Hadiah Untuk Republik

Oleh : Ridwan | Sabtu, 15 Juli 2017 - 15:10 WIB

Menteri Perdagangan ( foto-Istimewa )
Menteri Perdagangan ( foto-Istimewa )

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Jika ada kursi menteri yang rasanya kurang empuk itu mungkin Kementerian Perdagangan. Dalam kondisi normal dan stabil, publik tidak begitu memedulikan kementerian itu. Padahal, stabilitas itu tercipta dari kerja tiada henti orang-orang di Kemendag. Tetapi ketika terjadi gejolak harga maka semua telunjuk akan teracungkan pada kementerian ini.

Publik tidak peduli pada logika dan fakta yang ada bahwa Kemendag lebih banyak mengurusi hilirnya saja, sementara terkadang masalah bersumber dari di tempat lain. Masalah perut memang sering membuat kita cari jalan pintas. Kemendag adalah muara dari urusan perut itu. Kita ambil contoh masalah kenaikan harga cabe. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa cabe adalah komoditas yang rentan oleh cuaca. Musim tanam dan panennya sangat ditentukan oleh berkah dari langit.

Belum termasuk masalah transportasi cabe yang harus ekstra cepat mengingat komoditas ini gampang busuk. Tetapi siapa yang mau ambil pusing ketika mendapati harga cabe meningkat di pasar, paling mudah telunjuk diarahkan ke Kementerian Perdagangan. Ada kutukan bawaaan di Kemedag. Begitu kompleks urusan yang ditanganinya. Inilah muara dari segala urusan dasar manusia, urusan perut.

Di kementerian itu jasa-jasa sangat mudah terhapuskan. Sementara dosa-dosa sangat sulit diampunkan. Untuk memimpin kementerian ini butuh sosok yang tidak hanya terampil tetapi juga mengenal dan mengerti masalah dengan baik. Sosok yang karena pengetahuan dan jaringannya yang luas tetap tenang menghadapi gejolak yang bersumber dari pasar maupun rakyat. Seorang menteri yang praktis tetapi juga idealis. Sosok yang terbuka tetapi juga protektif terhadap kepentingan nasional.

Bagi Presiden Joko Widodo, upaya menemukan sosok yang tepat untuk menteri perdagangan ini jadi usaha tanpa henti. Itu sebabnya, dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK telah terjadi dua kali pergantian Menteri Perdagangan. Pertama, Rachmat Gobel dengan latar belakang pengusaha. Penggantinya Thomas Lembong memiliki latar belakang dunia investasi. Dan tahun lalu Thomas Lembong pun diganti dengan Enggartiasto Lukita. Sepertinya pencarian Presiden Jokowi akan berhenti ketika mendapatkan sosok Enggartiasto Lukita.

Di permukaan kita hanya akan melihat Enggar sebagai politisi gaek dari Partai Nasdem yang dulunya cukup lama jadi anggota DPR dari Partai Golkar. Sebagaimana masalah harga kita mungkin juga akan buru-buru menyimpulkan bahwa kursi menteri perdagangan ini bagian dari bagi-bagi jabatan Presiden Jokowi ke partai pendukungnya. Tetapi semua spekulasi dangkal itu akan berhenti manakala kita sedikit menyelami sosok Enggartiasto Lukito.

Enggar, putra Cirebon keturunan Tionghoa ini, sudah menggariskan hidupnya dalam dunia pengabdian sejak jadi aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) manakala menuntut ilmu di IKIP Bandung. Dia memang tidak mengabdi sebagai guru sesuai dengan jurusan pendidikan sastra Inggris yang ditempuhnya. Dia merangkai hidup dalam dunia profesional untuk kemudian jadi salah seorang wirausawan yang disegani di tanah air.

Dia adalah seorang pembelajar yang tekun. Enggar mulai meniti karir dari bawah di PT Bangun Tjipta Sarana milik Siswono Yudhohusodo. Hanya butuh waktu 9 tahun bagi Enggar untuk menjadi orang nomor satu di grup perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur dan properti tersebut. Saat bekal ilmu sudah lebih cukup, Enggar mundur pamit pada Siswono untuk membangun usaha sendiri di awal tahun 90-an.

Kecakapannya di bidang usaha beriring dengan bakat sebagai organisatoris yang handal membuat Enggar dipercaya sebagai Ketua Real Estate Indonesia (REI) yang memayungi para pengusaha di sektor properti. Jelang pertengahan tahun 90-an nama Enggar bersilewaran di media massa sebagai Ketua REI. Dia mewariskan banyak perubahan yang sangat bernilai dalam organisasi tersebut. Tidak heran, ketika masa jabatan Ketua yang hanya satu periode selesai, Enggar langsung didaulat menjadi Ketua kehormatan REI.

Enggartiasto Lukita bukan politisi kemarin sore atau yang baru lahir setelah euforia Reformasi. Pengabdian Enggar di dunia politik telah dimulai sejak masa Orde Baru . Kursi parlemen di Senayan bukanlah hal yang asing baginya. Sampai dengan penunjukan dirinya sebagai Menteri Perdagangan, Enggar bisa dikatakan sebagai salah satu anggota DPR paling senior di Senayan. Dimulai sebagai anggota MPR pada 1997 hingga tiga Pemilu berikutnya Enggar dipercaya untuk jadi wakil rakyat dari Partai Golkar, sebelum berakhir periode dia mundur dari DPR untuk pindah ke Nasdem bersama Surya Paloh.

Karier politik yang cemerlang itu tidak diraih oleh Enggar melalui dagelan-dagelan politik yang bisa meroketkan popularitas dalam jangka pendek. Dia merentang jalan politik melalui kedekatan dengan konstituen. Enggar menyapa masyarakat bawah sama ramahnya dengan orang-orang dari kalangan atas. Dia memperlakukan masyarakat sama penting tanpa memandang latar belakang. Kerja-kerja politik untuk konstituen tidak pernah berhenti walaupun jalan ke Senayan sudah sangat lapang baginya. Itulah sebabnya, walaupun salah satu politisi paling senior di parlemen, dia tidak sering kita lihat bersilewaran di media. Kerja politik bagi Enggar adalah usaha jadi pelita yang menerangi bukan hidup dalam gemerlap cahaya.

Jabatan menteri perdagangan menuntut pribadi yang paripurna dalam menghadapi persoalan. Kompleksitas yang dihadapinya terkadang menuntut menteri perdagangan untuk jadi manusia setengah dewa. Di dalam negeri, masyarakat ingin harga-harga kebutuhan mereka terjangkau tanpa peduli bagaimana harga-harga itu terbentuk. Publik tidak mau tahu masalah cuaca, petani, peternak, bahan baku, rentenir, spekulan dan lain sebagainya. Saat segala sesuatunya di luar ekspektasi mereka, Kementerian Perdaganganlah yang harus menanggung keluh kesah.

Sementara untuk urusan luar negeri juga tidak kalah kompleksnya. Bagaimana memastikan ekspor produk nasional bisa mencapai negara lain. Mengatur keran impor untuk barang-barang kebutuhan dalam negeri. Merumuskan kebijakan perdagangan dari tingkat kawasan hingga global. Semua dilakukan dengan tujuan keuntungan nasional sebesar-besarnya.

Beruntunglah Presiden Jokowi, sosok nyaris paripurna itu akhirnya ditemukan dalam diri Enggartiasto Lukito. Sebagai pengusaha dia paham bagaimana siklus barang dan jasa, para pemain harga, para pengejar rente dan lain sebagainya. Dia tahu cara bermain di tengah-tengah orang yang dikepung keinginan mencari untung.

Sebagai politisi senior, Enggar adalah negosiator ulung yang tidak mengenal waktu mencari solusi terbaik demi merah putih. Pengalamannya duduk di Komisi I DPR yang membawahi urusan luar negeri juga membuat Enggar sangat bisa diandalkan untuk menangani masalah-masalah perdagangan internasional.

Sebagai sosok yang dibesarkan oleh mentor-mentor berkarakter seperti Siswono Yudhohusodo, Enggar adalah pribadi yang tekun dan telaten. Tidak ada masalah yang dianggap terlalu kecil sehingga dia lewatkan begitu saja. Tidak ada pula yang dianggap terlalu besar sehingga tidak mampu dihadapi, dan selain Sri mulyani dan Menteri Susi, Enggartiasto Lukita adalah hadiah untuk republik ini.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kingston Partner Gathering, Kamis (21/3/2019)

Jumat, 22 Maret 2019 - 23:00 WIB

Perkuat Pasar, Kingston Miliki Puluhan Mitra Reseller di Indonesia

Kingston Technology, salah satu pemimpin dunia dalam solusi produk dan teknologi penyimpanan memori, secara bersama-sama dengan para mitra penjualan mengumumkan program mitra resmi di Indonesia.

Suasana diskusi yang bertajuk “Kasus Privatisasi JICT Jilid II (2015-2039), Kemana Pemerintah dan KPK” yang digelar Serikat Pekerja (SP) JICT di Hotel Sunlake, Sunter, Jakarta, Kamis (21/03/2019) petang.

Jumat, 22 Maret 2019 - 20:49 WIB

Pakar Hukum UGM: Perpanjangan Kontrak Pelindo II dan Hutchison Ports Tetap Sah

Oce Madril, pakar Tindak Pidana Korupsi Universitas Gajah Mada (UGM), menilai perjanjian perpanjangan kontrak PT Jakarta International Container Terminal (JICT) antara PT Pelindo II dan Hutchison…

Tommy Soeharto Ketum Partai Berkarya (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 22 Maret 2019 - 20:00 WIB

Tommy Soeharto: Kami Hadir Memberi Bukti, Bukan Janji

Ketua Umum Partai Berkarya Tommy Soeharto mengatakan partainya berkomitmen memberi solusi dan bukti, bukan janji, untuk meningkatkan produksi pangan nasional.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih

Jumat, 22 Maret 2019 - 19:05 WIB

Kemenperin Dorong IKM Logam Perluas Kemitraan Dengan Perusahaan Otomotif

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menegah dan Aneka (IKMA) meenggelar acara Kick-Off IKM dalam Supply Chain Industri Otomotif Nasional.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi sentra IKM logam Ngingas, Sidoarjo, Jawa Timur

Jumat, 22 Maret 2019 - 18:18 WIB

IKM Siap Berkontribusi dalam Rantai Pasok Industri Otomotif Nasional

Industri Kecil Menengah (IKM) siap berkontribusi dalam rantai pasok industri otomotif nasional yang diwujudkan melalui keberhasilan Koperasi Batur Jaya (KBJ) yang sejak awal Januari 2019 berhasil…