Lumbung Garam yang Tak Lagi Rasakan Asinnya Garam

Oleh : Dhiyan W Wibowo | Rabu, 26 Juli 2017 - 09:35 WIB

Ilustrasi Petani Garam (Ist)
Ilustrasi Petani Garam (Ist)

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Sebuah paradoks terjadi di Indonesia, negara dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, yang seharusnya memiliki potensi produksi garam yang tinggi kini justru mengalami kelangkaan garam. Harga garam mengalami kenaikan berkali lipat. Sebuah berkah ataukah bencana?

Ironis memang, Indonesia yang menurut Badan Informasi Geospasial (BIG) memiliki total panjang garis pantai sepanjang 99.093 kilometer harus mengalami kelangkaan garam. Bagi para konsumen rumah tangga, kenaikan hingga 100 200 persen tentunya tak akan memberatkan. Katakanlah yang biasanya mereka cukup mengeluarkan Rp1.500 untuk mendapatkan garam kemasan, kini harus mengeluarkan uang Rp3.000 hingga Rp5.000, bukanlah angka yang bisa membangkrutkan para ibu rumah tangga.

Berkah memang dirasakan oleh para petani garam di berbagai daerah. Sebut saja para petani garam di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang menikmati harga jual garam yang tinggi. Kondisi cuaca yang kurang mendukung kini tak mematahkan semangat para petani garam di Jepara untuk terus berproduksi.

"Bagi petani yang menggunakan media geoisolator atau plastik pelapis tambak garam, masih bisa panen dengan cuaca seperti sekarang karena dalam waktu 20 hari siap dipanen," ujar Sukib, salah satu petani garam asal Desa Surodadi, Kecamatan Kedung, Jepara, yang sejak Mei 2017 mulai memproduksi garam.

Menurut Sukib seperti dilansir Antara, kondisinya bisa berbeda jika tidak menggunakan geoisolator, yang akan membutuhkan waktu panen hingga sebulan. Para petani masih akan mendapatkan hasil lebih kendati volume produksi mereka hanyalah dua atau tiga gombong. Satu gombong ekuivalen dengan garam seberat 80 kilogram. Setiap tombong laku dijual ke pengepul hingga Rp300.000. Padahal sebelumnya setiap tombong garam yang mereka produksi hanya dihargai pengepul seharga Rp30.000 hingga Rp40.000.

Berbeda dengan petani, para pelaku industri pengguna bahan baku garam kini harus merasakan derita. Kelangkaan yang diikuti kenaikan harga garam krosok di wilayah Rembang dan sekitarnya misalnya, berujung pada kesulitan bagi para pengusaha ikan asin setempat.

Sebut saja pengusaha ikan asin di Desa Banggi Kecamatan Kaliori, Rembang, yang biasanya cukup mengeluarkan dana Rp500 untuk tiap kilogram garam krosok, kini ia harus mengeluarkan dana empat kali lipatnya. Akibatnya, harga jual ikan asin pun melonjak naik. Kini harga ikan asin jenis layang dijual Rp 25.000-27.000 per kilogram dari harga semula hanya berkisar Rp 20.000. Para pengusaha pun mulai mengurangi produksi ikan asin akibat mahalnya bahan baku garam.

Di Karawang, Jawa Barat, sejumlah pengusaha industri ikan asin dan bandeng harus membeli garam Rp4.000/kg, dari harga sebelumnya antara Rp300 hingga Rp500/kg. Tingginya harga garam tak lantas membuat mereka bisa leluasa menaikkan harga ikan asin produksi mereka. Disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, Abuh Bukhori seperti dilansir SindoNews, para pengusaha ikan asin lokal mengeluhkan tingginya harga, Tapi para pelaku industri tetap tidak bisa menaikkan harga jual," katanya.

Protes pun dilayangkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Menurut pria yang akrab dipanggil Gus Ipul ini, Kementerian Perdagangan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) seharusnya segera mencari solusi cepat terkait kelangkaan garam. Jawa Timur merupakan sentra garam dan menyumbang 40 persen kebutuhan garam nasional. Jika garam di Jatim langka, tentunya berpengaruh ke daerah lain, demikian disampaikan Gus Ipul baru-baru ini (21/7).

"Tahun ini target 1,2 juta ton per tahun juga tidak terpenuhi. Hingga bulan ini petani di Jawa Timur hanya mampu menghasilkan 689 ton. Padahal kebutuhan garam konsumsi masyarakat Jatim pertahunnya sekitar 150 ribu ton," kata Gus Ipul. Diakuinya bahwa kelangkaan garam saat ini merupakan imbas dari tidak menentunya musim sejak 2016. Panjangnya musim penghujan pada 2016 mengakibatkan petani garam di Jawa Timur hanya mampu menghasilkan 123.873 ton garam dari target produksi sebesar 1,2 juta ton.

Tak mau tinggal diam mendengar keluhan para pengusaha yang bergantung pada ketersediaan pasokan garam, pemerintah lewat Kementerian Kelautan dan Perikanan pun tengah menyiapkan kebijakan untuk kembali membuka keran impor garam. Kebijakan ini akan dilakukan berupa pemberian rekomendasi impor garam kepada PT Garam (Persero), begitu Kementerian Perdagangan mengubah kode Harmonized System (HS) antara garam konsumsi dan garam industri.

"Nanti kami akan minta PT Garam impor lagi. Tapi saya mau pastikan kode HS dan lainnya supaya tidak ada Direktur Utama PT Garam yang masuk bui lagi, kan tidak lucu," ujar Susi di Gedung DPR RI, Jakarta (24/7).

Susi menyatakan tak ingin lagi terulang kasus penetapan Direktur Utama PT Garam Achmad Boediono, sebagai tersangka kasus penyalahgunaan impor garam oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri. PT Garam sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen garam yang diberikan penugasan dari pemerintah untuk mengimpor garam konsumsi, diduga telah mengubah konsentrasi kadar garam (NaCi) hingga kadarnya berada di atas 97 persen untuk impor garam industri.

Disampaikan Susi, kode HS telah banyak menyebabkan permasalahan hukum dan menjerat petinggi BUMN tersebut. Pihaknya telah menggelar rapat dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait hal tersebut, yang hasilnya bahwa Kementerian Perdagangan harus mengubah kode HS (Harmonized System) antara garam konsumsi dan garam industri.

Harmonized System (HS) adalah standar internasional atas sistem penamaan dan penomoran yang digunakan untuk pengklasifikasi produk perdagangan dan turunannya yang dikelola oleh World Customs Organization (WCO). Dikatakan Susi, perlu ada penyesuaian pada Permendag Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam. Kelak diharapkan importasi baik untuk garam konsumsi maupun untuk industri akan tetap dikontrol, khususnya agar tidak merusak periode panen garam rakyat.

Jika aturan tersebut tak dilakukan penyesuaian, maka langkah importasi garam kelak bisa menjerat siapapun ke dalam ranah hukum.

Masih menurut Susi, sebenarnya kementeriannya hanya memberikan rekomendasi untuk impor garam konsumsi. Rekomendasi tersebut pun berdasar pada Permendag Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam. Namun, Susi menyebut dalam prakteknya, banyak oknum yang menyalahgunakan izin importasi yang diberikan kementeriannya itu.

Kelak akan disiapkan regulasi pengendalian impor komoditas garam, yang penyusunannya akan dihasilkan lewat koordinasi dan sinergi instansi terkait. Dan saat ini KKP tengah menyusun Peraturan Menteri tentang pengendalian impor komoditas pergaraman yang merupakan turunan dari UU Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam. Penyusunan regulasi tersebut dilakukan antara lain guna mengantisipasi kembali terjadinya kekurangan stok garam yang saat ini tengah terjadi.

Kutipan :
Perlu ada penyesuaian pada Permendag Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam. Kelak diharapkan importasi baik untuk garam konsumsi maupun untuk industri akan tetap dikontrol, khususnya agar tidak merusak periode panen garam rakyat.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 21 Oktober 2018 - 20:31 WIB

Masuk Tahun Kelima Jokowi-JK, Moeldoko Ajak Kembangkan Politik Cinta Kasih

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan, seandainya saja bangsa kita dikelola dengan cinta kasih, maka politik kita pun akan menjadi politik yang sejuk, jauh dari rasa kebencian dan memusuhi.…

FOUNDA Startup Baru Ajak Milennials Berbisnis (Foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 21 Oktober 2018 - 18:00 WIB

FOUNDA Startup Baru Ajak Milennials Berbisnis

Dalam rangka meningkatkan kesadaran berwirausaha pada kalangan milennials, FOUNDA sebagai perusahaan rintisan atau startup hadir dengan tujuan untuk menciptakan founder muda (Founda) dengan…

Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih saat berfoto bersama 27 pelaku usaha kreatif dalam program Creative Business Incubator (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Minggu, 21 Oktober 2018 - 17:30 WIB

Ciptakan Pengusaha Muda di Sektor Ekonomi Kreatif, Kemenperin Gelar Creative Business Incubator

Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian melalui Bali Creative Industry Center (BCIC) menggelar program "Creative Business Incubator (CBI)".

Andrew Keily Juarai Ajang Herbalife Bali International Triathlon 2018 (Foto Rizki Meirino)

Minggu, 21 Oktober 2018 - 17:00 WIB

Andrew Keily Juarai Ajang Herbalife Bali International Triathlon 2018

Herbalife Bali International Triathlon 2018 telah selesai digelar di Pantai Mertasari, Sanur, Bali, Minggu (21/10/2018). Dalam kategori Olympic Distance Course Pria, Triatlit asal Amerika Serikat,…

HM Sampoerna Tbk Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia (Foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 21 Oktober 2018 - 16:30 WIB

HM Sampoerna Tbk Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia

PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) memiliki komitmen yang besar untuk mendukung upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia.…