Produsen Otomotif Berpeluang Perbesar Ekspor ke Australia

Oleh : Herry Barus | Senin, 19 Desember 2016 - 05:13 WIB

Ilsutrasi investasi perusahaan otomotif BMW. (Dimas Ardian/Bloomberg)
Ilsutrasi investasi perusahaan otomotif BMW. (Dimas Ardian/Bloomberg)

INDUSTRY.co.id - Banyaknya produsen kendaraan yang menghentikan aktivitas produksi di Australia sehingga melahirkan peluang bagi industri kendaraan bermotor asal Indonesia untuk memperbesar cakupan pasar global.

"Perluasan ekspor ke Australia bisa dilakukan selama ada persetujuan dari prinsipal. Tapi kami juga akan menarik industri di sana agar mau masuk ke Indonesia," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Mesin, Logam, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), I Gusti Putu Suryawirawan kepada Antara belum lama ini.

Saat ini pemerintah kedua negara tengah melakukan perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Perundingan itu ditargetkan akan tuntas pada tahun depan. Adanya perundingan ini akan membawa manfaat bagi perluasan pasar global kendaraan bermotor, pemerintah akan melakukan komunikasi dengan pihak prinsipal agar bersedia untuk memberikan izin ekspor ke negara tersebut.

Tahun ini, sejumlah perusahaan otomotif memutuskan untuk mnutup pabriknya di Australia. Antara lain dua merek asal Amerika Serikat yakni Ford Motor Co dan General Motors Co, serta raksasa otomotif asal Jepang, Toyota Motor Corp.

Ford secara resmi telah menghentikan aktivitas produksi pada Oktober. Keputusan itu kemudian disusul oleh pabrik Holden milik General Motors dan Toyota yang akan menghentikan produksi pada tahun depan.

Dalam pembahasan IA-CEPA, ada sejumlah sektor prioritas antara lain pariwisata dan hospitality, pendidikan dan pelatihan, ketahanan pangan dan pasokan pangan global, kesehatan, ekonomi digital, e-commerce dan industri kreatif, serta infrastruktur dan energi.

Sektor otomotif memang belum menjadi prioritas dari perundingan itu. Pelaku industri meminta kepada pemerintah untuk segera melakukan komunikasi guna mengisi kekosongan pasokan kendaraan bermotor.

IA-CEPA bisa menjadi alternatif di tengah ketidakpastian perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP). Apalagi secara geografis letak Indonesia dan Australia lebih dekat sehingga meringankan biaya logistik. (Hrb)

Komentar Berita

Industri Hari Ini

KA Bandara Soekarno-Hatta (Ist)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 08:15 WIB

Penyesuaian Tarif, Kini Kereta Api Bandara Batu Ceper-Soetta Hanya Rp35.000

PT Railink memutuskan menyesuaikan tarif antar-stasiun kereta Bandara Soekarno-Hatta. Dengan adanya penyesuaian tarif tersebut, kini masyarakat dari Kota Tangerang atau sekitar Stasiun Batuceper…

 Oesman Sapta Odang (OSO) Ketum Umum Hanura Oesman

Sabtu, 20 Januari 2018 - 08:07 WIB

Konflik Partai Hanura, OSO-Daryatmo Harus Temukan Kompromi Politik

Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyarankan para elit politik Hanura harus secepatnya bertemu untuk menemukan kompromi politik yang terbaik bagi partai…

Menhan Ryamizard Ryacudu-foto RiauOnline.com

Sabtu, 20 Januari 2018 - 07:57 WIB

Menhan Ungkap Empat Isu Krusial Ganggu Keamanan Kawasan

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, menyebutkan, saat ini dunia tengah menghadapi empat isu krusial yang dapat mengganggu keamanan kawasan regional dan wilayah.

Ilustrasi Petani Garam (Ist)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 07:55 WIB

Kemenperin Blak-Blakan Soal Impor Garam

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui jika saat ini pemerintah maupun para petani belum mampu menyediakan kebutuhan garam bagi industri. Sehingga, opsi impor garam menjadi langkah…

Partai Solidaritas Indoensia (PSI) (Foto Dok Industry.co.id)

Sabtu, 20 Januari 2018 - 07:52 WIB

PSI Galang Dana Publik untuk Perbaiki Iklim Politik Tanah Air

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan menggalang dana donasi publik untuk pembiayaan partai dan mendorong perbaikan iklim politik di Tanah Air.