Begini Cara Unik Masyarakat Malang Menyajikan Jajanan Tradisional Onde-Onde

Oleh : Chodijah Febriyani | Rabu, 20 September 2017 - 09:45 WIB

Onde-Onde disajikan di Festival Budaya Malang Utara (Foto:facebook.com/kemenpar)
Onde-Onde disajikan di Festival Budaya Malang Utara (Foto:facebook.com/kemenpar)

INDUSTRY.co.id, Lawang - Siapa yang tidak tahu jajan pasar Onde-onde. Selama ini, dikenal sebagai makanan dari Mojokerto tetapi, kini banyak masyarakat Jawa Timur yang mengenal berasal dari Lawang, sebuah kecamatan yang menjadi pintu masuk ke Malang dari utara, termasuk Surabaya.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya tidak meragukan asal muasal onde-onde itu. Karena, antara yang punya, yang mencipta dan mempopulerkan, bisa jadi beda-beda. Menurutnya, "Yang penting, harus dibranding sebagai jajanan Nusantara, yang punya tempat di pariwisata," kata Menpar, seperti dikutip dari facebook Kemenpar, Rabu (20/9/2017).

Ada juga yang mencatat, onde-onde itu berasal dari Tiongkok, dari zaman Dinasti Tang. Makanan yang di tanah air disebut Onde Onde itu konon berasal dari Xian, trmpat Terracota itu berada. Makanan ini lalu dibawa ke Asia Timur dan Tenggara.

Di Festival Budaya Malang Utara di Graha Wiyata Outbond, Lawang, yang digelar mulai Sabtu (16/9/2017) hingga Minggu (17/9/2017), muncul berbagai varian rasa onde-onde. Lomba membuat onde-onde yang diikuti 25 kelompok UMKM dan PKK  dari Lawang, Singosari, Karangploso, dan Purwodadi (Pasuruan) makin menguatkan bangsa kita sudah turun temurun membuat onde onde.

Berbeda dengan Onde-onde lainnnya, Onde-onde khas Lawang ternyata terletak pada isinya. "Jadi kalau dikocok, onde-onde Mojokerto berbunyi, itu menunjukkan isinya sedikit. Sedangkan Lawang, tidak ada bunyi, isinya penuh, dan onde-ondenya empuk kalau ditekan," kata Ketua Koordinator Festival Budaya Malang Utara, Tarmudji, Minggu (17/9/2017).

Selain isinya penuh, onde-onde khas Lawang juga punya banyak variant. Hal itu terlihat saat lomba membuat onde-onde. Sejumlah peserta ada yang punya onde-onde isi keju, pisang, dan ketela. Tidak hanya itu, ada pula peserta yang menamakan onde-onde herbal.

Yakni, kulit onde-onde itu ditaburi jinten. "Pengelolaannya sama, hanya kulitnya dan isi ditambah dengan jinten. Rasanya lumayan. Ada pedasnya," kata Rini, salah seorang peserta dari Kecamatan Lawang.

Peserta lain juga tak mau kalau, mereka menambah isi dengan campuran durian. Sehingga bernama onde-onde rasa durian. Ada pula yang menambahkan cokelat pada isi. Tak mau kalah ide, peserta dari Kecamatan Purwodadi Pasuruan, mencampur isi onde-onde dengan buah naga.

"Bisa dicoba. Onde-onde buah naga ini sudah saya pasarkan, dan penggemarnya cukup banyak. Karena juga sehat," kata Annisa yang merupakan peserta terjauh mengikuti lomba membuat onde-onde di Festival Budaya Malang Utara.

Ada pula peserta mengisi onde-onde tidak dengan kacang hijau, atau variant isi lainnya. Melainkan dengan ketela."Ini onde-onde sederhana. Isinya bukan kacang hijau. Tapi ketelah. Karena itu jualnya juga murah. Tapi yang penting kulitnya tetap khas onde-onde Lawang,"kata Sriyati.

Banyaknya variant rasa dari onde-onde khas Lawang itu, tentu saja menjadi daya tarik tersendiri para pengunjung festival. Sejumlah pengunjung dari Kota Surabaya, bahkan baru tahu kalau ada onde-onde khas Lawang, punya aneka rasa.

"Ini bisa jadi ikon tersendiri bagi Lawang. Karena memiliki panganan yang tak kalah menariknya dengan daerah lain. Bisa jadi oleh-oleh," kata Eko Prayugo, salah seorang pengunjung dari Surabaya.

Terkait banyak variant onde-onde khas Lawang ini, Kadisparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara mengatakan, pihaknya akan melakukan pembinaan pada umkm yang khusus menjadi sentra pembuatan onde-onde di Lawang dan Singosari, serta Karangploso. "Bahkan sudah menetapkan akan menyertakan umkm maupun PKK pada setiap even pameran wisata di Malang maupun di kota lain," katanya.

Menurut Made, inovasi kreatif kuliner seperti onde-onde ini akan jadi pendukung pada sebuah destinasi wisata suatu daerah. Oleh karena sebuah daerah wisata tanpa kuliner yang khas juga sulit untuk berkembang.

"Orang kan datang ke tempat wisata, selalu pulangnya membawa oleh-oleh. Nah, kalau wisatawan datang ke Lawang atau Singosari, pasti yang dicari oleh-oleh. Kebetulan onde-onde ini sekarang sudah jadi ikonnya," jelasnya.

Dalam Festival Budaya Malang utara yang mengambil tema ‘Titisan Ragam Budaya Singhasari’ ini, juga ditampilkan lomba Tari Topeng Sabrang dan Tari Topeng Grebeg. Lomba diikuti dari tingkat SD hingga SMA.

"Tahun depan festival budaya Malang Utara ini akan lebih semarak lagi. Ada banyak kesenian yang akan tampil. Rencananya untuk onde-onde ini akan dilaksanakan pemecahan rekor MURI, yakni rekor membuat onde-onde terbanyak," pungkas Made.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

 Founder KAHMIPreneur Kamrussamad Raih Sertifikasi International ASEAN Engineering (Foto Amz)

Jumat, 16 November 2018 - 15:03 WIB

Founder KAHMIPreneur Kamrussamad Raih Sertifikasi International ASEAN Engineering

Sertifikasi International ASEAN Engineering diberikan pada ajang bergengsi Conference of The ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO) ke-36 yang telah berlangsung sejak tanggal…

Tokocrypto Tawarkan Keunggulan Ekosistem Blockchain yang Terintegrasi (Foto Kormen)

Jumat, 16 November 2018 - 13:27 WIB

Tokocrypto Gandeng Infonesia Sebagai Sarana Edukasi Publik Terkait Blockchain dan Aset Kripto

Salah satu platform jual beli aset kripto, Tokocrypto menggandeng aplikasi sosial media baru produk anak bangsa, Infonesia, sebagai salah satu saluran resmi untuk mengedukasi publik.

Tiga artis senior, Ratna Riantiarno, Ninikl Karim dan Widyawati beradu akting dalam film "Mama Mama Jagoan" (Foto Amz)

Jumat, 16 November 2018 - 12:00 WIB

Tiga Aktris Wanita Senior Masuk Penjara di Film 'Mama-Mama Jagoan'

Sungguh suatu keberanian luar biasa dari produser film pendatang baru Buddy-buddy Pictures ketika meluncurkan film terbaru bergene komedi berjudul Mama-mama Jagoan. Film yang digarap oleh sutradara…

Monumen Kapsul Waktu

Jumat, 16 November 2018 - 12:00 WIB

Hari ini Presiden Jokowi Dijadwalkan Resmikan Monumen Kapsul Waktu di Merauke

Monumen Kapsul Waktu di Merauke, Papua, yang menyimpan Impian Indonesia 2015-2085, telah rampung dibangun. Rencananya, Presiden Joko Widodo akan meresmikan monumen seluas 2,5 ha tersebut pada…

Dirut BRI Suprajarto Dinobatkan Sebagai Tokoh Profesional Terbaik (Rizki Meirino)

Jumat, 16 November 2018 - 11:53 WIB

Dirut BRI Suprajarto Dinobatkan Sebagai Tokoh Profesional Terbaik

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Suprajarto dinobatkan sebagai sebagai Tokoh Profesional terbaik dalam acara Indonesia Awards 2018 yang digelar di Jakarta, Kamis (15/11). Sosok Suprajarto…