Gelar Akademik dan Tanggung Jawab Politik

Oleh : Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang | Jumat, 28 Juli 2017 - 14:55 WIB

Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)
Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, President University, Peneliti di PresidentCenter for International Studies (PRECIS)

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Kita hidup di masyarakat yang banjir gelar akademik. Gelar-gelar akademik, seperti S.H. (Sarjana Hukum), M.M (Magister Manajemen) dan Dr. (Doktor), dipertontonkan di berbagai acara, mulai dari pemilihan legislatif, pilkada sampai dengan undangan perkawinan. Gelar akademik menjadi semacam lambang kebangsawanan. Penggunanya dianggap lebih cerdas dibanding dengan orang-orang yang tanpa gelar.

Gejala ini juga terjadi di Jerman. Pemikir asal Muenchen, Julian Nida-Rümelin, bahkan menulis buku dengan judul Der Akademisierungswahn (delusi akademik) pada 2014 lalu. Di dalam buku itu, ia berpendapat, bahwa masyarakat Jerman dilanda kegilaan akademik. Semua orang ingin masuk universitas dan mendapat gelar akademik, walaupun mereka, sesungguhnya, memiliki bakat di bidang lain, selain bidang akademik.  

Ada kesalahpahaman tentang makna dari gelar akademik. Sejatinya, gelar akademik menyentuh tiga hal mendasar. Pertama, gelar akademik adalah lambang dari niat dan tindakan seseorang untuk mengembangkan dirinya. Gelar akademik adalah lambang dari perjuangan yang telah menguras kemampuan intelektual, emosional dan bahkan fisik seseorang untuk mengembangkan dirinya.

Dua, gelar akademik juga adalah lambang dari penguasaan satu bidang ilmu tertentu. Kedalaman penguasaan ilmu ini semakin meningkat, ketika orang telah meraih gelar magister ataupun doktor di satu bidang tertentu. Dengan gelar akademik yang ada, ia memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan bidang ilmu pengetahuannya. Dua hal ini, yakni pengembangan diri dan pengembangan ilmu, sudah cukup diketahui masyarakat luas. Namun, ada satu hal yang terlupakan, yakni tanggung jawab politik.

Tiga, gelar akademik mengandung tanggung jawab politik, yakni untuk memberikan pendapat terkait dengan hal-hal yang penting di dalam kehidupan politik. Tanggung jawab politik berarti keberanian untuk terlibat dalam berbagai peristiwa politik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat luas. Dengan kemampuan analisis dari sudut pandang keilmuan masing-masing, orang yang bergelar akademik memiliki tanggung jawab untuk membagikan analisisnya terkait dengan urusan-urusan politik yang lebih luas.

Di Indonesia, banyak orang yang bergelar akademik tidak memiliki tanggung jawab politik, ataupun tanggung jawab untuk mengembangkan bidang keilmuannya. Mereka menggunakan gelar akademik demi meningkatkan kehormatan diri semata, tanpa ada isi yang jelas. Inilah kesalahpahaman di dalam memahami makna dari gelar akademik. Kehormatan yang sebenarnya muncul bukan dari gelar akademik yang disandang, melainkan dari keterlibatan total dan jernih di dalam urusan-urusan masyarakat luas dari orang yang mengenakan gelar akademik tersebut.  

Gelar akademik akan menjadi tanpa arti, ketika pemegangnya tak punya kepedulian untuk bersuara secara jernih terkait dengan persoalan-persoalan politik yang ada. Gelar itu juga akan menjadi kosong, tanpa upaya untuk mengembangkan ilmu yang telah didalami. Sayangnya, itulah yang kini banyak terjadi. Jika gelar akademik hanya menjadi hiasan belaka, lebih baik, ia dibuang jauh-jauh.

Setuju?

Penulis : Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kota Sabang

Selasa, 26 Maret 2019 - 10:00 WIB

Tingkatkan Industri Pariwisata, Sabang Aceh Segera Miliki Bandara Internasional

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya mengaku siap memfasilitasi dan akan mendukung pembangunan Bandar Udara Internasional di Kota Sabang, Provinsi Aceh.

Siti Badriah, Video Klip Lagu Lagi Syantiknya telah ditonton 482 jtua kali

Selasa, 26 Maret 2019 - 09:03 WIB

Tepat Setahun Lagu ‘Lagi Syantik’ Siti Badriah Ditonton 482 Juta kali

epat satu tahun lalu, tepatnya 22 Maret 2018, penyanyi dangdut Siti Badriah lewat kanal youtube milik Nagaswara Music mengeluarkan single lagu Lagi Syantik lewat. Lagu itu langsung menjadi viral.…

Pramugari Garuda Indonesia (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 26 Maret 2019 - 09:00 WIB

Garuda Indonesia Gunakan A330 Rute Jakarta-Nagoya Jepang

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia resmi melayani rute penerbangan langsung Jakarta-Nagoya pp dengan menggunakan pesawat jenis Airbus 330 berkapasitas 222 tempat duduk yang terdiri…

Legenda Musik, Erros Djarot luncurkan single terbaru menyambut Pemilu

Selasa, 26 Maret 2019 - 08:34 WIB

Erros Djarot Gelisah Maka Lahirlah ‘1 & 2 Bukan Segalanya’

Seniman sekaliber Erros Djarot ternyata menyimpan kegelisahan yang sangat mendalam atas kondisi bangsa kita dalam menghadapi pemilu presiden yang semakin dekat. Kegelisahannya itu akhirnya ia…

Dirut Telkom Alex J Sinaga dan Menteri BUMN Rini Soemarmo saat moment the nex IndiHome

Selasa, 26 Maret 2019 - 08:29 WIB

Pelanggan IndiHome Capai 5,5 Juta Rumah

Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia TBK (Telkom) menyebutkan jumlah pelanggan IndiHome mencapai 5,5 juta pelanggan. Jaringan Telkom untuk memperkuat ekspansi IndiHome, sudah tersebar dari…