Citra Merek dan Kreasi Bersama: Analogi Cerita Cinta dan Kisah Patah hati

Oleh : Bintang Handayani | Sabtu, 10 Juni 2017 - 06:21 WIB

Bintang Handayani. (Foto: IST)
Bintang Handayani. (Foto: IST)

INDUSTRY.co.id - Patah hati mengarah pada isu tentang kisah sedih di dalam akhir cerita percintaan, jika bukan cerita tentang kemalangan hati, kekecewaan lah benang merahnya, secara sarkastik dikatakan oleh seorang kawan lama dalam perjumpaan dibandar udara, Agustus hangat menyambut tahun lalu.

Kurang ilmiah namun tepat sangat, membawa observasi saya kali ini merangsang untuk menulis, jika tidak ingin menjadi kurang enak badan, kurang sedap menelan makanan berbuka puasa hari ini. Ya, klasik, cendikia muda dengan segala insekuritas atas akselerasi alam maya yang menawarkan beragam informasi, sampah dan non-sampah... pembentuk dan dibentuk oleh ekosistem nan beragam, sikap khas Manusia dengan sifat & akal atribut ke Manusiaan; silakan anda mengira atau berhitung, jika tak ingin dikira.

Biasanya, Patah hati juga mengarah pada kehangatan emosional; sebuah konsepsi yang menakjubkan dan (biasanya) mengarah pada sisi emosional Manusia, pembentuk atribut entitas sebagai mahluk paling mulia, berbudi luhur, beretika; telah juga diakui oleh umat Manusia sebagai aspek cerita paling menarik nomor 2 setelah konsepsi cerita tentang Keyakinan & Spiritualitas, dan cerita nomor 1 yang mengalahkan cerita spektakuler novel Harry Potter versi generasi 90an; saya, kami, dan mungkin anda juga telah terterpa dan diterpa oleh cerita-cerita klasik nan menggugah aspek emosional.

Sedikit ekstrim, cerita cinta dan kisah patah hati adalah pemenang dan pemimpin dalam spektrum bisnis dan non-bisnis. Mari melihat cerita cinta dan kisah patah hati dari sudut pandang ilmu bisnis, saya ingin berbagi cerita ini dengan mengambil aspek cerita tentang citra merek dan kreasi bersama. 

Mencintai dan dicintai dalam konteks bisnis berkaitan erat dengan kepercayaan dan kemurnian atas hakiki komitmen menjadi sesuai dengan janji-janji (baca: promosi) yang telah dipaparkan kedalam visi dan misi. Visi dan misi diibaratkan sebagai gambaran yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Disisi lain, misi adalah hakekat untuk bagaimana mencapai tujuan.

Mencintai adalah bagian dari kata aktif, mencerminkan kebesaran hati dan kemampuan jiwa untuk menerima apa adanya atribut entitas, yang dalam hal ini berkaitan dengan penumbuhan rasa penerimaan dan pengakuan untuk suka hati atas kekurangan, atas ketidaktepatan menjadi murni dan autentik.

Bertolak belakang dengan konsepsi mencintai, kata “dicintai” merupakan kata pasif, mengindikasikan kebesaran hakekat entitas atas kualitas yang melekat dengan atribut “lebih baik”, dapat diandalkan, dan kejujuran murni, jauh dari siasat akal untuk mengakali.

Atribut entitas  tersebut dipandang sebagai standarisasi untuk ukuran posisioning. Dalam ilmu bisnis, konsepsi mencintai dan dicintai berkaitan erat dengan tingkatan citra merek atas entitas produk atau jasa yang selayaknya. Tingkatan citra merek atas entitas produk atau jasa yang dibentuk oleh visi dan misi ini terbingkai menjadi profil dan menjadi atribut yang melekat dengan entitas.

Untuk kemudian mengubah konsepsi mencintai dan/atau dicintai berkisar atas kesesuaian kemurnian janji dengan aplikasi gelagat sikap dan tingkah laku. Hal yang paling mencerminkan kemurnian janji dengan aplikasi gelagat sikap dan tingkah laku entitas produk dan/atau jasa dalam konteks bisnis adalah projeksi personal lini depan (contact personnels) sebagai kontributor utama. Namun demikian, komitmen atrifisial organisasi yang menyediakan produk atau jasa juga memiliki kontribusi untuk membentuk kemurnian janji untuk kemudian menjadi profil, untuk menjadi citra merek. Pembentukan dan pengukuhan citra merek dapat juga dilahirkan dari konsepsi publik (baca: konsumen/konsumer) yang “mencintai” entitas produk dan jasa.

Observasi studi terkini mengindikasikan bahwa jasa perbankan yang mengandalkan projeksi personal lini depan sebagai kontributor utama pembentuk citra merek, dan personel lini belakang & sistem terpadu yang membentuk kakekat utama kualiti, juga dapat memberikan pengukuhan citra merek negatif atas ketidaksesuaian projeksi kemurnian janji dengan aplikasi gelagat sikap & tingkah laku yang disebabkan oleh aspek-aspek tersebut.

Tidak mengklaim kebenaran hakiki, beberapa kasus-kasus kasat mata adalah ketidaksesuaian tersebut tergambar dari contoh antrian panjang dari beberapa kantor pusat pemerintah dan swasta yang mengelola jasa. Begitu banyaknya nasabah bank, namun kaunter yang terlihat kasat mata 5-10 kauter tidak dibuka semua untuk aktif melayani nasabah/konsumen.

Hal lainnya yang terlihat jelas adalah sistem berbasis online yang kurang friendly user dan kurang efisien, biasanya nampak jelas dari pengelolaan websites yang jauh dari keterkinian informasi dan cenderung terlalu banyak langkah-langkah klik sana-klik sini, memakan masa untuk hal yang sepatutnya didapat dengan cepat dan akurat.

Dalam spektrum bisnis lain yang banyak memberikan pengukuhan atas studi terkini adalah kecenderungan atas ketidaksesuaian janji dengan komitmen yang murni. Contohnya, penyediaan air minum dan pelayanan atas fasilitas umum. Ketidaksesuaian janji dengan komitmen yang murni ini dimaknai dengan kesungguhan yang setengah hati oleh penyelia jasa dan produk.

Dengan mengatakan perduli terhadap konsumen, perduli pada lingkungan, namun projeksi aplikasi gelagat sikap dan tingkah laku yang dilakukan melalui ketersediaan produk kasat mata cenderung jauh dari sifat “murni” dan autentik. Sifat “murni” dan autentik misalnya penyediaan fasilitas air minum di area umum, namun air yang disediakan jauh dari higienitas dan sanitasi.

Studi menunjukkan sifat setengah hati bukan hanya menjadi prediktor dari Patah hati, namun juga menjadi pemicu berkurangnya rasa cinta, yaitu hakekat tingkatan mencintai menjadi berkurang atau malah menjadi hilang. Tragis, tingkatan mencintai dapat bukan hanya menjadi pembentuk rasa benci tetapi juga menjadi pemicu ketiadaan konsepsi kreasi bersama.

Kreasi bersama merupakan fenomena tidak terelakkan yang selari dengan perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi. Dalam spektrum ini, kreasi bersama juga akan bukan hanya dapat memupuk rasa cinta, yang tercipta dan diciptakan oleh publik/konsumen yang memiliki rasa/level cinta dan minat yang sama, namun juga akan dapat memadamkan rasa cinta, yang tercermin jelas dari ketidakelokan eskpresi Patah hati.

Tidak kalah benar, eskpresi Patah hati bukan hanya memadamkan rasa, untuk kemudian menjadi antipati, dan lebih memilih untuk menghindar, untuk menjadi senyap tidak bergeming, dan tidak ingin berhubungan kembali, namun juga fatalnya dapat memengaruhi publik lainnya; karena cinta adalah aspek emosional Manusia yang paling hebat dan seperti kita ketahui, seorang Manusia memiliki relasi dengan Manusia lain (baca: memiliki famili, kerabat, handai tolan, dan teman-teman).

Singkatnya, jika ada seorang Manusia yang Patah hati, beberapa Manusia lainnya akan dirundung duka. Akibatnya,  kreasi bersama yang pada abad ini dianggap paling hebat dalam memengaruhi rasa cinta, dapat (jika tidak) memadamkan rasa cinta juga akan membentuk citra merek yang negatif. Untuk itu, saya menggalakkan untuk tidak membuat orang Patah hati.

Bintang Handayani, Ph.D adalah Dosen dan Peneliti Senior di President University, Cikarang, Indonesia. Kajian penelitiannya berkisar pada Pencitraan Pariwisata Gelap, Penggunaan Teknologi pada situs kematian, Citra Merek Pelancongan dan Personifikasi Bangsa, serta studi Media & Komunikasi.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Bank Mandiri Syariah (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 23 Januari 2018 - 22:14 WIB

Bank Mandiri Syariah Berharap Dapat Ruang Besar Untuk Biayai Infrastruktur

Jakarta-Bank Mandiri Syariah mengharapkan diberikan ruang yang cukup lebar untuk terlibat pada pendanaan proyek-proyek infrastruktur yang digagas pemerintah.

Menperin Airlangga Hartarto beserta Dirjen IKTA Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono saat mengunjungi pabrik mainan PT Mattel Indonesia (Foto: Humas)

Selasa, 23 Januari 2018 - 21:55 WIB

Menperin: SNI Wajib Mainan Hanya Untuk Korporasi, Bukan Personal

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menegaskan, SNI wajib mainan berlaku untuk korporasi yang akan melakukan penjualan atau distribusi di Indonesia.

Komunitas Lari BAZNAZ. (Dok. Industry.co.id)

Selasa, 23 Januari 2018 - 21:47 WIB

Kampanye BAZNAS Merambah ke Komunitas Lari

Dalam rangka perayaan milad Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ke-17, BAZNAS meluncurkan program Baznas Runner pada Minggu (21/1). BAZNAS Runner adalah komunitas lari yang memiliki visi yaitu…

Asisten Deputi Bidang Asuransi, Penjaminan dan Pasar Modal pada Deputi Bidang Pembiayaan, Kementerian Koperasi dan UKM, Willem Halomoan Pasaribu dalam acara Sosialisasi Program KUR perdana tahun 2018 di Pekanbaru, Riau, Selasa (23/1/2018).

Selasa, 23 Januari 2018 - 21:43 WIB

Pemerintah Tetapkan Pagu Anggaran Subsidi KUR 2018 senilai Rp 13.66 T

Pada tahun 2018 ini, pemerintah terus menunjukkan keberpihakan kepada usaha mikro, kecil dan menegah untuk meningkatkan akses pada sumber pembiayaan. Target alokasi penyaluran KUR bertambah…

baznaz pecahkan rekor muri

Selasa, 23 Januari 2018 - 20:38 WIB

Disaksikan BAZNAS, Infak PNS "5 Menit Rp 622 Juta" Pecahkan Rekor Muri

Disaksikan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, menorehkan "tinta emas" di Museum Rekor Indonesia (Muri). Pemecahan rekor yang telah ditandatangani…