Industri Otomotif Menggeliat, Giliran Dongfeng Mengorek Ceruk Pasar 'Pick Up'

Oleh : Dhiyan H Wibowo | Kamis, 13 Juli 2017 - 10:24 WIB

ilustrasi produk dongfeng motors (dok-Dongfeng motors)
ilustrasi produk dongfeng motors (dok-Dongfeng motors)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Setelah Wuling Motors yang berani mencoba peruntungan untuk bersaing di pasar kendaraan roda empat segmen multi purpose vehicle (MPV), tak mau ketinggalan Dongfeng Motor Corp ikut ingin mencicipi pangsa pasar kendaraan roda empat di Indonesia. Bedanya, Dongfeng hadir dengan kendaraan niaga berupa 'Pick Up'.

Dongfeng Motor Corp sebenarnya punya nama besar di negara asalnya, Negeri Tirai Bambu. Dongfeng Motor Corp merupakan perusahaan manufaktur otomotif milik pemerintah Tiongkok yang berbasis di Wuhan. Saat ini Dongfeng masuk dalam jajaran empat besar perusahaan otomotif di negeri asalnya, di bawah Chang'an Motors, FAW Group dan SAIC Motors. Nama yang terakhir ini bekerja sama dengan General Motors bahkan sudah hadir sejak awal tahun ini di Indonesia lewat produk MPV-nya.

Di Tiongkok, Dongfeng diasosiasikan dengan sejumlah brand mobil yang cukup mapan di sana, sebut saja  Fengshen, Infiniti, Luxgen, dan Venucia. Pada tahun 2014, Dongfeng masuk dalam jajaran produsen mobil terbesar kedua dengan jumlah produksi hingga 3,5 juta unit. Pada tahun yang sama, hasil produksi kendaraan niaga dari Dongfeng tercatat sebagai yang terbanyak dibanding kolega  domestiknya.

Bisnis Dongfeng Motor sendiri di China juga mencakup  produksi suku cadang,  bekerja sama dengan sejumlah perusahaan asing, sehingga membentuk joint ventures seperti Dongfeng Yueda Kia Automobile Co, atau Dongfeng Honda Automobile, serta Dongfeng Peugeot-Citroen.  Sejauh ini sudah ada enam mitra asing yang ia jalin, sebuah kerja sama terbesar yang pernah dijalin oleh manufaktur lokal.

Nah di Indonesia, Dongfeng hadir lewat PT Sokonindo Automobile. Bisa jadi tak banyak yang 'ngeh' dengan kehadiran Dongfeng di pasar Indonesia.  Kendati sejatinya Dongfeng telah hadir sejak dua tahun silam, ketika memulai pengembangan pabriknya di Serang, Banten.

Bicara kehadiran Dongfeng, publik di Jakarta memang baru bisa menyaksikannya jika mereka hadir di event tahunan Jakarta Fair 2017 yang digelar di Arena Pekan Raya JIEXPO Kemayoran hingga pertengahan Juli 2017 ini. Di sana terpajang sepasang pick up bernama Super Cab yang ditawarkan dengan dua pilihan mesin, yakni 1.500 cc bensin dan 1.300 turbo diesel.

Disampaikan Marketing General Manager Sokonindo Automobile Du Xian Jun,  dua kendaraan niaga tersebut menawarkan kelebihan bagi para calon konsumen di Indonesia.  “Selain tersedia dalam dua pilihan mesin, Super Cab juga punya beberapa kelebihan, yakni ruang kabin yang lebih besar," ujarnya kepada media di Kemayoran, Jakarta beberapa waktu lalu.

Indonesia, kata Du Xian Jun, adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi  terbesar di ASEAN, dan kini tengah giat meningkatkan pembangunan.  Tak ciut dengan kehadiran manufaktor Jepang yang kadung telah membentuk hegemoni dari proses produksi hingga rantai distribusi dan layanan purna jual, Du Xian Jun mengemukakan optimismenya bahwa Dongfeng masih akan bisa mencicipi gurihnya pasar otomotif di Indonesia.

Ia pun mengaku bahwa produk Dongfeng di Jakarta telah mendapatkan respons positif. Ia menyebut Sokonindo Automobile telah mengantongi puluhan unit pemesanan.  "Hingga saat ini dalam ajang JFK pesanannya sudah 23 unit. Target dan harapan kami selama pameran bisa terjual sampai 50 unit," ujar Du Xian.

Dipaparkannya,  dari  23 unit yang dipesan, masih didominasi  oleh model termurahnya yang menggunakan mesin bensin 1.500 cc. "Saat ini kami punya 100-200 unit Super Cab,  bukan berarti tidak ada unit karena memang saat ini kami masih dalam tahap uji coba jual. Ke depannya akan kami tingkatkan karena kami punya target 5.000 unit penjualan hingga akhir 2017," ucap Du Xian.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa kapasitas produksi Sokonindo di Banten mampu memproduksi hingga 50.000 unit per tahun. Pabrik yang berdiri pada 2016 l  ini, memiliki empat proses utama dalam mencetak mobil, yakni pengelasan, pencetakan, pengecatan, dan perakitan

Pasokan mesin sendiri, untuk mesin 1.500 bensin diproduksi sendiri dari pabrik Dongfeng di China, sementara yang diesel masih diimpor dari Italia. Kedua pikap ini dipasarkan sebesar Rp 119.990.000 untuk yang bensin, dan Rp 167 juta untuk yang diesel. Namun selama pameran Jakarta Fair ada potongan khusus yang diberikan untuk konsumen, jelas Du Xian.

Ia  menyatakan optimismenya bahwa Indonesia merupakan negara yang punya potensi besar untuk mengembangkan produk-produknya. "Oleh karena itu juga, Sokonindo melakukan investasi untuk membangun pabrik yang moderen dengan sistem keotomatisan serta manajemen dan kualitas yang bagus," katanya.

Sementara itu dalam kesempatan berbeda, Wahono, Manager Marketing PT Sentra Multi Karya selaku  pemegang merek Dongfeng Sokonindo, menuturkan  Dongfeng Super Cab  segera dipasarkan dalam waktu dekat di Indonesia. "Meluncur dalam waktu dekat di Jakarta Fair. Nanti kita akan pasarkan dalam dua pilihan mesin, bensin 1.500 cc dan diesel 1.300 common rail, " kata Wahono seperti dikutip Kompas.

Kelak Dongfeng Super Cab  akan bersaing dengan kendaraan pick up kecil dan menengah yang sudah lebih dulu hadir di Tanah Air. Meski enggan untuk menyebutkan, namun bila dilihat dari sisi spesifikasi maka Dongfeng Supercub akan berhadapan dengan kendaraan pikap dari Tata Motors, Daihatsu, serta Suzuki.

Masih menurut Wahono, dengan proses perakitan yang sudah dilakukan  di Indonesia, maka harga produk Dongfeng akan mampu bersaing  dengan para rivalnya. "Kita sudah produksi sini (Indonesia), kita punya pabrik di Modern Cikande Industrial Estate, Serang, Banten,” imbuhnya.

Sebelumnya, Dongfeng lewat PT Sokonindo Automobile sempat disebut-sebut akan memproduksi mobil segmen MPV, dan akan berhadapan dengan para manufaktur raksasa asal Jepang di Indonesia.

Saat hadir di Indonesia pada tahun 2015 lalu, Sokonindo disebutkan telah membenamkan investasi sebesar US$ 150 juta  atau setara dengan Rp2,01 triliun.

Dengan kapasitas produksi awal  mencapai 50.000 unit per tahun, Sokonindo juga sempat disebutkan akan memproduksi  MPV untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Saat itu  Komisaris PT Sokonindo Automobile,  Alexander Barus mengatakan, produknya nanti akan memiliki harga yang bersaing dengan kompetitor untuk menjaring konsumen kelas menengah. 

"Jenisnya yang akan diproduksi berjenis MPV dengan kubikasi mesin 1.300 cc bermesin diesel dan 1.500 cc untuk mesin berbahan bakar bensin. Sasaran produk ini kami tujukan untuk kelas masyarakat yang berada di kalangan menengah ke bawah. Mobil ini ukurannya akan lebih besar sedikit dari Xenia atau Avanza," ujar Alex saat itu.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Huawei

Senin, 18 Desember 2017 - 15:33 WIB

Huawei Diperkirakan Akan Luncurkan P11 Diawal 2018 Mendatang

Huawei lanjutkan kerjasama dengan produsen kamera asal Jerman , Leica yang akan meluncurkan Huawei P11 yang diperkirakan akan diluncurkan pada awal tahun 2018 mendatang.

Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Ist)

Senin, 18 Desember 2017 - 15:30 WIB

2018, Serangkaian Event Olahraga dan Agenda Pariwisata Bakal Hadir Meriahkan Batam

Selain meningkatkan pariwisata di Kepulauan Riau, Badan Pengusahaan (BP) Batam memiliki beberapa agenda untuk meningkatkan ekonomi terutama dari bidang pariwisata.

ICAEW Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Pesat Sebesar 5,3 Persen di 2018

Senin, 18 Desember 2017 - 15:14 WIB

ICAEW Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Pesat Sebesar 5,3 Persen di 2018

Lapora terbaru Economic Insight: South-East Asia mengungkapkan, prospek perkembangan Indonesia tertahan oleh belanja konsumen yang lesu. Namun, pertumbuhan masih diperkirakan akan naik hingga…

Gedung Bank Indonesia

Senin, 18 Desember 2017 - 15:00 WIB

BI Siap Beri Sangsi Perusahaan Pembayaran Tak Berijin

Bank Indonesia (BI) berkomitmen menjaga perlindungan konsumen dan sekaligus keberlangsungan usaha pada pelaku jasa sistem pembayaran.

Go-Jek (ist)

Senin, 18 Desember 2017 - 14:30 WIB

Bank Indonesia Proses Ijin Akuisisi Gojek

Bank Indonesia (BI) sedang memproses perijinan akuisisi Gojek terhadap dua perusahaan calon jasa sistem pembayaran. Meskipum Gojek bukan pelaku jasa sistem pembayaran tetap harus ijin ke BI.…