ada pula kenaikan? Jika anda pikir hal baik-buruk dan naik-turun tersebut logis dalam kehidupan ini, mengapa kita harus takut dan khawatir dengan penurunan yang terjadi di pasar modal?

Seperti sudah menjadi sebuah hukum pergerakan indeks, bahwa jika pada suatu saat indeks melesat naik luar biasa pada suatu sesi perdagangan, maka dia sangat berpotensi untuk turun ke level paling dalam. Itu yang biasa disebut-sebut oleh para analis, bahwa indeks sedang mengalami konsolidasi untuk memperoleh konfirmasi yang ajeg terhadap pergerakannya kedepan.

Proses konsolidasi tersebut ada yang memakan waktu singkat dan ada pula yang berjangka panjang. Masalahnya sekarang, tak satupun diantara kita yang dapat memastikan lamanya proses konsolidasi tersebut. Itu semua ditentukan oleh mekanisme pasar, yaitu persediaan (supply) dan permintaan (demand). Karena itu, pasar modal seringkali disebut sebagai pasar yang transaksinya murni dipengaruhi oleh kedua mekanisme tersebut.

Mungkin, secara awam, jika grafik kenaikan IHSG membentuk garis yang hampir vertikal, maka kondisi itu akan disambut dengan euphoria yang gegap gempita. Pasalnya, banyak pelaku pasar yang berpikir bakal memperoleh keuntungan atas investasi yang dilakukannya selama ini. Akan tetapi, banyak diantara mereka yang juga tidak menyadari bahwa kondisi tersebut sangat rentan menimbulkan aksi ambil untung (profit-taking).

Dengan demikian, kita dapat melihat jika IHSG itu naik signifikan, dan nilai investasi meningkat maka dapat dikatakan investasi kita mendatangkan keuntungan. Akan tetapi, jika keuntungan tersebut kita realisasikan, melalui penjualan instrumen investasi tersebut, dalam hal ini saham, kepada pihak lain, maka tindakan tersebut berisiko bakal menggerus harga saham tersebut pada sesi perdagangan berikutnya. Pasalnya, tindakan seperti itu akan diikuti pula oleh pelaku pasar lainnya sehingga volume penawaran akan meningkat. Akibatnya, harga saham turun.

Nah, bagaimana tinjauan filosofinya dengan ikon Banteng Wulung tersebut? Sebenarnya, pose Banteng Wulung tersebut menunjukkan adanya kondisi pasar modal Indonesia yang selalu siap menghadapi perkembangan yang terjadi dalam dinamika perdagangan di BEI.

Jika dikatakan banteng itu menunduk, itu bukan berkonotasi turun, akan tetapi sedang bersiap-siap menghadapi perkembangan yang lebih besar di masa depan. Perkembangan yang dimaksud disini tidak saja merupakan kenaikan IHSG, akan tetapi lebih dititikberatkan pada perkembangan dalam segala aspek yang mendukung kegiatan pasar modal Indonesia kedepan.

Salah satu hal yang telah dialami BEI setelah peresmian ikon Banteng Wulung tersebut adalah sebuah kemajuan di bidang investasi dimana PT Jasa Marga Tbk (JSMR) melakukan sekuritisasi aset dengan melakukan pencatatan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) Mandiri JSMR01, yaitu berupa Surat Berharga Pendapatan Tol Jagorawi, bernilai Rp2 triliun selama 5 tahun, pada Kamis, 31 Agustus 2017.

KIK EBA Mandiri JSMR01 yang diterbitkan oleh PT Mandiri Manajemen Investasi tersebut merupakan instrumen investasi sekuritisasi aset pertama berbasis pendapatan sebuah jalan tol di masa depan. Instrumen investasi ini mirip dengan obligasi korporasi. Akan tetapi, instrumen ini bukan menjajakan surat utang, tetapi menjajakan pendapatan aset di masa depan (Future Revenue Based Securities/FRBS).

Keistimewaan dari pencatatan KIK EBA Mandiri JSMR01 ini adalah acara tersebut dihadiri pula oleh Presiden Joko Widodo. Pada kesempatan itu pula, Presiden Joko Widodo meminta agar para BUMN lainnya mengikuti jejak Jasa Marga untuk melakukan sekuritisasi aset agar BUMN-BUMN tersebut dapat memperoleh dana segar untuk membiayai pengembangan bisnisnya masing-masing.

Dengan demikian, dalam dua bulan berturut-turut orang nomor satu di Indonesia itu berkunjung ke BEI. Itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa. BEI mendapat perhatian serius dari pemerintah sebagai salah satu sumber untuk mencari dana guna membiayai pembangunan nasional, terutama pembangunan infrastruktur nasional.

Sekitar sembilan hari setelah pencatatan KIK EBA Mandiri JSMR01 di BEI, tepatnya pada Sabtu 9 September 2017, Direktur Utama BEI, Tito Sulistiyo, menerima penghargaan dari Global Islamic Finance Award (GIFA) untuk kategori The Best Supporting Istitution for Islamic Finance di Cina. Ini merupakan yang kedua kalinya secara berturut-turut BEI memperoleh penghargaan yang sama sejak 2016 lalu.

GIFA adalah salah satu penghargaan internasional yang diberikan kepada institusi yang bergerak di bidang industri keuangan syariah dunia yang diselenggarakan oleh Edbiz Consulting yang berpusat di London. GIFA 2017 adalah ajang yang ketujuh kali sepanjang penghargaan in diadakan.

Setelah dua kali memperoleh penghargaan GIFA yang sama, Tito tampaknya baru menyadari bahwa dunia luar sana sangat menghargai berbagai upaya yang dilakukan BEI di dalam mengembangkan industri keuangan syariah di Indonesia. Karena itu, Tito menginginkan agar nantinya ada direktur BEI yang khusus menangani keuangan syariah.

Sudah saatnya produk syariah di pasar modal Indonesia perlu memperoleh perhatian lebih serius untuk dikembangkan. Pasalnya, Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Saat ini, baru seorang kepala unit yang menangani pengembangan keuangan syariah di BEI. Karena itu, Tito Sulistiyo akan mengusulkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar keuangan syariah nantinya dikendalikan oleh sebuah divisi khusus, bahkan jika perlu ada direktur khusus yang membidangi syariah.

Secara kebetulan atau tidak, pasca diresmikannya ikon Banteng Wulung, kinerja BEI tampaknya semakin terlihat kinclong. Itu terlihat dari banyak pihak yang berpengharapan besar terhadap sepak terjang BEI dalam pengembangan jasa keuangan di Indonesia.

Di satu sisi, BEI diharapkan dapat mengumpulkan berbagai investor handal yang dapat bertransaksi secara berkesinambungan serta memperoleh keuntungan secara wajar. Di sisi lainnya, BEI diharapkan dapat menopang berbagai program pemerintah, terutama di bidang penyediaan dana segar yang akan membiayai program-program tersebut.

Karena itu, kinerja pertumbuhan BEI kedepan diharapkan tidak terlalu drastis karena dapat menciptakan fluktuasi yang tajam. Jika suatu saat terjadi grafik kenaikan IHSG yang cenderung hampir vertikal, itu sebenarnya dapat digambarkan seperti seekor beruang yang sedang berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya. Bukan banteng. Karena banteng tidak pernah dapat berdiri tegak dengan kedua kaki belakangnya.

Tetapi posisi beruang seperti itu tidak akan bertahan lama. Pasalnya, beruang akan kembali ke posisinya seperti sediakala. Ketika beruang mengembalikan posisinya tersebut, maka akan terlihat kaki depannya akan langsung dihentakkan di atas tanah. Begitulah kira-kira gambaran IHSG ketika kembali terhempas ke level terendahnya.

Namun demikian, dengan pose Banteng Wulung seperti yang ada saat ini, maka dapat diartikan bahwa BEI menghendaki adanya pertumbuhan yang wajar dan berkelanjutan. Dikatakan wajar, pertumbuhan itu harus terjadi seiring dengan perkembangan para pelaku pasar yang bertransaksi di pasar modal Indonesia, bukan karena tindakan spekulatif tinggi yang dilakukan mereka.

Demikin pula, dikatakan berkelanjutan, peningkatan yang terjadi di BEI diharapkan tidak terlalu tajam. Oleh sebab itu, kenaikan yang diharapkan biasa-biasa saja dan wajar sehingga dalam grafik perkembangan BEI akan tergambar sebuah garis pertumbuhan yang landai. Jadi, jika nantinya terjadi koreksi, maka koreksi tersebut juga diharapkan tidak terlalu anjlok sehingga kinerja pasar modal Indonesia masih terus berpotensi tumbuh secara wajar dan berkesinambungan kedepan. (Abraham Sihombing)

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Presiden Jokowi meresmikan beroperasinya KEK Pariwisata Mandalika, di Pantai Kuta NTB (20/10) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 13:18 WIB

Pemerintahan Presiden Jokowi-JK Berhasil Bangun Industri Pariwisata

Selama tiga tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) telah berhasil membangun industri pariwisata.

Ilustrasi Kedelai (Foto Ist)

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 12:57 WIB

Bea Masuk Impor Kedelai Sebaiknya Dihapuskan

Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan kebijakan bea masuk impor kedelai sebaiknya tetap dibebaskan karena memudahkan konsumen dan kalangan industri kecil di Tanah Air.…

PT. PHE-WMO Salurkan Dana SHOUM Rp 157.400.000 Via BAZNAS (Foto Ist)

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 12:48 WIB

PT. PHE-WMO Salurkan Dana SHOUM Rp 157.400.000 Via BAZNAS

PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE-WMO) bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) membantu pembangunan sejumlah rumah ibadah, pengadaan sumber air bersih berupa pompa…

Dewi Hendrati selaku GM Marketing Communication Medina (Foto Nina)

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 12:40 WIB

Medina Meluncurkan Houseware Halal Pertama di Indonesia

lndonesia International Halal Expo (INHALEC) 2017 merupakan event internasional yang mengekspos dan membahas 10 sektor industri halal diselenggarakan oleh Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC)…

Presiden Jokowi meresmikan beroperasinya KEK Pariwisata Mandalika, di Pantai Kuta NTB (20/10) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 12:29 WIB

KEK Mandalika Hingga Tahun 2019 akan Ada 2000 Kamar Hotel

KEK Mandalika NTB diproyeksikan akan memiliki 10 ribu kamar hotel dengan target 2000 kamar hotel pada 2019