Antisipasi Maraknya Peredaran di Pasar Konsumsi, APTRI Dukung Lelang Gula Kristal Rafinasi

Oleh : Hariyanto | Selasa, 13 Juni 2017 - 11:45 WIB

Gula Kristal Rafinasi
Gula Kristal Rafinasi

INDUSTRY.co.id - Jakarta -  Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mendukung lelang gula kristal rafinasi sebagai solusi atas maraknya peredaran gula rafinasi di pasar konsumsi.

Ketua Umum DPN APTRI, Soemitro Samadikoen mengatakan, meski banyak pihak yang menyatakan bahwa kebijakan tersebut terlalu prematur pihaknya mendukung penuh rencana pemerintah yang seharusnya berjalan pada Juni 2017 tersebut.

"Itu salah satu terobosan baru yang disambut petani adalah digunakannya e-barcode. Dengan mekanisme itu maka bisa dilacak siapa pemilik gula rafinasi tersebut," kata Soemitro di Jakarta, Senin (12/6/2017).

Sebelumnya pemerintah menyebutkan lelang gula kristal rafinasi (GKR) dapat segera dilaksanakan menyusul penetapan PT PKJ sebagai penyelenggara pasar lelang GKR oleh Kementerian Perdagangan melalui Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 684/M-DAG/KEP/5/2017 tentang Penetapan Penyelenggara Pasar Lelang Gula Kristal Rafinasi (GKR).

Ia menilai, tidak ada alasan bagi petani untuk menolak kebijakan sistem lelang GKR tersebut karena pemerintah menjanjikan bahwa industri kecil dan menengah juga bisa membeli dengan skala kecil, dengan besaran kurang lebih sebanyak satu ton.

Pola pembelian semacam ini tidak dimungkinkan dalam mekanisme transaksi GKR saat ini, karena pembelian skala kecil hanya bisa dilakukan melalui distributor. Akibatnya pengusaha kecil akan mendapat harga lebih tinggi dibandingkan industri besar yang bisa bertransaksi langsung ke pabrik.

Sementara itu, Sekjen DPN APTRI Nur Khabsin mencurigai pihak yang menolak kebijakan sistem lelang swasta tersebut mempunyai agenda tersendiri.

"Jangan-jangan pihak yang menolak takut kehilangan pasar karena pemerintah mengeluarkan kebijakan yang membatasi ruang gerak perdagangan gula rafinasi ilegal," ujar Nur.

Menurut Nur, petani sudah sangat dibuat sengsara dengan masifnya perembesan gula rafinasi di pasar konsumsi. Kondisi tersebut selain merusak tata niaga gula nasional juga sangat memukul keuangan petani.

Harga GKR jauh lebih murah dibandingkan gula tebu petani namun unjuk rasa dan pelaporan yang disampaikan DPN APTRI hingga hari ini tidak membuahkan hasil. Dengan adanya perbedaan harga tersebut, banyak GKR yang merembes ke pasar konsumen.

"Semua produsen cuci tangan padahal perembesan hampir merata di setiap daerah. dengan sistem e barcode dalam lelang bisa diketahui asal GKR," kata Nur.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pandu Sastro Wardoyo Pakar Blockchain

Rabu, 18 Juli 2018 - 23:37 WIB

Membaca Peluang Baru di Era Blockchain

Blockchain berasal dari cryptocurrency, sehingga perkembangannya mendapatkan banyak sekali suntikan dana semenjak awal, tanpa harus meminta dari perusahaan atau bank

Vice President of Corporate Communications BMW Group Indonesia Jodie O'tania bersama Presiden Direktur PT Gaya Motor Ary Mariano (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Rabu, 18 Juli 2018 - 20:34 WIB

Perkuat Pasar Kendaraan Premium di Indonesia, BMW Tambah Investasi Hingga Rp20 Miliar

BMW Indonesia secara konsisten terus menerus tingkatkan aktivitas produksinya di Indonesia melalui investasi senilai lebih dari Rp270 miliar sejak tahun 2011 hingga saat ini. Tambahan investasi…

Dirut BTN Maryono (Fot Rizki Meirino)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:50 WIB

BTN Tak Ikut Biaya Divestasi Saham PT Freeport

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk tidak akan ikut menyalurkan kredit ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) untuk membeli 51 persen saham PT Freeport Indonesia.

Rupiah (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:31 WIB

Rupiah Rabu Sore Melemah ke Rp14.414

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu sore, (18/7/2018) ditutup melemah besar 36 poin menjadi Rp14.414 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.378 per dolar AS.

Dirut Bank BNI Achmad Baiquni (Foto Rizki Meirino)

Rabu, 18 Juli 2018 - 19:26 WIB

Januari-Juni 2018, Laba Bersih Bank BNI Tumbuh 16 Persen

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat kenaikan laba bersih 16% menjadi Rp7,44 triliun sepanjang Januari-Juni 2018 dibandingkan dengan realisasi laba bersih di periode yang sama pada 2017…