Pengamat IPB: Pemerintah Jangan Kebakaran Jenggot Atasi Masalah Garam.

Oleh : Ridwan | Senin, 07 Agustus 2017 - 05:30 WIB

Ilustrasi Petani Garam
Ilustrasi Petani Garam

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pengamat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar mengatakan seharusnya Indonesia sudah bisa mengantisipasi kelangkaan stok komoditas pangan seperti garam yang sedang ramai diperbincangkan ini. Hal tersebut menurutnya harus sudah bisa dilihat sejak 10 atau 20 tahun silam, dengan melihat data perkembangan penduduk.

"Kita kan mestinya dari sejak 10 atau 20 tahun yang lalu sudah bisa mengantisipasi (stok garam),  (dilihat dari) perkembangan penduduk, sehingga bisa dihitung berapa kebutuhannya dari tahun ke tahun," kata Hermanto ketika dihubungi wartawan, sore hari ini (6/8/2017).

Wakil Rektor bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis IPB ini menjelaskan bahwa selama beberapa tahun ini kapasitas produksi garam nasional hampir tidak ada penambahan yang siginifikan. Menurutnya itu merupakan suatu indikasi bahwa pemerintah terutama yang paling bertanggung jawab yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus mampu melakukan pembinaan terhadap petani garam untuk mengangkat hasil produksi garam lokal.

"Dari situ aja sebetulnya sudah merupakan indikasi, mestinya dilakukan pembinaan petani garam ya oleh kementerian yang langsung terkait ya kementerian perikanan dan kelautan dong, karena turunannya ada disitu (KKP)," ujar Hermanto.

Hermanto juga mengatakan bahwa program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) belum efektif. Menurutnya PUGAR baru seperti wacana proyek saja, bukan sesuatu yang betul-betul disiapkan seperti keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruktur.

"Saya kira belum efektif ya (Program PUGAR), baru kaya proyek saja gitu, bukan sesuatu yang istilahnya betul-betul disiapkan seperti halnya pemerintah sekarang serius bangun infrastruktur," kata Hermanto.

Sebelumnya seperti yang diwartakan, bahwa langkanya garam diduga karena adanya permainan kartel. Menanggapi hal ini Hermanto mengatakan alasan tersebut sulit diterima, alasannya karena walaupun memang benar-benar ada mafia garam atau kartel garam, kalau produksi garam banyak dan mencukupi maka praktik kartel tersebut tidak akan efektif.

"Menurut saya, alasan yang sulit diterima sebenarannya, kalau ada sesuatu yang langka, lantas dituduh ada mafia lah dituduh ada kartel. Jadi mau dia mafia atau dia kartel ya, kalau pun ada, kalau memang produksi kita banyak dan mencukupi mana efektif dia melakukan kartel, kartel atau mafia itu efektif untuk beroperasi jadi sekali untung berlipat ganda itu, kalau emang ada keterbatasan produksi.   Kalau barangnya banyak, petani garam kita itu efektif untuk menghasilkan garam banyak, gak akan ada yang mau (melakukan) kartel," jelasnya.

Hermanto mengatakan solusi terbaik yang harus dilakukan yakni memang harus meningkatkan basis produksi garam, membina petani garam agar mampu bertani dengan baik, selain itu dukungan teknologi juga menjadi hal yang penting. Hermanto menambahkan bahwa jangan sampai petani garam malah terkonversi, ladangnya malah menyusut dipakai untuk yang lain. Dia juga meminta agar pemerintah tetap tenang dalam mengatasi masalah jangan setiap ada masalah seperti kebakaran jenggot.

"Jadi solusi yang emang harus dilakukan itu tingkatkanlah basis produksi itu, binalah petani garam itu, jangan malah ia jadi terkonversi ya, ladang garamnya itu malah menyusut dan dipakai untuk yang lain-lain. Jadi jangan kaya kebakaran jenggot lah, setiap ada masalah ribut," pungkas Hermanto.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pemenang Favorite Booth APM GIIAS 2017 berfoto bersama

Minggu, 20 Agustus 2017 - 14:12 WIB

17 Ribu Unit Kendaraan Terjual dalam Pameran GIIAS 2017

Rizwan Alamsjah, Ketua Penyelenggara GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 mengungkapkan rasa syukurnya terhadap penyelenggaraan GIIAS tahun ini. Berlangsung selama dua pekan,…

Dr. Maria Jacinta Arquisola, BA, MHRM Dosen President University Wakili Indonesia di Konferensi Internasional Jerman terkait Kepemimpinan Perempuan

Minggu, 20 Agustus 2017 - 13:52 WIB

Dosen President University Wakili RI di Konferensi Internasional

Kebanggaan dirasakan oleh President University karena memiliki seorang Dr. Maria Jacinta Arquisola, BA, MHRM.

Tidung Festival 2017 (Ist)

Minggu, 20 Agustus 2017 - 12:20 WIB

Warna-Warni Perahu dan Homestay Meriahkan Tidung Festival 2017

Penyelenggaraan Tidung Festival 2017 tahun ini, menghadirkan berbagai serangkaian kegiatan yang menarik dan unik. Para masyarkatpun antusias mengikuti kegiatan tersebut dengan ikut serta dalam…

Aktivis Perdamaian Korea Teguh Santosa

Minggu, 20 Agustus 2017 - 10:24 WIB

Teguh Santosa Apresiasi Penegasan Presiden Moon Tidak Ingin Tercipta Perang Semenanjung Korea

Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea, Teguh Santosa menyambut baik penegasan Presiden Republik Korea Moon Jaein yang tidak menginginkan perang kembali melanda di Semenanjung Korea.

SK-II Masterpiece. (Foto: IST)

Minggu, 20 Agustus 2017 - 10:23 WIB

Perawatan Kulit Mewah SK-II Bertajuk Masterpiece Pitera

Memiliki kulit wajah yang cerah berseri, kenyal, dengan tekstur yang lembut merata, tentu telah menjadi impian setiap wanita. Dan untuk mewujudkannya, SK-II terus melakukan inovasi dengan berbekal…