Dengan Sojitz, Menperin Bahas Pengembangan Methanol Base di Bintuni

Oleh : Ridwan | Selasa, 11 Juli 2017 - 08:05 WIB

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat bertemu dengan Executive Vice Presiden Sojitz Corporation, Satoshi Mizui
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat bertemu dengan Executive Vice Presiden Sojitz Corporation, Satoshi Mizui

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Perindustrian, Airlanggaa Hartarto mengungkapkan, Selama di Jepang, kami mengadakan pertemuan dengan Executive Vice Presiden Sojitz Corporation, Satoshi Mizui guna meningkatkan investasinya terutama dalam pembangunan industri petrokimia di Bintuni.

"Dengan Sojitz, kami membahas mengenai pengembangan methanol base di Bintuni. Kerana methanol base ini proyek besar, maka dari itu, kami juga mengajak Sijitz untuk kerjasama dengan PT Pupuk Indonesia dan Foresstaal untuk mengelolanya," ungkap Airlangga Hartarto di Jakarta (10/7/2017).

Ia menambahkan, untuk imnvestasinya sedang dibicarakan oleh kedua belah pihak. Sedangkan un tuk pasokan gasnya akan di supplai dari BP Tangguh dan Genting Oil Kasuri.

Sekedar informasi, Sojitz Corporation merupakan perusahaan yang memiliki sejarah sangat panjang. Selama lebih dari 150 tahun bisnisnya telah membantu dan mendukung perkembangan banyak negara dan wilayah.

Saat ini, Group Sojitz terdiri sekitar 400 anak perusahaan dan afiliasinya yang berlokasi di Jepang dan di seluruh dunia. Mereka mengembangkan operasi perusahaan perdagangan umum yang luas di banyak negara dan wilayah. "Salah satu anak perusahaannya di Indonesia adalah PT Kaltim Methanol Indonesia," terangnya.

Seperti diketahui, pada tahun 2016, nilai investasi Jepang ke Indonesia sebesar USD 5,4 miliar atau naik 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai USD 2,9 miliar. Beberapa industri Jepang yang cukup aktif berinvestasi di Indonesia, antara lain sektor otomotif, logam, mesin dan elektronika.

Meski berada di peringkat kelima dunia, namun Indonesia memiliki tantangan di industri petrokimia pada tiga basis produk yaitu olefin, methane, dan aromatic, Sementara itu, Indonesia masih butuh impor untuk kimia dan farmasi. Menurut catatan BPS, Indonesia mengimpor USD 19,03 miliar di tahun 2016, sedangkan eskpornya USD 10,84 miliar. "Kami berharap kerjasama ini bisa terealisasi dengan baik dan tidak akan memakan waktu yang cukup lama," pungkasnya.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kemenpar Tetapkan 100 Event Berskala Internasional (Foto Dije)

Selasa, 26 September 2017 - 14:12 WIB

Kemenpar-Kemenkes Kembangkan Wisata Kesehatan

Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kesehatan sepakat untuk mengembangkan Pariwisata Kesehatan Internasional melalui penandatanganan nota kesepahaman dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas)…

PT Bayu Buana Tbk

Selasa, 26 September 2017 - 14:11 WIB

Bayu Buana Targetkan Penjualan Tiket Rp 70 Miliar Hingga Akhir Tahun

PT Bayu Buana Travel Tbk menargetkan total pendapatan Rp 70 miliar dari penjualan tiket dan paket pariwisata hingga akhir 2017.

Kebun Kelapa Sawit (Ist)

Selasa, 26 September 2017 - 14:07 WIB

Indonesia Siap Pasok Delapan Juta Ton Minyak Sawit ke Eropa

Indonesia siap memasok minyak sawit lestari hingga 8 juta ton ke pasar Eropa untuk memenuhi permintaan di kawasan tersebut yang diperkirakan mencapai 6 juta ton pada 2020.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Kemenperin dok)

Selasa, 26 September 2017 - 14:05 WIB

Menperin Airlangga: Harga Gas Blok Masela Masih Belum Cocok

Pemerintah akan memberikan insentif untuk industri yang akan menggunakan dan membeli gas di Blok Masela. Meski akan diberikan insentif tetap saja belum ada industri yang menyatakan tertarik…

Ilustrasi Apartemen (Ilustrasi)

Selasa, 26 September 2017 - 14:01 WIB

Kebijakan Infrastrutur Pemerintah di Jalur Tepat

CEO dan komisaris perusahaan pengembang Crown Group, Iwan Sunito menyatakan kebijakan di sektor infrastruktur yang dilakukan pemerintah Indonesia sudah berada di jalur yang tepat.