Menghilangkan Bullying pada Lembaga Pendidikan

Oleh : Rahmad Baagil M.Pd | Kamis, 14 September 2017 - 09:53 WIB

Rahmad Baagil. adalah Pengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, (Foto Ist)
Rahmad Baagil. adalah Pengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, (Foto Ist)

INDUSTRY.co.id - Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil Dan Makmur.

Visi tersebut diwujudkan melalui 8 (delapan) misi yang pada urutan pertamanya adalah Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.

Paparan Kemendikbud pada 25 Januari 2016 berdasarkan penelitian Plan International dan International Center for Research on Women (IRCW) memaparkan temuan yang harus menjadi perhatian bersama. Dalam hasil penelitiannya disebutkan bahwa 84 persen siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah, 45 persen siswa laki laki menyebutkan guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, 40 persen siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah alami kekerasan fisik teman sebaya, 75 persen siswa akui pernah melakukan kekerasan di sekolah dan 50 persen siswa melaporkan pernah alami perundungan atau bullying di sekolah.

Waspadai Bullying

Rilis pada bulan Februari tahun 2015, IRCW dalam publikasinya terkait bullying. Angka bullying di Indonesia yang berkisar pada angka 84 persen. ternyata angka tersebut lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia yang rata-rata adalah 70%. Riset ini dilakukan di Vietnam, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Indonesia.

Dengan jumlah responden yang terlibat dalam penelitian tersebut adalah sembilan ribu anak-anak sekolah dengan kisaran usia antara 12-17 tahun. Berdasarkan data United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF), 50 persen anak mengaku pernah mengalami perundungan atau bullying di sekolah. Adapun 40 persen pelajar berusia 13-15 tahun mengaku pernah mengalami kekerasan oleh teman sebaya.

Pada tahun 2011 hingga Agustus 2014, KPAI mencatat 369 pengaduan terkait masalah bullying. Jumlah itu sekitar 25 persen dari total pengaduan di bidang pendidikan, yang tercatat sebanyak 1.480 kasus.

Bullying yang disebut KPAI sebagai bentuk kekerasan di sekolah, ternyata mengalahkan jumlah laporan lainnya seperti tawuran pelajar, diskriminasi pendidikan, ataupun aduan pungutan liar.

Hal ini menjadi sebuah ironi tentunya, dimana pada lembaga pendidikan yang bertujuan menciptakan generasi berkualitas ternyata kasus bullying  merupakan kasus aduan terbanyak.

Data yang dikemukakan diatas tentu menjadi sebuah pertanda, bahwa pada sebagian lingkungan sekolah, terdapat praktik yang perilaku bullying di lingkungan sekolah (school bullying) yang sudah sedemikian mengkhawatirkan. Perilaku bullying di lingkungan sekolah bahkan tindak kekerasan di lingkungan sekolah akhirnya diantisipasi dengan keluarnya Permendikbud 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

Hentikan Bullying

Bullying tetap jadi isu penting di Indonesia. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut, yaitu dengan menciptakan suasana yang tidak menyenangkan bagi korban, bahkan dilakukan dengan tidak beralasan dan bertujuan untuk menyakiti orang lain, dan hal ini adalah bentuk agresi yang paling umum di sekolah dan pada umumnya membuat korban merasa tertekan (Smith dalam Salsabiela, 2010;13).

Peran pendidikan dalam pembentukan kualitas generasi masa depan bangsa tentu tidak bisa dipandang kecil, dengan dibantu oleh lingkungan keluarga dan sosial (pergaulan) tentunya. Pendidikan menjadi salah satu solusi terbaik untuk menghilangkan kecenderungan-kecenderungan negatif peserta didik, terutama di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kunci yang sangat penting di dalam membentuk kepribadian anak.

Selain di rumah, pendidikan karakter juga perlu diterapkan di sekolah dan lingkungan sosial. Pada hakekatnya, pendidikan memiliki tujuan untuk membantu manusia menjadi cerdas dan tumbuh menjadi insan yang baik.

Pemerintah berusaha menguatkan karakter generasi muda agar memiliki keunggulan dalam persaingan global abad 21. Selain lima nilai utama karakter (religius, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong) melalui PPK, pemerintah mendorong peningkatan literasi dasar, kompetensi berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi generasi muda (kemendikbud.go.id).

Keberhasilan seseorang tentu tidak bisa hanya ditekankan pada kognisi (pengetahuan) semata. Sebagaimamana dinyatakan oleh Ki Hajar Dewantoro (1977), bahwa supaya nilai yang ditanamkan dalam pendidikan tidak tinggal sebagai pengetahuan saja, tetapi sungguh menjadi tindakan seseorang, maka produk pendidikan mestinya memperhatikan tiga unsur berikut secara terpadu, yaitu “ngerti-ngerasa-ngelakoni” (mengetahui/memahami, memiliki/menghayati dan melakukan). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa agar pendidikan budi pekerti dapat mencapai tujuan yang diinginkan maka hendaknya bentuk pendidikan dan pengajaran budi pekerti mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara terpadu.

Pendidikan bukanlah sebuah lembaga yang hanya menghasilkan suatu generasi semata, tetapi juga akan memperhatikan proses pada terbentuknya generasi berkualitas, agar tercipta generasi yang berkualitas, berakhlak, serta kompetitif menghadapi tantangan bangsa di masa yang akan datang.

Tujuan pembangunan nasional telah digariskan dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yaitu untuk: melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Kemudian dalam RPJMN 2015-2019 yang merupakan tahap ketiga dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, menekankan penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran.

Rahmad Ba’agil.  adalah Pengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, yang mengutamakan kajian pada bidang Pendidikan dan dinamikan

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Gulai Lemea, Kuliner Khas Ramadan Suku Rejang Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu (Ist)

Jumat, 25 Mei 2018 - 17:30 WIB

Mencicipi Gulai Lemea, Kuliner Lezat Khas Bengkulu Saat Ramadan

Indonesia, kaya akan keanekaragam kuliner yang lezat seperti kuliner khas Suku Rejang Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, yakni Gulai "Lemea" yang saat ini banyak dicari oleh kalangan…

Memasuki pekan kedua Ramadan, Pertamina mencatat konsumsi LPG menunjukkan peningkatan 5% dari rata-rata konsumsi normal.

Jumat, 25 Mei 2018 - 17:30 WIB

Jelang Lebaran 2018, Pertamina Bentuk Satgas BBM dan LPG

Pertamina memproyeksikan selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri 2018 konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji harian secara nasional naik rata-rata 15% bila dibandingkan dengan hari biasanya.

Pengunjung mengamati papan elektronik yang memperlihatkan pergerakan IHSG di gedung BEI (Foto Rizki Meirino)

Jumat, 25 Mei 2018 - 17:28 WIB

IHSG Jumat Ditutup Menguat 29,20 Poin

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, ditutup menguat sebesar 29,20 poin seiring dengan kondisi pasar yang mulai pulih.

Memasuki pekan kedua Ramadan, Pertamina mencatat konsumsi LPG menunjukkan peningkatan 5% dari rata-rata konsumsi normal.

Jumat, 25 Mei 2018 - 17:14 WIB

Pertamina: Selama Ramadhan Konsumsi LPG Meningkat Lima Persen

PT Pertamina (Persero) telah mengantisipasi peningkatan konsumsi LPG selama Ramadan hingga mudik Idul Fitri dengan menambah pasokan sejak awal Ramadan. Memasuki pekan kedua Ramadan, Pertamina…

Wakil Ketua DPR, Agus Hermanto

Jumat, 25 Mei 2018 - 17:00 WIB

Paripurna DPR Antiklimaks Setujui RUU Terorisme

Rapat paripurna pengambilan keputusan atas revisi Rancangan Undang Undang Tindak Pidana Terorisme seakan antiklimaks tanpa adanya interupsi dan perdebatan, akhirnya secara aklamasi menyetujui…