Adaptasi dan Perubahan dalam Spektrum Hospitaliti

Oleh : Bintang Handayani | Rabu, 26 Juli 2017 - 03:08 WIB

Bintang Handayani, Ph.D, Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang
Bintang Handayani, Ph.D, Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang

INDUSTRY.co.id - Mengagumkan sungguh, menyelam didalam alunan nada klasik khas musik yang mengandalkan kekuatan bukan hanya lirik lagu sebagai daya magnetis untuk sesiapa yang terpikat atas warna menyolok, khas berbeda, namun yang terpenting adalah irama pembentuk gerakan kepala dan memaksa menutup mata untuk mengakselerasi keindahan lagu menuju kampus pagi ini.

Selamat pagi terucap khas dari (dan kepada) sesama, memperkuat kesegaran pagi dengan melihat puritas gadis kecil yang kerap datang menemani Ibunda dan memikat dengan kata-kata dasyat khas rambut aku lulus (baca: rambut aku lurus). Namun sedikit ingin menjauh untuk kemudian dapat melihat persoalan yang kebetulan ditanya oleh salah satu Mahasiswa saya beberapa tahun lalu.

Soalan yang diajukkannya adalah tentang konsepsi Hospitaliti dan Servicescape. Mari mengulang-kaji sesaat isu tersebut yaitu menelaah spektrum Hospitaliti dan Servicscape dari perspektif tektual lingkungan dan/atau ekosistem kerja. Semoga gadis kecil nan memikat hati masih berada disini selepas saya tuntas menulis ini. Mari berharap

Adaptasi dan Perubahan teratribusi dengan wacana Keberlanjutan (sustainability) dan melekat inheren dengan Hospitaliti. Dalam spektrum kehidupan bekerja setidaknya 8 Jam dari 24 Jam perputaran masa dalam 1 hari dihabiskan didalam lingkungan kerja.

Selanjutnya, sementara masa 8 Jam tersebut teralokasi 85% untuk berinteraksi dan berkomunikasi oleh para pekerja, disisi lain akumulasi 85% masa tersebut muncul sebagai pengukuh nilai-nilai bersama bagi organisasi.

Untuk itu, lingkungan kerja bukan hanya memberikan efek yang kuat untuk pengembangan individu dalam spektrum kehidupan pribadi maupun sebagai Mahluk sosial namun juga secara timbal-balik dapat membesarkan nilai-nilai kreasi bersama.

Dengan demikian, nilai-nilai kreasi bersama inilah yang akan membentuk esensi Hospitaliti, yang diartikan sebagai kelembutan untuk mencairkan ragam elemen-elemen perbedaan latar belakang dan sebagainya.

Adaptasi bermakna kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan untuk kemudian dapat senadi dengan ekosistem dan dapat menjadi bagian dari lingkungan kerja. Sayangnya, kesilapan atas esensi senadi tersebut nampak (lumayan) sering terjadi dan cenderung menyuburkan konsepsi artifisial penyeragaman.

Penyeragaman inilah yang dapat berpotensi mematahkan atribut simbol-simbol yang bersifat paradoksial. Secara sederhana, simbol-simbol yang bersifat paradoksial jika tidak menjadi penambah-baik lingkungan, hal tersebut akan menjadi penyumbat tumbuh-kembang dari sifat keselarasan khas, yaitu khas yang menumbuh-kembang ragam perbedaan menjadi potensi, menjadi unsur keluhuran bukan dipersepsikan sebagai ancaman.

Dengan kata lain, keselarasan khaslah yang menjadi nadi atas tumbuh-kembang dari kemapanan dan kematangan elemen-elemen didalam ekosistem. Untuk itu, mari tengok elemen didalam ekosistem yang berbeda warna dengan kacamata yang sesuai ukuran.

Disisi lain, Perubahan diartikan sebagai hal tak terelakkan yang (sepatutnya) dapat memberikan dinamika, yang dapat digunakan untuk menjadi lebih baik sehingga posisioning menjadi lebih kukuh dan lebih kokoh.

Kedua aspek Adaptasi dan Perubahan diharapkan mampu bukan hanya membesarkan hakiki keperluan (needs) individu untuk pengembangan diri namun juga bermakna sebagai medium untuk ekosistem menjadi lebih matang sehingga tujuan dan cita-cita yang tergaris didalam Visi & Misi dapat tercapai.

Ekosistem didalam konteks ini salah satunya dibangun oleh Servicscape, yaitu lingkungan fisik (exterior) ataupun lingkungan yang bersifat suasana terbangun untuk pembentukan & pengembangan sistem (interior). Jika hal tersebut dapat berjalan sesuai dengan fungsinya sebagai elemen pendukung, maka dapat dikatakan hal tersebut dapat bergerak secara otomatis dengan baik, berjalan dengan layak, dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Bukan hanya individu yang mengenal pasti keperluan dan hakiki esensi dari Adaptasi dan Perubahan dapat berfungsi sebagai bagian dari elemen pendukung sistem didalam ekosistem kerja, namun juga yang paling memukau tetapi tidak mengejutkan adalah spektrum nilai yang dihasilkan dari kenal-pasti Adaptasi dan Perubahan; yaitu sebagai pengukuh dari posisioning untuk menjadi lebih matang.

Dengan kata lain, dengan atau tanpa individu yang memangku jabatan, spektrum Adaptasi dan Perubahan dapat muncul sebagai pengatur otomatis. Namun demikian, pengukuh dari posisioning untuk menjadi lebih matang kemungkinan besar (most likely) lahir dari individu-individu yang bergerak lentur dengan Adaptasi dan Perubahan yang menjadi senadi dengan irama Keberlanjutan dan ke-khas-an authentor (dan/atau authenticator). Authentor dan/atau authenticator memiliki kesamaan sebagai elemen baik, yaitu memiliki nilai-nilai dan karakter yang kuat & berpengaruh, pembentuk lembut-hati berkarakter khas terintegrasi dengan integritas, BUKAN individu-individu pendukung mainstraim (followers).

Sifat utama dari kedua aspek tersebut merujuk pada apa yang disebut sebagai Servicscape didalam ranah ilmu Hospitaliti, yaitu hubung-kait antara fasilitas dan aktifitas Manusia yang bersifat timbal-balik, mencerminkan keadaan saling ketergantungan antara kedua aspek (didukung) fasilitas dan (mendukung) aktifitas Manusia.

Hal ini bersifat timbal-balik yang merujuk pada suatu fasilitas interior maupun fasilitas eksterior yang meliputi atribut-atribut pelayanan seperti desian & simbol-simbol, peralatan yang disediakan, denah layout, kualitas udara/suhu yang ada pada fasilitas tersebut.

Namun yang menarik untuk diulang-kaji dalam konteks Individu yang berkerja terletak pada spektrum yang bukan hanya menggarisbawahi keadaan lingkungan yang mendukung (ataupun didukung) didalam ekosistem, namun yang terpenting adalah keselarasan dalam hubungan yang dibangun ataupun hubungan yang terbangun dalam interaksi sosial dan proses komunikasi, berpijak pada esensi ragam perbedaan sebagai warna-warni memikat (bukan terikat) yang menghasilkan kreasi bersama.

Merunut dari spektrum ini, posisi Adaptasi dan Perubahan yang melekat inheren dengan kospestualisasi Keberlanjutan, dan posisioning ini memberikan peran pengkomunikasian kepada bukan hanya Pekerja namun juga kepada publik dan/atau konsumer. Secara umum, hubung-kait dari Adaptasi dan Perubahan didalam spektrum Hospitaliti terletak pada konsepsi Servicscape yang mencerminkan keadaan saling ketergantungan antara kedua aspek (didukung) fasilitas dan (mendukung) aktifitas Manusia. Servicscape melekat dengan simbol-simbol implisit yaitu pemberi suasana kondusif, rasa nyaman dan aman. Dengan kata lain, hal itu memberikan penekanan:

(1) sebagai pembungkus elemen-elemen yang teratribusi pada pelayanan dan komunikasi gambaran Citra yang ingin disebarkan (diprojeksikan) kepada konsumen; disisi lain

(2) peranan sebagai pembungkus elemen-elemen yang teratribusi pada pelayanan dan komunikasi gambaran Citra ini bermakna juga bagi publik internal (para pekerja);

(3) sebagai penggerak efisiensi dari aktifitas pelayanan, sebabkan didalam Servicscape terdapat desain denah yang bermakna sebagai panduan tindak-tanduk & rujukan atas etika yang dianggap hal utama sebagai nilai besama oleh ekosistem tersebut, contohnya integritas;

(4) sebagai pembeda yang membentuk atribusi dan indikasi dari segmen pasar; hal ini teratribusi pada keinginan dan akselerasi untuk bukan hanya menjadi pemimpin pasar namun juga untuk menjadi pilihan utama pada kategori segmen tertentu. Singkatnya, untuk menjadi pemimpin pasar dan/atau untuk menjadi pilihan utama pada kategori segmen tertentu yang diperlukan bukan hanya kenal-pasti keperluan dan hakiki esensi dari Adaptasi dan Perubahan namun juga pendayagunaan dari filosofi Servicscape.

Bintang Handayani, Ph.D adalahDosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang, Indonesia. Kajian penelitiannya berkisar pada Tata Kelola Hospitaliti & Pencitraan Pariwisata Gelap, Penggunaan Teknologi Pada Situs Kematian, Citra Merek Pelancongan, Personifikasi Bangsa, serta studi Media & Komunikasi.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Presiden Jokowi meresmikan pasar rakyat Pasar Badung di Kota Denpasar, Jumat (22/3).

Sabtu, 23 Maret 2019 - 17:33 WIB

Presiden Jokowi Resmikan Pasar Badung Jadi Ikon Smart Heritage Market

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berharap pasar rakyat atau pasar tradisional di Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Bali, harus mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan moderen, pasar…

Kepala (BPPSDMP) Kementan Momon Rusmono

Sabtu, 23 Maret 2019 - 16:45 WIB

Kementan: Kedaulatan Pangan Harus Berdampak Pada Kesejahteraan Petani

Indramayu - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani di Kabupaten Indramayu untuk bisa mencapai target produksi padi hingga lebih dari 1,8 juta ton gabah kering pungut di tahun 2019.…

Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto

Sabtu, 23 Maret 2019 - 16:36 WIB

BNI Syariah Siapkan Strategi Untuk Hadapi Era Disrupsi

Jakarta - BNI Syariah sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi era disrupsi. Era disrupsi ini terjadi ditunjukkan dengan perubahan yang cukup cepat dan mengganggu eksisting bisnis.

Dok Redaksi Industry

Sabtu, 23 Maret 2019 - 13:33 WIB

Bambang Trihatmodjo: Pupuk Bregadium Bukti Kiprah Berkarya untuk Pertanian 

Kader utama Partai Berkarya Bambang Trihatmodjo menilai sector pertanian Indonesia berjalan di tempat, di tengah maju dan berkembangnya sector pertanian negara-negara tetangga, terutama Thailand.  

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih

Sabtu, 23 Maret 2019 - 13:10 WIB

Kemenperin Siapkan Dua Model Program Pacu Penumbuhan Wirausaha Baru di Pondok Pesantren

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyiapkan beberapa program atau model untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren dan menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan…